Lisya Anggraini: Siar (2) - Realitas Media
  http://16j42.multiply.com/reviews/
   
  Realitas Media
   
  Oleh: Lisya Anggraini
  (Jurnalis, Penulis, Wakil Ketua KPID)
   
  Media massa apakah bentukannya cetak, audio (radio) atau audio visual 
(televisi) sudah sangat kita pahami memiliki daya yang dasyhat untuk membentuk 
opini publik.Saking kuatnya, bahkan diyakini juga mampu membentuk pemahaman 
atau ideology. Karena opini public yang terbentuk akan berkembang menjadi 
nilai, lalu mengkristal menjadi ideology. Dari hal itu, media mampu membentuk 
khalayak, kelas dan selera tertentu dari apa yang sudah jadi pemahaman atau 
nilai dalam diri. 


Majalah Cosmopolitan telah mampu menggiring kelas untuk komunitas glamour 
dengan pola clubbing, konsumerisme global. Juga telah mereformasi pemahaman 
perempuan soal-soal kepasifan menyangkut seksualitas. 

Trans TV mampu membentuk kelompok kehidupan eksekutif muda dengan 
tayangan-tayangan yang orientasi professional mudanya.

Dua contoh dari beragam bukti lain, yang makin membuat kita menjadi paham, 
betapa kekuatan media bagi public. Selain fakta lain, dengan kekuatan yang 
dimilikinya itu pula, media telah pula menjadi menjadi alat propaganda tidak 
hanya politik, tapi juga nilai-nilai ideology. Berkaitan kekuatan ini pula, 
media merupakan instrument juang untuk tujuan apa saja. 

Sejarah bangsa ini berdiri,  tak lepas dari peran media massa yang dijadikan 
Soekarno sebagai pelecut aksi massa.Dan sejarah media massa ketika masa menuju 
kemerdekaan maupun awal kemerdekaan merupakan media bernafaskan perjuangan.

Berangkat dari fakta-fakta tersebut, apakah media sendiri sebagai pemegang 
“kuasa” itu sadar akan kekuatannya? Pemilik media, si bos redaksi, programmer 
atau pula  semua insan jurnalis. Sudah tentulah iya. Atau mana mungkin tidak 
paham? Namun apakah benar-benar paham sehingga tidak “tergelincir” pijakan 
idealisme yang mesti selalu dipegang? 

Meski idealisme itu pun ada lagi pertanyaan yang mengekor di belakangnya, 
idealisme untuk apa dan siapa? Serta paradoks lainnya dibaluti komersialis. 
Hari gini media mana yang mampu hidup tanpa uang, yang berarti bersumber dari 
iklan serta oplah bagi media cetak?

Jika konsepsi idealisme tujuannya kepentingan public, tentulah media mesti 
menjaga makna realitas yang disampaikannya merupakan realitas yang 
sesungguhnya. 
Sehingga masyarakat tidak terjebak dari bias informasi yang kemudian melahirkan 
nilai-nilai yang tidak sesungguhnya pula.

Namun, sejauh mana realitas media yang berkembang hingga sekarang ini?


Bagi kebanyakan kita, realitas media dipahami adalah realitas sesungguhnya. 
Meskipun banyak realitas sesungguhnya yang terdistorsi. Tak jarang informasi 
yang sesungguhnya “dikuburkan” berganti dengan realitas olahan oleh media 
berbumbu banyak hal. 

Belum lagi terdistorsi oleh ‘kelalaian’  berkait diri jurnalis dan media 
sendiri dalam mengolah informasi karena keterburu-buruan deadline, sehingga apa 
yang ada embat saja. Sehingga informasi tidak balance dan kurang chek and 
re-chek.

Kasus bom Bali yang meski beberapa orang telah diseret sebagai pelakunya dan 
hukuman menjeratnya, serta senyuman Amrozi masih menyisakan banyak tanya, 
tentang fakta yang sesungguhnya. 

Kasus Teluk Mata Kucing di Batam tiga tahun lalu juga menyisakan banyak 
keraguan. Kasus limbah dari Singapura yang dibuang di pulau Galang dan dipaksa 
“diusir” dari Batam  tak pernah tahu dimana “didamparkan” sesungguhnya.

Sebaliknya pula, realitas yang disampaikan media, telah diolah dengan beragam 
bumbu dan bumbu yang paling “yahud” tentulah kepentingan. Sehingga realitas 
yang disampaikan menjadi realitas propaganda. Atau informasi yang benar menurut 
“siapa” dan untuk tujuan ‘apa’.

Apatah lagi di dalam ajang “pesta demokrasi” di daerah tengah berlangsung. Dan 
contoh paling di depan mata, Pilkada Kota Tanjungpinang. Adu kekuatan di media 
ikut menentukan hasil akhir perjuangan.

Media kembali akan terus diuji untuk tetap berpijak dalam konsepsi idealisme 
dengan dan begitu pula kejelian masyarakat untuk menilai dan memahami realitas 
yang disampaikan media.

Sekalipun ada tatanan bagi media penyiaran untuk tetap berada di rambu-rambu 
yang benar dalam bentuk aturan media dalam menyikapi kampanye masing-masing 
calon. Dan tata aturan kode etik jurnalistik yang melatari langkah kerja media 
dalam melahirkan produk junalistik.

Kebebasan media dalam hal ini benar-benar diuji untuk tidak menjadi bebas 
seenaknya untuk dipakai partai dan politisi, melainkan kebebasan media untuk 
menggali informasi yang seluas-luasnya tentang partai dan politisi untuk 
disampaikan kepada public.(Judith Licthenberg, Democracy and The Mass Media, 
1990).

Dalam jangka panjang, media akan mendapatkan keuntungan financial dan 
kepercayaan pasar dengan strategi menjaga independensi terhadap politisi dan 
partai, khususnya yang sedang berkuasa.(Martin Pilssner,The Control Room, 2000)


Ketika media tidak mampu berjalan dengan pijakan idealisme itu, yang lahir 
tentulah realitas yang bukan merupakan fakta telanjang yang ada pada 
masyarakat. Realitas yang sesungguhnya akan terbenam di palung yang dalam.

Dan ini mesti dipahami oleh public, tentang sebuah makna realitas media 
sehingga tidak hanya menelan informasi yang diterima sebagai kebenaran dan 
informasi yang sesungguhnya. Publik mesti kritismenyikapi hal ini.*** 



       
---------------------------------
 Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail 

Kirim email ke