Seru juga ya mengikuti perkembangan 'perang harga koran' yang 
disampaikan Mas Basri Andhi.
Sekadar tambahan saja, di pasaran Surabaya juga terjadi persaingan 
ketat dalam 'perang harga koran'. Bahkan dengar-dengan SINDO pun 
harus merekrut orang ex pemasaran Jawa Pos demi mencapai target 
40.000 eksemplar jelang akhir tahun 2007 ini. Tak tanggung-tanggung 
dibentuk pula "milisi" sebagai tim sukses menuju angka tersebut. 
Mungkinkah...?
Di lapanga, menurut pengelihatan saya yang awam soal ini, ternyata 
pembeli koran tetap saja memilih Jawa Pos yang dijual Rp. 2000 di 
pengecer tengah kota (Surabaya). Padahal KOMPAS dan SURYA menjual 
dirinya dengan 1000-an. Kalau tidak salah ingat, SINDO pun mencoba 
1000-an (tapi gak tahu apakah itu program resmi atau bukan). Tapi 
akhirnya ya tetap saja tidak mampu memanasi pembaca untuk beralih 
kepadanya. Apalagi JAWA POS sendiri punya koran pendambing RADAR 
SURABAYA yang juga dijual 1000-an.
Ya... begitulah 'perang harga koran' di Surabaya yang sepertinya jauh 
meninggalkan koran legenda SURABAYA POST jauh di ujung peperangan....

Arohman

--- In [email protected], "Basri Adhi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam,
> 
> Saya membaca postingan Bapak di milis marketing soal strategi koran 
menjual dirinya seribuan.
> 
> Kata Bapak : 
> "Sindo dan Media Indonesia, yang pola jualnya konsinyasi terpaksa 
> main di seribuan supaya produknya laku. Karena kalo tidak begitu 
> returnya cukup banyak sekali alias tidak terjual. Koran Tempo 
> sempat diharga seribuan karena harga setornya mendekati seribu, 
jadi 
> agen pake jalur aman, karena tidak bisa retur dijual di seribuan. 
> Tapi saya lihat Koran Tempo sudah jarang di harga seribu, mungkin 
> harga setor sudah dinaikkan atau karena re positioning?"
> 
> 
> Perlu diluruskan, bahwa Sindo dan MI mengambil strategi yang 
berbeda.  MI mengambil jalur menjual seribuan dengan pengecer khusus 
di tempat keramaian dan Sindo memilih mangembil langkah -setidaknya 
sampai hari ini - konsisten dengan langkah menjual di harga jual 
eceran 2000, mengetatkan sistem penjualan pada level 75 jatah habis 
dan 25 konsinyasi, namun secara konsisten mempertebal dan menambah 
halaman full color (44 halaman, dan bisa full color karena percetakan 
barunya di Cikarang sudah beroperasi).
> 
> Pada level ini, konsumen dihadapkan pada pilihan, 1000 dapat tipis 
atau 2000 dapat tebal.  Secara umum, SAAT INI market kedua koran 
tersebut tidak saling mempengaruhi (walau dulu awal sindo terbit ya 
terpengaruh juga).  pembaca yang suka berkerut kening lebih suka 
membaca MI, sedangkan pembaca sindo lebih banyak penonton 
infotainment dan berita-berita yang tidak bikin kening berkerut.  
Apalagi, sekarang ini, jumlah halaman di media indonesia banyak 
"termakan" iklan lelang dan sejenisnya dari bappenas itu....jadi buat 
pembaca gak aneh mereka beli dengan harga 1000, wong gak banyak yang 
bisa dibaca.
> 
> Terus, boleh diteliti dengan riset ala tempo deh..."struktur asli" 
harga media indonesia memang membuat dia tak banyak bisa bergerak 
menggarap pelanggan.  Bukan cuma diskon buat pelanggan yang kurang 
menarik, komisi buat agennya juga kalah dengan kompetitor2nya.  
Sekarang ini, salesnya gencar ke rumah2 (termasuk rumah saya), 
menawarkan langganan 3 bulan cukup bayar dua bulan.  Jadi strategi 
harga 1000 memang langkah akhir untuk me-recover jumlah pembaca 
mereka.
> 
> Koran Tempo ?  Sampai hari ini masih dijual seribuan.  Kalau dulu 
awalnya cuma di stasion dan terminal, sekarang di hampir semua tempat 
dijual dengan harga seribuan.  Sampai hari ini, kalau pagi saya masih 
beli koran tempo di perempatan Cimanggu atau di rel kedungbadak jalan 
baru yang lagi dibangun underpass.  
> 
> Saya belum tahu kalau mau ada repositioning.  Lagian kalaupun 
repositioning, apa lagi yang mau direpositioning ya...apa mau dibuat 
tebal (yang artinya harus nambah wartawan, nambah kertas, nambah 
waktu buat cetak dan nambah duit....); atau mau dibikin maxi lagi 
(sungguh mati, Tempo kecil gampang dibaca (bukan enak dibaca), tapi 
dengan ditambah harganya yang 1000-an...kok jadi terkesan murahan 
gitu).  Jadi saya belum melihat ada celah buat tempo koran melakukan 
repositioning APALAGI dengan melihat kondisi internalnya (terutama 
soal fulus-nya).  Belum lagi nanti komunikasinya ke pasar...hehehe 
emang sudah ada dana lebih?
> 
> Kata Bapak lagi : 
> " Saya lihat kompas sudah terjebak dengan strategi koran 
saingannya, 
> bisa jadi oplah ecerannya tergerogoti. Dan saya perhatikan harga 
> kompas seribu bukan saja sore tapi dibeberapa perempatan lampu 
merah 
> yang saya lewati sudah mulai pagi hari. Dan bagi saya pelanggan 
> kompas di rumah, saya bayar 67 ribu per bulan ke agen, jadi seperti 
> disia-siakan oleh kompas sebagai pelanggan, kok langganan jadi 
lebih 
> mahal, ah mending ke eceran. Dan hal ini bahaya buat kompas kalo 
> banyak orang berpikiran spt saya. Oplah eceran naik, tapi langganan 
> turun. Lagi pula jika harga seribu, secara image apa bedanya Kompas 
> dengan warta kota, Sindo dan Media?"
> 
> Sebenarnya--ini sekedar saran-- sebagai pejabat teras dengan latar 
belakang riset, bapak harusnya curiga.  Bisa jadi, dan saya haqul 
yakin 100%, Kompas tidak terjebak.  Justru dia menjebak pemain2 kecil 
agar kejeblos, dan dia mau mengukur kekuatan duit pemain kakap 
seperti sindo.  Kalau di Jabotabek beredar 20 ribu koran kompas 
jablay (ini istilah agen2 dan anak2 sirkulasi di lapangan), itu 
artinya cuma sekitar 10-20% oplah kompas di Jabotabek.  Dan repotnya, 
tak banyak pelanggan Kompas yang mempermasalahkan selisih 67 ribu 
dengan seribuan...secara value mereka mau bayar --bahkan-- 70 ribu 
per bulan.  Tepatnya, sebagian besar (sekali) pelanggan kompas adalah 
ibarat pembeli sedan mewah yang tak lagi menghitung biaya bensin 
pertamax plus untuk mobilnya...bukan kelas pembeli mobil sekon, yang -
-barangkali-- perlu menabung untuk ganti oli....hehehe ekstrim ya.  
Kompas tidak takut kehilangan image, karena mereka tahu betul menjaga 
konsistensi kualitas, tampilan dan value.  Mereka--misalnya-- tidak 
terpancing ikut tren "luar negeri" menjadi mini, kolomnya BAZ yang 
makin menggigit (tapi tetap membumi), campaign indeks Kompas 100, dan 
hubungan ke pasar (sirkulasi dan iklan) yang sangat baik.  Dan 
begitulah adanya.
> 
> Justru yang terjadi sekarang adalah, banyak pembeli koran2 second 
grade yang pindah ke kompas...walau mereka harus rela nunggu agak 
siangan dikit.  Artinya apa? readership kompas naik bos.  Dan kalau 
mau dicermati, strategi kompas ini kan bukan hal baru...hal yang sama 
dilakukan oleh Jawa Pos untuk menggebuk kompas di Surabaya.  Cukup 
dengan mengeluarkan 10% oplah...pasaran koran second grade hancur 
lebur.  Itu enaknya jadi market leader, dengan "gap"-nya ke 
kompetitor jauh....
> 
> Saya sarankan pak Hari banyak menonton serial CSI (Crime Sceme 
Investigator), Numbers atau Bones di TV berbayar...ya untuk 
penyegaran gitu (melatih melihat problem lebih insight, lebih 
dalam...), jangan cuma percaya omongan orang2 sirkulasi (sebelum 
terjun dan melihat sendiri di lapangan)...biasa harus ada kambing 
hitam untuk mereka cari selamat.  Di lapangan, problemnya lebih 
complicated lho...kadang tak terpecahkan hanya dengan diskusi di 
rapat rabuan atau jumatan...
> 
> Oya, barangkali belum tahu (kalau sudah tahu ya syukur) sekedar 
info : sindo punya percetakan baru di cikarang, bandung mereka cetak 
lokal (di bandung), setelah sindo medan dan palembang, habis lebaran 
meraka launching sindo makassar dan denpasar....barangkali berguna 
buat repositioning koran tempo.  Dan saya sih lebih melihat tempo di 
internal juga harus waspada pada sindrom pabrik gula...perusahaan 
makin tua, produk tak bertambah, karyawannya makin tua, produktivitas 
turun, rendemen produk turun tapi tuntutan gaji dan fasilitas 
karyawan makin naik...ini seperti nasib pabrik2 gula di indonesia...
> 
> wassalam,
> 
> Basri Adhi
> veteran tukang koran.
>


Kirim email ke