http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=306605&kat_id=248

Selasa, 11 September 2007  20:20:00


Indonesia Perlu Belajar dari India dalam Sediakan Buku Literatur Murah


Brisbane-RoL--  Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus 
Sartono, MBA, menyampaikan kepuasannya atas selesainya penyelenggaraan 
Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007 di Sydney, pekan lalu, 
yang antara lain merekomendasikan perlunya ketersediaan buku-buku bacaan dan 
literatur internasional terbaru dengan harga murah di Tanah Air.

Kepada antara yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa, Agus mengatakan, 
rekomendasi KIPI yang diikuti sekitar 220 utusan Persatuan Pelajar Indonesia 
(PPI) dari Belanda, India, Italia, Jepang, Malaysia, Mesir, Australia itu akan 
sangat mendukung upaya meningkatkan minat baca anak-anak dan pelajar di Tanah 
Air.

"Dalam hal ini, India adalah salah satu contoh negara yang berhasil dalam 
penyediaan buku-buku dan literatur berharga murah ini. Melalui publisher 
(penerbit) internasional yang bekerja sama dengannya, India mencetak buku-buku 
referensi asing di dalam negeri dengan harga yang murah. Hal ini tentu sangat 
mendukung upaya meningkatkan minat baca anak anak dan pelajar," katanya.

Agus mengatakan, dari KIPI 2007 yang berlangsung di kampus Universitas New 
South Wales (UNSW) pada 8-9 September itu, terungkap pula pandangan bahwa 
Indonesia bisa belajar dari pengalaman India dalam memanfaatkan "brain drain" 
untuk memajukan negaranya. Sebagian peserta konferensi bertema "Membangun Daya 
Saing Bangsa:  Menetap di Luar Negeri atau Kembali ke Tanah Air" itu justru 
melihat Indonesia bisa belajar dari India yang memiliki lebih dari 200 
assosiasi di luar negeri, katanya.

"India bahkan memanfaatkan potensi warga India di luar negeri. Oleh karena itu 
Indonesia harus memanfaatkan jejaring pelajar Indonesia di luar negeri dan 
tidak perlu ada dikotomi antara tinggal di luar negeri dengan nasionalisme," 
katanya. Terkait dengan masalah ini, para peserta KIPI juga melontarkan 
pemikiran tentang perlunya mengotimalkan peran dan jejaring pelajar Indonesia 
di luar negeri. 

Mereka juga merekomendasikan perlunya memberikan insentif berupa pembebasan 
biaya fiskal kepada para pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, dan 
menghidupkan kembali pinjaman siswa (student loan) mengingat semakin mahalnya 
biaya pendidikan sehingga tidak semua putra bangsa yang cerdas mampu 
melanjutkan studinya.  Peserta KIPI 2007 juga merekomendasikan agar pilihan 
pelajar untuk tetap bekerja di luar negeri tidak disikapi secara negatif atau 
pun ancaman terjadinya "brain drain", katanya. "Pertanyaan yang menggelitik 
sempat terlontar. 

Jika mampu mengekspor tenaga terdidik lebih banyak mengapa tidak dilakukan? 
Karena selain mendatangkan devisa, (pengiriman lebih banyak tenaga kerja 
terdidik itu) juga dapat menghilangkan 'stereotyping negative' (anggapan 
negatif) tenaga kerja Indonesia akibat massifnya pengiriman tenaga kerja 
Indonesia (TKI)." "Rekomendasi yang penting lainnya adalah Pemerintah diminta 
tidak lagi memberikan apresiasi yang lebih tinggi kepada ekspatriat (pekerja 
asing) dibanding dengan tenaga kerja dan ahli domestik meskipun kemampuannya 
sama," katanya.

Agus selanjutnya mengatakan, masalah strategis lain yang perlu mendapat 
perhatian adalah soal perlunya penyederhanaan proses penyetaraan ijazah lulusan 
luar negeri karena selama ini, alumni luar negeri sering mengalami kesulitan 
dalam mendapatkan penyetaraan gelar akademik yang diperoleh.  "Mengapa proses 
penyetaraan ijazah ini tidak diserahkan saja kepada Atase Pendidikan dan 
Kebudayaan RI di masing-masing negara?" tanya Agus.

Para peserta KIPI 2007 juga mengusulkan perlunya urusan perguruan tinggi 
dilakukan oleh departemen tersendiri dan urusan pendidikan dasar serta menengah 
dikelola tersendiri.  Dengan demikian pengelolaan pendidikan akan lebih 
terfokus, katanya. Ketersediaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari 
APBN, serta pendanaan untuk kegiatan riset juga merupakan rekomendasi penting 
lainnya yang dihasilkan dari KIPI 2007, katanya.

Mengenai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menerima para peserta 
KIPI 2007 di Hotel Four Seasons Sydney tempatnya menginap selama mengikuti 
pertemuan puncak Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Agus mengatakan, 
arahan Kepala Negara tentang nasionalisme tidak harus diartikan secara sempit 
patut diperhatikan. 

"Nasionalisme tidak bisa diukur dengan keberadaan seseorang. Artinya pilihan 
untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya atau tetap bekerja di 
luar negeri dalam kaitannya membangun daya saing bangsa tidak perlu 
diperdebatkan apalagi dikaitkan dengan wacana nasionalisme," katanya.

Dalam acara pertemuan para peserta KIPI 2007 dengan Kepala Negara yang 
berlangsung di "Ballroom" Hotel Four Season itu, hadir antara lain Menlu Nur 
Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Radjasa, Menpora Dr. Adhiyaksa Dault, Menteri 
KLH, Ir. Rachmat Witoelar, Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu T.M Hamzah 
Thayeb, Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo, serta ibu Lastry Thayeb dan 
sejumlah staf KBRI Canberra. antara/mim 

Kirim email ke