Kolom IBRAHIM ISA
-----------------------------------
Selasa, 11 September 2007.


MURIDAN  DAN TESIS PAPUA-MALUKU

Hari Rabu   -   12 September 2007,  (Kukira)  mestinya  adalah hari
yang  p e n t i n g  dalam kehidupan intelektual sahabatku,
cendekiawan muda Indonesia,  MURIDAN S. WIDJOYO.  Karena besok siang,
 . . . .  untuk praktisnya, sebaiknya dikutip saja di  bawah ini
undangan yang dikirimkan  Muridan  kepadaku: (Dalam bahasa Inggris)

Defence Invitation

You are cordially invited to
the public defence of the PhD thesis

Cross-Cultural Alliance-Making and Local Resistance
in Maluku during the Revolt of Prince Nuku, c. 1780-1810

by

Muridan Satrio Widjojo
on Wednesday 12 September 2007, at 15:00 to 16:00,
at Lokhorstkerk, Pieterskerkstraat 1, 2311 SV Leiden,
Ph. 071-512 3392.

The reception will be held on the same day at 16:00 to 18:00 at
Clusius Café, Hortus Botanicus, Rapenburg 73, 2311 GT Leiden,
Ph. 071-527 7249.

*   *   *

Jadi, besok itu,  -----  antara jam 15.00 dan jam 16.00 Muridan akan
mempertahankan  tesisnya di Universitas Leiden untuk gelar PhD.
Tentu,  semakin banyak cendekiawan Indonesia, dari generasi muda, yang
 menambah  dan meningkatkan pengetahuan mereka di Indonesia maupun di
luarnegeri,  berarti bertambah pula jumlah cendekiawan bangsa kita.
Perkembangan ini membesarkan hati kita sebagai orang Indonesia.
Setiap harinya entah berapa banyak cendekiawan Indonesia yang
menyelesaikan  studinya dengan baik. Suatu perkembangan yang amat
perlu diperhatikan pemerintah dan memperbesar lagi jumlah anggaran
pendidikan negara.  Supaya  negara menkonsekwenkan janji-janji yang
menyatakan memperhatikan masalah pendidikan bangsa.

Kemajuan suatu bangsa, dalam arti penting tergantung pada  jumlah dan
kemampuan kaum cerdik pandainya mengabdikan  hasil studi dan
penelitiannya untuk kepentingan kemajuan dan pertumbuhan  kekuatan
ekonomi, politik dan budaya bangsa itu.

Berhasilnya Muridan S Widjoyo menyelesaikan  postgraduate study-nya di
Leiden, seyogianya disambut dengan gembira. Hal tsb juga merupakan
dorongan bagi mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang dalam jumlah besar
sedang menempuh studinya di  Amsterdam, Leiden, Utrecht, Delft,
Wageningen, Groningen, Rotterdam dan perguruan tinggi lainnya di Belanda.

Studi Muridan S Widjoyo memang bagiku agak istimewa.
Ini disebabkan oleh tema, ---  oleh masalah yang  diangkat dan
dijadikan bahan studinya. Yaitu latar belakar sejarah Papua dan
Maluku. Ini penting sekali. Agar dalam menelaah masalah Papua dan
Maluku, dan kasus-kasus lainnya, tidak sekadar atas dasar apa yang
terjadi di masa kini. Yang sering  menjadi ramai dibicarakan
semata-mata karena kasus simbolik semata, seperti dikirbarkannya
bendera Papua, dsb.

Diharapkan dalam  meninjau dengan seksama masalah Papua, ditinjau dan
diteliti pula latar belakang sejarahnya.  Hal ini teramat penting bagi
politisi yang sering mengedepankan dan mengangkat sesuatu kasus
daerah,   banyak terdorong oleh kepentingan politik seketika dari
parpol-parpol yang bersangkutan. Lebih-lebih lagi  dilakukan tanpa
mempelajari dengan seksama inti masalahnya. Hal ini lebih-lebih lagi
perlu diperhatikan bila masalahnya menyangkut kasus daerah, seperti
Papua, Maluku , Aceh dan lain-lain.

Yang mendorong  Muridan mengapa ia memilih tema ini,  dijelaskannya
sbb:

Konflik-konflik yang ada di antara masyarakat sekarang ini mendorong
saya untuk melihat bagaimana sebetulnya konfigurasi masyarakat
Indonesia Timur pada masa lalu.

Seperti yang dinyatakan dalam penjelasan Muridan,  tesisnya menyangkut
perjuangan lama yang dilakukan oleh kaum pemberontak Maluku dan Papua
melawan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) dalam periode antara
kira-kira 1780 - 1810, yang berlangsung di bawah pimpinan Pangeran
Nuku dari Tidore.  Dengan bantuan orang-orang Inggris kekuatan
perjuangan  Maluku dan Papua Nuku berhasil merebut kembali kesultanan
Bacan dan Tidore, yang ketika itu ada di bawah perlindungan Belanda.

Selanjutnya,  tulis Muridan dalam 'Korte Samenvatting' dari tesisnya:
 -- Salah satu dari konklusi penting desertasi ialah bahwa sukses
pemberontakan tsb tidak  seharusnya dikemukakan sebagai hasil terutama
oleh konstruksi ideologi Maluku dan  pengikutnya, seperti dikemukkakan
oleh historikus L.  Andaya. Sukses tsb terutama disebabkan  oleh
kenyataan bahwa  Nuku dalam kampanyenya, secara optimal mampu
menggunakan kekuatan pejuang-pejuangnya, kaum perampok Papua dan
Gamrange, dan bersamaan dengan itu  secara maksimal menggunakan
kapasitas logistik  kaum pedagang Seram Timur. Terlebih lagi Nuku
dapat dengan  pandai  mengikat orang-oarng Inggris dan  menggunakan
para 'country traders' itu untuk kepentingan tujuannya
sendiri.(terjemahan bebas dari bahasa Belanda - I.I.).

Dalam kesempatan lain Muridan menyatakan bahwa  ---  'Desertasi ini
akan menunjukkan bahwa gerakan-gerakan rakyat yang ada sekarang ini
sudah ada sejak lama, bahkan sejak abad XVII. Jadi sebetulnya
aspek-aspek dasar dari gerakan-gerakan kerakyatan bisa terlihat dari situ.

Bicara tentang  masalah Papua  dewasa ini,  menyangkut masalah
identitas Papua, dikatakan Muridan a.l.  :  Problemnya adalah
identitas itu bisa bersifat objektif atau subjektif. Ketika menjadi
identitas subjektif seringkali menjadi audiological screen atau
sebagai alat yang dipakai untuk melihat apa sebetulnya yang ada di
balik pemikiran seseorang ketika dia berbicara tentang ke-Papuaan yang
asli atau tentang Islam dan Kristen.
Sebenarnya apa yang ada di kepala mereka itu adalah proyek bisnis
keamanan saja. Ada proyek-proyek yang memang mempunyai kepentingan
ekonomi dan politik tersendiri di sana. Itu yang harus dibongkar.

Begitu juga di Papua, ada masalah separatisme, ada masalah pendatang
dan asli, tapi sebetulnya yang ada di belakang itu adalah perebutan
sumber daya. Itu yang harus diverifikasi sehingga kita memahami
masalah konflik-konflik yang sekarang dan juga konflik-konflik
vertikal dan horizontal yang ada di Indonesia Timur. Betul-betul
melihat bahwa sumbernya ada pada persoalan ekonomi dan politik.
(Wawancara Muridan  yg disiarkan dalam Papua Watch -- 30 April 2005.)

*   *   *

Apa yang disinggung di atas mengenai tesis Muridan,  adalah  sebagian
kecil saja. Sekadar untuk mendapat gambaran umum tentang apa yang akan
dikemukakannya besok itu.  Hanya sebagai pemula saja. Isi dari
tesisnya  jauh lebih luas dan lebih dalam.  Yang paling baik adalah
mendengarkan dan membaca sendiri  tesis Murian dalam kesempatan lain.

Mudah-mudahan  pengalaman dan hasil studi Muridan S. Widjoyo  akan
menjadi penggugah bagi kaum terpelajar kita, khususnya dari generasi
muda, untuk lebih baik lagi mempelajari masalah daerah dan latar
belakar sejarah suku-suku bangsa Indonesia yang  bersatu dalam satu
nasion Indonesia. Hanya dengan cara ilmiah dan bijaksana,  Indonesia
akan mampu menemukan solusi sebaiknya atas kasus-kasus yang menyangkut
 daerah.

Agar  kasus-kasus daerah , tidak disalah-gunakan oleh siapapun, untuk
menyulut  dan mengobarkan separatisme dan dengan demikian membahayakan
eksistensi  dan kesatuan serta persatuan Indonesia sebagai bangsa dan
negara .

Kita tutup tulisan singkat ini dengan  MENGUCAPKAN SELAMAT dan SUKSES
kepada Muridan.

*   *   *










Kirim email ke