RIAU POS
      11 September 2007 Pukul 09:38 
     
      Terancam Tak Terbang, Sudah di-"Black List"  
      Laporan Nuke Fatmasari, Pekanbaru [EMAIL PROTECTED] This email address is 
being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it 


      Semua maskapai penerbangan di Indonesia, termasuk PT Riau Airlines (RAL) 
harus memenuhi standar kategori satu sebelum akhir tahun 2008 berdasarkan 
regulasi Civil Assossiation of Safety Regulation (CASR). Bila RAL tak mampu 
memenuhi standar kategori satu itu, RAL tidak boleh terbang. 


      Saat ini, berdasarkan penilaian yang telah dilakukan Direktorat Jenderal 
(Dirjen) Perhubungan Udara terhadap RAL, maskapai kebanggaan masyarakat Riau 
ini hanya mampu memenuhi kategori dua dengan nilai 120. Untuk bisa masuk 
kategori satu, RAL harus mendapat nilai di atas 162. Ada 22 paramater yang 
dinilai Dirjen Perhubungan Udara, diantaranya kelayakan spare part, equipment, 
sertifikasi, flight folowing dan standar safety lainnya. 

      Demikian penjelasan yang disampaikan Direktur PT RAL Ir H Heru Nurhayadi 
MM didampingi dua staf RAL Sutito Zainuddin dan Rosa disela-sela Rapat Umum 
Pemegang Saham (RUPS) RAL yang digelar Senin (10/9) di Grand Jatra Hotel. 
Selain para pemegang saham RAL, RUPS ini juga diikuti oleh PT Bhakti 
Investastama Group, yang berminat menyuntikkan modal untuk RAL.

      Menurut Heru, dari 22 parameter yang dinilai, RAL masih lemah di spare 
part. ''RAL bahkan pernah kena tilang akibat masalah spare part yang tidak bisa 
diganti. Padahal sudah sepantasnya untuk diganti karena masa waktu 
penggantiannya sudah ditetapkan,'' jelas Heru. Di Eropa, tambah Heru, RAL 
bahkan sudah di-black list karena belum mampu memenuhi standar keselamatan 
penerbangan untuk kategori satu.

      Untuk bisa memenuhi standar kategori satu untuk masalah safety 
penerbangan, maskapai yang mengaku kekurangan kecukupan modal tersebut hanya 
bisa diselamatkan dengan bantuan tambahan suntikan dana sebesar Rp36,3 miliar 
dari para pemegang saham hingga akhir Maret 2008. 

      Para pemegang saham diharapkan bisa memberikan suntikan dana itu sesuai 
dengan persentase komposisinya masing-masing. Misalkan, untuk Pemerintah 
Provinsi Riau, mereka harus menyuntikkan dana sebesar Rp12,3 miliar. 

      Menurut Heru, meminta bantuan tambahan suntikan dana dari para pemegang 
saham yang didominasi oleh pemerintah daerah itu, memerlukan waktu dan proses 
birokrasi yang cukup panjang. Selain harus dianggarkan, rencana penambahan 
bantuan dana itu juga harus mendapat persetujuan dari pihak DPRD di 
kabupaten/kota atau di provinsi. Sementara, di sisi lain, RAL perlu 
diselamatkan segera sebelum Dirjen Perhubungan Udara akhirnya memutuskan RAL 
tidak boleh terbang.

      Heru juga menjelaskan ketidak-seimbangan antara modal dan hutang RAL. 
''Perbandingan hutang RAL dengan modal sudah 160 persen. Idealnya harus 80 
persen tapi karena hutang RAL lebih dominan daripada modal, maka persentasenya 
perbandingannya cukup besar. RAL juga perlu kecukupan modal lagi sebesar Rp80 
miliar,'' papar Heru. 

      Sementara Bahagian Keuangan RAL Rosa menambahkan, jangankan untuk meminta 
suntikan tambahan dana, komitmen untuk membantu Rp30 miliar masih ada yang 
belum dipenuhi oleh para pemegang saham. Sampai kini, baru 60 persen dari para 
pemegang saham di kabupaten/kota se-Riau yang menyetorkan dananya. Selebihnya 
masih belum.

      Soal siapa-siapa saja pemegang saham yang belum menyetorkan dana, Rosa 
cuma menjawab singkat, ''Tidak etis kalau sampai saya sebut namanya,'' ungkap 
Rosa.

      Sementara Chief Financial Officer PT Global Transport Services (group PT 
Bhakti Tama Investasi), Erwin, mengatakan bahwa pihaknya menunggu keputusan 
para pemegang saham RAL. ''Kami serahkan sepenuhnya pada pemegang saham,'' 
singkatnya.

      Sementara itu, selama RUPS, para pemegang saham baru sampai pada 
keputusan perlunya segera dipenuhi Kategori Satu untuk menyelamatkan RAL dan 
demi menjaga nama baik maskapai kebanggaan Riau ini. Keputusan lain yang 
diambil rapat adalah rencana usulan membeli dua unit Fokker 50 yang sampai 
sekarang masih berstatus sewa. Untuk pembelian dua unit Fokker 50 yang masa 
sewanya habis pada Oktober 2007 ini, RAL harus melakukan peminjaman modal 
kredit ke lembaga perbankan sebesar Rp80 miliar. Usulan pembelian pesawat 
Fokker ini muncul setelah dilakukan proses hitung-hitungan antara penyewaan dan 
pembelian. Bila disewa, RAL harus membayar Rp165 ribu Dollar AS per bulan ke 
Aero Century sedangkan bila dibeli, RAL bisa menghemat 25 ribu Dolar AS per 
bulan. Selain itu, Fokker 50 yang dibeli tersebut juga akan menjadi asset RAL. 
''Keputusan jadi membeli atau tetap sewa ini akan dibahas pada Juni 2008. Jadi 
sampai dengan masa itu, RAL akan perpanjang masa sewa,'' kata Heru.

      Pilihan Alternatif
      Bila sampai akhir tahun 2008, RAL belum bisa memenuhi standar kategori 
satu untuk aturan keselamatan penerbangan, maka maskapai kebanggaan masyarakat 
Riau ini konsekuensinya bakal tidak bisa terbang lagi. Padahal, maskapai ini 
didirikan oleh ''keringat'' masyarakat Riau yang disumbangsihkan melalui 
penyertaan modal ke RAL.

      Untuk menyelamatkan nama Riau Airlines, RAL punya opsi kedua yakni 
menerima investasi dari PT Bhakti Investama Group sebesar Rp90 miliar. Bantuan 
sebesar Rp90 miliar itu diluar ketentuan yang sudah pernah ditetapkan para 
pemegang saham, yang mana investor hanya bisa ikut serta pada porsi 40 persen 
saja.     Untuk porsi 40 persen-perusahaan dengan group RCTI, SCTV, Indovision, 
Koran Sindo dan lainnya itu- cuma boleh ikut serta maksimal sebesar Rp54 miliar 
atau Rp74 miliar bila para pemegang saham yang lain sudah menyuntikan dana lagi 
sebesar Rp36,3 miliar.

      ''Pertanyaannya perusahaan itu mau atau tidak? Padahal, sinergi yang 
dilakukan dengan investor (bila yang bersangkutan jadi menanamkan modalnya, 
red) bukan hanya sebatas modal tetapi juga networking. Investor ini punya 
jaringan yang kuat, marketing yang bagus dan manajemen yang profesional. Satu 
hal yang jelas, investor bisa menyelamatkan nama Riau Airlines,'' kata Direktur 
PT RAL Ir H Heru Nurhayadi pada Riau Pos malam tadi.

      PT Bhakti Tama Investasi Group dari semula sudah punya rencana untuk 
membeli 25 unit pesawat dan mengembangkan sayapnya sampai ke Pulau Sumatera. 
Perusahaan ini melirik RAL dikarenakan RAL sudah punya rute dan sudah eksis. 
Jikapun nantinya keinginan untuk menanamkan investasinya tidak disepakati, 
perusahaan ini dengan maskapainya tetap akan masuk ke Riau dan menjadi pesaing 
RAL. ''Kalau mereka (PT Bhakti Investama Group, red) kita gandeng maka mereka 
juga bisa kita sinergikan sehingga nama RAL akan tetap eksis dan bahkan lebih 
membanggakan dan lebih meng-nasional. Saya pikir ini sesuatu yang membanggakan 
bagi daerah. Kebanggan ini hendaknya jangan menjadi sebuah ketakutan bagi 
daerah,'' kata Heru lagi.(uli)

     

Kirim email ke