http://grelovejogja.wordpress.com/2007/09/05/muhammad-dan-kaum-cerdik-pandai-kristen/
Muhammad Dan Kaum Cerdik Pandai Kristen
Posted on September 5th, 2007.
Kepribadian dan pengetahuan Muhammad dibentuk oleh lingkungannya.
Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Salah satu
lingkungannya adalah kaum cerdik pandai Kristen.
Jauh sebelum kenabian Muhammad telah ada anasir-anasir kenabian dan
ketauhidan (monoteisme) yang merujuk pada peran dua komunitas teologis
di Mekkah, yang warganya dikenal sebagai penyembah berhala. Yang
pertama ialah pengikut al-han¨©fiyah yang mendaku sebagai ahli waris
ajaran Ibrahim. Abdul Muthalib yang adalah kakek Muhammad dan ketua
Bani Hasyim merupakan tokoh terpenting dalam aliran ini. Tercatat pula
nama Zaid bin Amru, paman Umar bin Khathab, yang memiliki syair-syair
kepasrahan. Salah satu baitnya, aslamtu wajhi liman uslimat, lahu
al-ardlu tahmilu shakhran tsiq¨¡la, aku pasrahkan diriku pada Dia,
seperti kepasrahan bumi yang membawa batu karang yang berat.
Yang kedua adalah komunitas Ahli Kitab. Ini sebutan bagi pemeluk agama
Yahudi dan Kristen. Orang Kristen di kalangan Islam disebut sebagai
Nasrani yang dinisbatkan pada al-N¨¡shirah atau Nazaret, asal Isa
al-Masih. Namun, bagi orang Kristen mayoritas, Nasrani di Jazirah Arab
adalah sebuah sekte. Berbeda dengan bangsa Arab yang mandul dari
kenabian, bangsa Yahudi subur dengan kenabian. Dua komunitas itu punya
satu misi. Sama-sama memusuhi kaum pagan. Pada masa itu mereka
tersebar luas di Jazirah Arab. Orang Yahudi bermukim di Yastrib
(Madinah), orang Kristen menunjukkan pengaruhnya di Mekkah.
Menurut Al-Yaqub¨© dalam Tar¨©kh: orang Quraisy yang memeluk Kristen
dari Bani Asad antara lain adalah Utsman bin al-Huwairits dan Waraqah
bin Naufal. Khadijah yang istri Muhammad berasal dari bani ini.
Informasi yang lebih menarik datang dari Muhammad bin Abdillah
al-Azraqi dalam Akhb¨¡r Makkah (Kabar-kabar Mekkah), tentang gambar dan
arca Isa (Yesus) bersama ibunya, Maryam (Maria), di Kabah. Ketika
berhasil menaklukkan Mekkah dari pemeluk pagan, Muhammad membersihkan
Kabah dari segala perupaan, kecuali Isa dan Maryam. Arca tersebut baru
hancur bersama puing-puing Kabah akibat perang di era Yazid bin Muawiyah.
Mengakui
Alquran (al-Maidah: 82) menegaskan kedekatan orang Kristen dengan
Muhammad yang berbeda dari orang Yahudi dan kaum pagan Mekkah yang
bersikap memusuhi. Orang Kristen mencintai Muhammad dan pengikutnya
karena di antara mereka ada pendeta-pendeta (qiss¨©s¨©n) dan
rahib-rahib (ruhb¨¡n) dan mereka tidak menyombongkan diri. Maksudnya,
mereka mengakui kenabian Muhammad, tetapi tidak mengikutinya.
Yang terkenal adalah Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah. Dia
memberi kesaksian terhadap wahyu pertama yang diterima Muhammad dan
disebut dalam riwayat al-Bukhari hadis nomor tiga sebagai seorang
yang memeluk Kristen pada zaman Jahiliah, menulis kitab dalam Ibrani,
dan mampu menyalin dari Injil Ibrani.
Kependetaan Waraqah ditegaskan Muhammad dalam S¨©rah (biografi
Muhammad) karya Ibn Ishaq (1999: 203): Sungguh aku telah melihat
Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra.
Dalam versi riwayat lain hadis tadi adalah respons ketika nasib
Waraqah di akhirat dipertanyakan karena tetap setia memeluk Kristen
sampai akhir hayatnya meski ia menyaksikan kenabian Muhammad.
Para penyair Kristen dan al-han¨©fiyah melantunkan syair-syair
keagamaan mereka di pasar-pasar Mekkah, khususnya di Ukadz. Alquran
(al-Furqan: 7) menyebut kebiasaan Muhammad menjelajahi pasar-pasar
bukan bertujuan berbelanja, melainkan menyimak dan mengamati seluruh
kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai festival kebudayaan.
Dua jilid karya Luis Syaikhu, T¨¡r¨©kh al-Nashr¨¡niyah wa Ad¨¡buh¨¡ Bayna
Arab al-J¨¡hiliyah (Sejarah dan Sastra Arab Kristen di Era Arab
Jahiliah) terbitan Dar al-Masyriq, Lebanon, tahun 1989, menjelaskan
peran nyata kaum cerdik pandai Kristen terhadap kebudayaan Arab.
Syaikhu menyebut peran Umayyah bin Abdillah bin Abi Shalat, penyair
Kristen era Jahiliah yang memiliki syair-syair keagamaan. Syair-syair
Umayyah telah mengenalkan nama-nama lain Allah yang disebut al-asm¨¡
al-husn¨¡ (nama-nama terbaik). Demikian juga nama malaikat Jibril,
Izrail, dan Israfil; tingkatan surga dan neraka; tujuh lapis langit
dan bumi; asal-usul penciptaan alam; kisah Adam-Hawa dan dua anaknya;
air bah Nuh; Yunus (Yunan) yang ditelan dan bisa hidup di perut ikan;
serta kisah-kisah para nabi lainnya hingga kisah Ashabul Kahfi yang
masyhur di kalangan orang suci Kristen sebagai les Sept Dormants
(Tujuh Orang yang Tertidur) yang merujuk pada masa pertengahan abad
ke-3 Masehi.
Demikian pula dua kawasan yang menjadi tujuan utama kafilah niaga
Kabilah Quraisy: Yaman dan Syam. Keduanya merupakan pusat kekristenan.
Yaman dikuasai oleh dinasti Kristen Habsyah (Etiopia) yang mengikuti
aliran monofisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti
Ghassan yang mengikuti aliran monofisit-yakobis. Muhammad telah
mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah
pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah. Pusat kekristenan lain
di al-Hira diperintah oleh dinasti Kristen Lakhm yang mengikuti aliran
monofisit-nestorian.
Khadijah
Khadijah menurut informasi sejarah adalah istri Muhammad yang berasal
dari keluarga Kristen di Mekkah (Bani Asad). Sumber sejarah Islam tak
ada yang secara tegas menyebut agama Khadijah sebelum Islam. Namun,
ada fakta menarik mengenai keteguhan Muhammad tetap setia monogami dan
tidak menikah lagi, kecuali setelah Khadijah wafat. Monogami dan
perceraian atas dasar kematian adalah tradisi kekristenan kuno yang
berbeda dari tradisi poligami bangsa Arab.
Khadijah berjuluk al-Th¨¡hirah (Perempuan Suci). Ini simbol teologis.
Perempuan terhormat biasanya cukup disebut al-Syar¨©fah atau
al-Kar¨©mah. Perempuan suci dalam Kristen disebut santa. Diakah Santa
Khadijah? Julukannya yang lain Sayyidah Nis¨¡ Quraisy (Puan dari
Seluruh Perempuan Quraish) yang memperlihatkan Khadijah sebagai
perempuan suci dan pilihan.
Gelar dan pengakuan terhadap Khadijah ini bisa disamakan dengan
pengakuan Alquran terhadap Santa Maria, Bunda Yesus, dalam Surat Ali
Imran Ayat 42 yang menyatakannya sebagai perempuan pilihan dan suci.
Khadijah bisa dibilang ibu Muhammad karena perbedaan umur mereka
yang terpaut 25 tahun. Dalam Ans¨¡b al-Asyr¨¡f (Nasab-nasab Orang Mulia)
karya al-Baradzari, Muhammad menikah pada usia hampir 21 tahun¡ªmerujuk
pula pada kebiasaan pemuda Arab waktu itu yang menikah pada umur 20
tahun¡ªsedangkan Khadijah berusia 46 tahun. Menurut Bint Syathi,
penulis buku Nis¨¡ al-Nab¨© (Istri-istri Nabi), peran Khadijah sebagai
istri sekaligus ibu bagi Muhammad tak hanya bersumber dari perbedaan
usia, tetapi juga tersebab Muhammad anak yatim piatu yang kehilangan
kasih sayang ibunya.
Bagi Khalil Abdul Karim, penulis Fatrah Takw¨©n fi Hay¨¡ti al-Sh¨¡diq
al-Am¨©n (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) terbitan Dar Mishr
al-Mahrusah, Cairo, tahun 2004, Khadijah adalah arsitek kenabian
yang dibantu oleh komunitas inteligensia Kristen. Mereka adalah
Waraqah bin Naufal dan adiknya, Qatilah, seorang rahibah, serta
saudara sepupu mereka, Ustman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran
Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal.
Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh- jauh hari
meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas
mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota
keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa
pendeta: Adas di Taif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah.
Buku Khalil tadi merujuk pada sumber-sumber primer S¨©rah Muhammad yang
jarang disentuh, seperti S¨©rah Ibn Ishaq, Ibn Sayyidi al-Nas,
al-Halabiyah, al-Syamiyah, T¨¡r¨©kh al-Thabari, dan al-Yaqubi.
Khadijah dan timnya telah mengamati Muhammad sejak lama. Dalam Sirah
Ibn Katsir diriwayatkan Khadijah sudah dikabari oleh Nashih, budaknya,
dan Pendeta Buhaira di Syam untuk menikah dengan Muhammad. Dikisahkan
juga bahwa Qatilah telah menawarkan diri kepada Abdullah, ayah
Muhammad, untuk dijadikan istri karena Abdullah memiliki cahaya
kenabian. Buhaira telah melihat Muhammad dua kali sebelum penetapan
kenabian. Informasi ini menunjukkan bahwa komunitas itu mengamati
keluarga Muhammad secara saksama.
Khadijah mengangkat Muhammad sebagai buruhnya saat berusia 18 tahun
agar bisa mengamatinya dari dekat. Sebelum menikah, Muhammad telah
melakukan dua perjalanan niaga Khadijah ke Habsyah dan ke Syam. Niaga
ke Habsyah hampir tidak disebut dalam versi umum biografi Muhammad,
tetapi kisah itu dituturkan oleh sejarawan klasik, seperti al-Thabari,
al-Suhayli, dan al-Maqrizi.
Sementara dalam perniagaan ke Syam, Khadijah perlu menyertakan seorang
hambanya bernama Maisarah yang kenal baik dengan Pendeta Buhaira untuk
mengamati gerak-gerik Muhammad, khususnya pertemuannya dengan Buhaira.
Setelah yakin bahwa Muhammad adalah sosok tepat dari beberapa
pertimbangan (keluarganya yang menjalankan prosedur kenabian,
nasihat-nasihat anggota komunitasnya, serta pengamatannya secara
langsung), barulah Khadijah melamar Muhammad tak hanya sebagai suami,
tetapi lebih itu dari sebab¡ªdalam kata-kata Khadijah sendiri¡ªaku
sangat ingin agar kamu (Muhammad) menjadi nabi bagi umatmu.
Dalam proses pernikahan mereka, tampak kegembiraan Abu Thalib dan
antusiasme Waraqah dari pembacaan khotbah nikah mewakili pihak
keluarga Khadijah. Sedangkan wali Khadijah¡ªbapaknya, al-Khuwailid atau
pamannya, Amru¡ªtidak terlalu antusias dengan pernikahan itu. Bagi
mereka, Muhammad tetap dipandang sebagai anak yatim yang berasal dari
keluarga miskin. Adapun Khadijah dan Waraqah memiliki tujuan lain
dengan pernikahan itu.
Nubuat kenabian
Pernikahan Muhammad yang berasal dari keluarga al-han¨©fiyah (Bani
Hasyim) dengan Khadijah yang berasal dari keluarga Kristen (Bani Asad)
adalah koalisi kelompok ketauhidan melawan kelompok pagan.
Dua komunitas tersebut telah membangun suasana-suasana kenabian.
Nubuat kenabian dari jalur Abdul Muthalib telah dikabarkan jauh
sebelum Muhammad lahir. Abdul Muthalib dengan sadar telah
mempraktikkan kembali semacam prosedur-prosedur kenabian. Posisinya
seperti Ibrahim yang memusuhi berhala dan menyembelih anaknya sebagai
kurban bagi Allah. Abdul Muthalib telah menyerukan ajaran Ibrahim itu
dan bernazar menyembelih putranya, Abdullah, ayah Muhammad.
Masa pernikahan hingga pewahyuan yang terentang kira-kira 20
tahun¡ªMuhammad menerima wahyu berumur 40 tahun¡ªadalah tahun-tahun
yang hilang dari kehidupan Muhammad yang disebut oleh Khalil Abdul
Karim sebagai fatrah al-takw¨©n (periode kreatif). Muhammad adalah
seorang umm¨© (buta huruf), maka di masa-masa itulah Khadijah, Waraqah,
dan kaum cerdik pandai Kristen memiliki andil dalam menyiapkan proses
kenabian Muhammad. Di siang hari Muhammad menjelajahi pasar-pasar di
Mekkah yang membuatnya mengetahui segala kisah dan perkembangan
masyarakatnya. Di malam hari Muhammad akan menghabiskan waktu
berbincang-bincang dengan Khadijah.
Adalah hal biasa bila Waraqah sering berkunjung untuk menceritakan
hal-hal yang ia ketahui dari kitab-kitab yang ia salin. Kita bisa
membayangkan betapa marak aktivitas-aktivitas dalam rumah Khadijah
yang dipenuhi kaum intelektual yang memiliki ambisi kenabian itu.
Khadijah bersama Waraqah telah membimbing Muhammad menelusuri
tangga-tangga spiritualitas hingga mencapai puncak kenabian.
Perkembangan Muhammad diamati secara saksama oleh Khadijah, baik
dengan mengantarnya ke Gua Hira untuk menyendiri¡ªtradisi yang telah
dilaksanakan pengikut al-han¨©fiyah termasuk kakeknya, Abdul
Muthalib¡ªmaupun ketika Muhammad mulai didatangi suara- suara yang
mengaku sebagai utusan Tuhan. Khadijah-lah yang menguji kualitas
suara itu apakah berasal dari malaikat atau setan. Menurut S¨©rah al-
Halabiyah, dalam menguji suara itu Khadijah di bawah bimbingan
Waraqah, yang pakar masalah kenabian dan pewahyuan.
Tak hanya itu. Ketika Muhammad memperoleh wahyu pertama, Khadijah yang
memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai itu satu per
satu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekkah, Adas di Thaif,
hingga Buhaira di Syam. Tujuannya tak hanya meminta konfirmasi tentang
kebenaran pewahyuan itu, tetapi juga mengumumkan bahwa seorang nabi
telah datang.
Jadi, kita bisa melihat bahwa Muhammad bukanlah nabi yang datang dari
dunia antah berantah. Kepribadian dan pengetahuannya telah dibentuk
oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran
kenabian. Khadijah bersama komunitas memiliki pengaruh yang tak bisa
disanggah. Kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimentasi
kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang.
Oleh MOHAMAD GUNTUR ROMLI
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/01/Bentara/3800195.htm
Make a Comment
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
http://indonesian.irib.ir/arsip_berita/september07/03.htm
Kenabian Urusan Langit!
Koran Kompas, Sabtu, (01/9) memuat sebuah tulisan panjang
Mohammad Guntur Romli, aktivis Jaringan Islam Liberal, dengan judul
Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen. Ide ini sebenarnya tidak
orisinil milik Romli, tapi telah dibahas lama oleh Abdul Karim Soroush
setelah meluncurkan ide Pengembangan dan Penyusutan Penafsiran Agama.
Menurut Soroush pengalaman kenabian bukan khas milik seorang yang akan
diutus oleh Allah, tapi pengalaman spiritual itu dapat dicapai oleh
setiap orang. Hal yang sama dilakukan oleh urafa dalam mukasyafahnya.
Intinya, mukasyafah yang dilakukan oleh oleh setiap Nabi dapat dilakukan
oleh orang lain. Romli kelihatannya menerima penjelasan ini, namun ingin
membuktikan itu tidak hanya secara filosofis sebagaimana yang dilakukan
Soroush, tapi ingin dibuktikannya secara historis.
Romli kemudian membangun asumsinya dengan mereka-reka
adanya sebuah kelompok koalisi keluarga Al-Hanifiyah (Bani Hasyim) dan
keluarga Kristen (Bani Asad) yang diwakili oleh Khadijah. Menurut Romli,
Dua komunitas tersebut telah membangun suasana-suasana kenabian. Ini
sesuai dengan pandangan Soroush yang ingin menurunkan masalah kenabian
hanya sekadar masalah sosial biasa yang tidak ada hubungannya dengan langit.
Kenabian hasil rekayasa dua keluarga ini. Romli melewati masalah trinitas
yang ditolak mentah-mentah Al-Quran. Ia begitu yakin bahwa tokoh-tokoh
Kristen yang ada meyakini hal yang sama dengan Al-Quran. Tapi mungkin
Romli benar, yang penting bagi koalisi ini adalah melawan pagan. Namun,
tulisannya tidak menunjukkan hal itu. Ia menulis, Keluarga al-hanîfiyah (Bani
Hasyim) dengan Khadijah yang berasal dari keluarga Kristen (Bani Asad)
adalah koalisi kelompok ketauhidan
melawan kelompok pagan. Romli dengan berani memasukkan keluarga
Kristen yang diwakili Waraqah bin Naufal dalam kelompok ketauhidan, hal
yang ditentang oleh Al-Quran.
Tokoh-tokoh yang dijadikan andalan Romli tidak diterima
begitu saja oleh seluruh umat Islam. Setidak-tidaknya, Syiah tidak percaya
dengan kisah-kidah yang dinukil Romli dalam tulisannya. Sejak awal, Syiah
memandang masalah ini telah selesai dalam tataran teologi, bahwa seorang
yang akan diutus menjadi Nabi, sadar akan dirinya bakal menjadi Nabi.
Sebagaimana dalam ayat-ayat Al-Quran menjelaskan kisah Nabi Isa as.
Peristiwa bicaranya ketika masih bayi adalah mukjizat, tapi isi ucapannya
menunjukkan beliau tahu persis sebagai utusan Allah. Hal itu juga berlaku
atas Nabi Muhammad saw. Oleh karenanya, Syiah tidak meyakini adanya
tokoh-tokoh yang diceritakan sebagai penasihat spiritual Nabi seperti
Waraqah bin Naufal. Peristiwa diutusnya seseorang menjadi nabi bukan
peristiwa biasa. Selain itu, bila kita menerima analisa Romli, bahwa
kenabian Muhammad dipengaruhi sejumlah tokoh-tokoh
cendekiawan Kristen, semestinya ini dianalisa lebih lanjut pada
pemikiran Nabi lewat hadis-hadisnya. Sayangnya, Romli terlalu
terburu-buru melewatkan hal ini dengan kejadian Nabi tidak berpoligami
selama Khadijah masih hidup.
Masalah keummian yang menjadi salah satu kelebihan Nabi Muhammad
saw, ditafsirkan secara rendah oleh Romli. Ia menggambarkan Nabi setiap
harinya berjalan-jalan ke pasar bukan untuk berbelanja. Nabi setiap
harinya kerjanya menyimak apa yang terjadi di sana untuk kemudian
disampaikan ke Khadijah yang akan dilanjutkan ke penasihat spiritualnya
Waraqah. Hal itu karena di pasar para penyair Kristen dan al-hanîfiyah
melantunkan syair-syair keagamaan mereka di pasar-pasar Mekkah,
khususnya di Ukadz. Anehnya, Romli berdalil dengan ayat Al-Quran surat
Al-Furqan ayat 7 mengenai pertanyaan kaum musyrikin Mengapa Rasul ini
memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Kata pasar dalam ayat ini
sebagai contoh untuk menetapkan bahwa seorang Nabi semestinya berasal
dari malaikat. Karena malaikat tidak makan dan tidak ke pasar. Mereka
mencari alasan menolak kenabian Nabi Muhammad saw. Lebih
dari itu, ayat ini menunjukkan bahwa Muhammad telah menjadi Nabi, tidak
seperti anggapan Romli.
mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ada kabar dari Kota Gudeg.
Kemarin (Kamis, 13 September 2007), sekelompok orang berbendera Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) "menggeruduk" kantor KOMPAS perwakilan Yogyakarta.
Mereka memprotes tulisan di harian tersebut pada tgl 1 September 07, mengenai
Muhammad dan Cendekiawan Kristen karya M. Guntur Romli.
Ada yang bisa berbagi cerita?
mediacare
http://www.mediacare.biz
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.