Maaf, saya muak membaca postingan pengecut yang bersembunyi di balik nama "Atadiken", yang dalam bahasa Lamaholot berarti orang atau manusia. Tak ada gunanya anda menggunakan ayat-ayat suci untuk membela pahlawanmu, mantan bupati Felix yang kini sedang menghadapi gugatan korupsi, dan memfitnah Romo Amanue yang oleh mayoritas orang Flotim dihormati sebagai pejuang kepentingan rakyat.
Salam, Frans Padak Demon Solidaritas Flores Timur <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Please visit: http://groups.yahoo.com/group/solidaritas_flotim --------------- Romo Frans Amanue, Pr ; Di Balik Jubah Imamat <http://www.google.com/search?q=Romo+Frans+Amanue&btnG=Search&hl=en&client=opera&rls=en> Kalau mau mengakui, setiap orang pasti pernah merasa kagum dan simpati terhadap orang lain yang dijumpainya, entah apapun alasannya. Hal ini saya katakan dari pengalaman harian perjumpaan seorang pribadi yang kini masih segar dalam ingatan. Apalagi ditengah porak-porandanya reformasi, hadirlah seorang tokoh yang memproklamirkan dan diproklamirkan dirinya sebagai pahlawan kebenaran, dan keadilan, menyuarakan suara umat/ masyarakat yang tidak bersuara. Memandang tubuh kekar, tinggi, tegap dihiasi dengan ubanan yang kurang terurus, murah senyum mengundang simpati, membangkitkan ingatan saya pada tokoh perjuangan Irian Jaya Theo Waylloy yang akhirnya tewas mengenaskan sebelum cita-cita perjuangannya tercapai. Ya, dialah sosok Rm Frans Amanue, Pr tipe India kelahiran Karing-Adonara Timur, yang sangat berani mengontrol segala kebijakan pemerintah khususnya pemerintahan daerah kita tercinta, Flores Timur. Pengontrolan pemerintahan yang dilakukannya tidak cukup kalau kadar demonstrasi hanya sekedar tontonan masyarakat dan pegawai dalam kota, tetapi perlu diekspous melalui media massa dan surat kabar agar dunia tahu bahwa di Flores Timur sedang terjadi perang dingin melawan penindasan kebenaran dan keadilan. Sementara runtuhnya budaya saling menghormati dan menghargai satu sama lain yang merupakan ciri khas orang Lamaholot, terpatri pula didalamnya wacana komitmen yang diperjual belikan, maka tampillah Amanue membawahi suara Komisi Keadilan Keuskupan Larantuka. Semakin hangatlah perseteruan dan persekongkolan antara yang menyebut dirinya FRF dan Komisi Keadilan dengan pemerintah Flores Timur. Dengan bermodalkan berbagai dalih dan dukungan baik dari dalam maupun dari luar tentang perjuangan kebenaran yang dibenarkan, keadilan yang diadilkan dan menyuarakan karena disuara, maka hilanglah kontrol dari kepala yang menguban. Dan saat ini kebenaran diperjuangkan dengan berbagai macam dalih untuk dipasalkan. Haruskah kebenaran itu dinyatakan dalam adu argument untuk kemudian diputuskan kemudian, ataukah kebenaran itu dinyatakan dengan hati nurani? Kekagumanku akan sosok imam Tuhan yang dengan gigih membela rakyat dengan mengumandangkan reformasi total regim orde baru, sirna ketika suatu kenangan panjang yang menghiasi perjalanan pendidikan di Flores Timur kurang lebih lima tahun. Ternyata di balik jubah Imamat Frans Amanue, bertahtalah iblis dendam, dengki, iri hati, sombong, egoisme. Betapa tidak, ketika menjadi Ketua Panitera Yayasan Persekolahan Umat Katholik Flores Timur (Yapersuktim), Amanue telah membangun perseteruan dengan Yakobus Kia selaku Kepala Dinas Pendidikan tempo itu. Sekolah-sekolah Katholik yang tersebar di Flores daratan, Solor, Adonara, dan Lembata yang dari keberadaannya telah menjadikan ratusan ribu manusia Flores Timur terbebas dari kebodohan dan keterbelakangan. Atas jasa-jasanya, pemerintah bukannya mengambil-alih tetapi bersubsidi dengan menempatkan guru-guru negeri dan memfasilitasi sarana dan prasarana pendidikan. Tetapi, justru menjadikan suatu pertikaian panjang dan menyebalkan. Dan yang menjadi �korban� adalah orang tua, anak didik dan terlebih para guru yang mengabdi karena panggilan kristiani. Jeritan hati mereka tidak pernah didengar. Ternyata Amanue hanya berputih juba dan terurap tangan, tetapi sungguh buta mata hatinya untuk melihat k ebaikan para pejabat yang bermateraikan Katholik membantu sekolah-sekolah Katolik yang selama ini telah memajukan dunia pendidikan Flores Timur khususnya dan Indonesia umumnya. Satu yang sungguh menyakitkan dan menyedihkan orang Katolik umumnya dan siapa saja yang telah menerima hasil pendidikan SMPK Pankrasio-Larantuka. Bahwa satu-satunya sekolah menengah pertama tertua yang dibangun misi Katolik, harus menerima kemunduran dari lembaga pendidikan dan untuk selamanya tidak bersuara. Adakah di balik jubah imamat bersemayam Yesus Kristus yang selalu mendengar keluh kesah hati umat yang menderita? Adakah dari tangan yang terurapi selalu memberi berkat surgawi bagi umat yang menanti rahmat? Adakah dari bibir yang mengajarkan kebenaran, keadilan, damai, cinta kasih, kata-kata pengampunan telah meminta maaf dan memberi maaf dan ampun? Kembali saya digiring ke perjuangan Komisi Keadilan. Ketika sutu peristiwa pelecehan iman Katolik (Pencemaran Hostia Juni 1995) oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, telah mengantar 9 (sembilan) orang ke balik terali besi. Tampillah imam Frans bersama YBBH Varitas-Jakarta memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Sayang, sedikitpun tidak membawa pembebasan bagi 9 (sembilan) saudara yang terlibat dari ribuan orang yang mengamuk, membunuh dan membakar. Waktu itu memang berjalan dan terus berjalan. Dari kepala yang dihiasi putihnya rambut, Frans Amanue tidak sedikitpun memutihkan otaknya. Perseteruan dan persekongkolan yang menentang kebijakan pemerintahan Bupati Felix Fernandez, tersusun rapih di kepalanya. Setiap sela dimanfaatkan untuk mengobrak-abrik rancangan dan rencana pemerintah, dengan tetap meneriakkan slogan kebenaran, keadilan dan suara yang tidak bersuara. Kebenaran macam mana yang diperjuangkan oleh seorang Amanue? Adakah umat/ masyarakat yang hidupnya tidak dibenarkan sehingga kebenarannya harus diperjuangkan? Keadilan macam mana yang diperjuangkan? Adakah umat/masyarakat yang diperlakukan tidak adil seperti yang dilakukan sendiri terhadap guru, orang tua, murid, gereja, masyarakat, ketika ia bertahta sebagai penguasa pendidikan umat Katolik. Suara siapa yang selama ini tidak bersuara?Apakah suara karena persekongkolan atau suara yang menjanjikan? Betapa, suatu kekagumanku akan pribadi luhur seorang imam Tuhan yang setiap hari mempersembahkan korban keselamatan bagi manusia, kini luluh. Kekagumanku akan hati yang bersih seputih juba yang dipakai selalu dalam tugas Imamat dan Pastoral, kini lantak lantaran dibalik juba putih itu besemayam dendam, benci, iri hati, sombong, egois dan kepalsuan hidup Imamat. Kebanggaanku akan bibir yang selalu mengucap syukur dan berkat, mengajarkan cinta kasih,perdamaian, pengampunan dan absolusi, sirna semuanya. Karena dari bibir itu tersusun jarum dan silet yang sangat tajam dengan kekuatan membunuh yang dhasyat. Kebanggaanku akan kaki yang berjalan mewartakan kasih Kristus dan tangan yang diurapi untuk menjadikan umat Kudus di hadapan Allah , kini hilang. Ternyata Judas dan Pilatus bersemayam dibalik Juba Imamat. Dan sungguh memalukan. Di tengah perseteruannya dengan pemerintah, dibangun pula persekongkolan antara Klerus, suatu benteng pertentangan baru dengan atasannya yaitu Uskup. Ya, inilah Imamku. Dari mulutmu Imamku terucap kalimat ini: �Berilah kepada Kaiser apa yang menjadi milik Kaiser, dan kepada Allah yang menjadi milik Allah.� �Barang siapa yang tidak pernah berbuat dosa, ambillah batu dan lemparkan yang pertama kepada orang ini.� Suatu pertanyaan: Pantaskah Frans Amanue harus menjalani hukuman dengan dalil fitnahan? Jawabannya adalah: �Siapa yang menabur kebaikan akan sesuai kepenuhan, Siapa yang menanam kebusukan akan memetik kehancuran.� ATADIKEN - FLORES TIMUR __________________________________________________________ Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase. http://farechase.yahoo.com/ --------------------------------- Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.
