Tinggalkan Nuklir : Greenpeace Menyerukan Medco 
untuk Mengembangkan Energi Terbarukan

Jakarta, 12 September 2007: Para aktivis Greenpeace menuruni gedung
dimana PT Medco Energi Internasional berada dan menggantungkan spanduk
sepanjang 30 meter bertuliskan "Medco Hands off Nuclear" di Jakarta
Pusat hari ini. Aktivis-ktivis tersebut menuntut Medco membatalkan
perjanjiannya dengan Korean Hydro and Nuclear Power Corporation untuk
membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berkapasitas 2000 MW
di Jawa.

Greenpeace meminta Medco menghentikan pembangunan pembangkit listrik
yang kotor dan mengalihkan investasi masa depan mereka pada
pengembangan potensi sumber-sumber energi terbarukan yang ada di
Indonesia. Aktivitas hari ini dilakukan setelah Nahdlatul Ulama
memutuskan bahwa PLTN Muria hukumnya haram, yang menunjukkan
kekhawatiran komunitas lokal yang tinggal di sekitar lokasi PLTN yang
diusulkan di Jepara.

Greenpeace menyatakan bahwa investasi USD 3 milyar yang diperlukan
untuk membangun PLTN sebesar 2000 MW di tahun 2016 sebagai satu hal
yang tidak realistis dan merupakan mimpi yang berbahaya. Ketika
industri nuklir menyatakan bahwa PLTN sebesar 1000 MW dapat dibangun
dengan baiaya USD 2 milyar, faktanya proyek PLTN terbaru, Olkiluoto-3
di Finlandia, yang dianggap sebagai proyek dengan `keekonomian reaktor
yang lebih baik', menghadapi pembengkakkan biaya setidaknya mencapai
USD 4 milyar untuk reaktor berkapasitas 1000 MW.

"Mengapa Medco membuang-buang milyaran dollar untuk investasi beresiko
tinggi, yang tidak hanya berbahaya bagi lingkungan namun juga sulit
menjawab krisis energi yang akan terjadi?" Tanya Nur Hidayati, Juru
Kampanye Iklim & Energi Greenpeace Asia Tenggara. 

"Mengapa Medco tidak melihat alternatif lain untuk memproduksi listrik
yang berasal dari sumber energi terbarukan yang terbukti aman dan
melimpah, seperti panas bumi, matahari, mikrohidro, angin, dan
biomassa? Mengapa Medco mendorong nuklir yang berbahaya serta batubara
yang kotor, yang tidak lain merupakan hambatan dalam mengatasi
perubahan iklim dan kemanan energi? Kami tidak menerima jawaban yang
memuaskan dari Medco atas hal-hal yang kami sampaikan ini," tambahnya.

"Selain resiko nyata terjadinya kecelakaan berskala Chernobyl, aspek
lain yang mengkhawatirkan dari diterapkannya energi nuklir ini adalah
ratusan ribu ton limbah radioaktif mematikan yang akan menghantui
sepanjang hidup kita. Milyaran dolar yang akan dibuang untuk reaktor
yang berbahaya, seharusnya dialihkan untuk penggunaan yang lebih baik
dengan mengeksplorasi dan mengembangkan system energi yang bersih dan
terbarukan, yang tidak hanya memastikan keamanan energi namun juga
tersedia di seluruh Indonesia melalui system yang lebih
terdesentralisasi," Tegasnya. 

Dari 435 PLTN komersial yang beroperasi di dunia, hamper tak ada yang
dibangun sesuai dengan rentang waktu dan budget yang diperkirakan, dan
harga listrik yang kompetitif hanya dapat dicapai dengan pengaturan
harga, subsidi langsung dan tidak langsung dalam produksi listrik dari
PLTN, dan biaya-biaya eksternal dari kerusakan lingkungan akibat
penambangan uranium dan produksi bahan bakar, serta subsidi yang
sangat besar dari biaya-biaya di proses akhir. 

Pada 1 September 2007 yang lalu, Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Jepara
memutuskan bahwa PLTN Muria haram hukumnya karena dampak negative yang
ditimbulkannya jauh melebihi dampak positifnya, terutama hal-hal yang
terkait dengan bahaya limbah radioakatif dan penanganannya, yang akan
mempengaruhi kelangsungan hidup masyarakat lokal di sekitarnya.

Untuk Informasi lebih lanjut:
Nur Hidayati, Juru Kampanye Iklim & Energi Greenpeace Asia Tenggara,
+628129972642
Dina Purita Antonio-Jufri,interim Regional Media Campaigner Greenpeace
Asia Tenggara +628111770920
Arie Rostika Utami, Asst.Media Campaigner +628568857275


Kirim email ke