-----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of ali alkatiri Sent: Friday, September 14, 2007 10:30 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [kahmi_pro_network] Saksi: Teluk Buyat Sehat____
Kebetulan saya termasuk anggota survei independen unutk dugaan pencemaran teluk buyat oleh PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR) Tahun 2004, jadi aku ikut nimbrung : Sebelum didirikan ada studi AMDAL yang salah satunya menyatakan bahwa kehadiran lapisan termoklin*) berada sekitar kedalaman 30 s/d 60 meter jadi bagi PT NMR dia merasa aman membuang limbah tailing di kedalaman 80-100 . Penyebutan kedalaman lapisan termoklin ini kerap pula dicantumkan dalam dokumen pemantauan triwulanan PT NMR sedikit teoritis : *) Lapisan termoklin adalah suatu lapisan massa air yang stabil, terbentuk sebagai akibat adanya stratifikasi suhu secara vertikal di lautan. Akibat pengaruh daya penetrasi sinar matahari terhadap kedalaman laut maka laut dari permukaan sampai ke dasar secara umum terbagi menjadi tiga lapisan massa air yaitu lapisan homogen (= lapisan massa air yang memiliki kesamaan suhu dan salinitas karena proses percampuran massa air akibat gaya angin permukaan, lapisan ini untuk perairan Indonesia hadir pada kedalaman 0-100 mtr) Lapisan kedua adalah lapisan termoklin, lapisan ini merupakan lapisan perantara antara lapisan homogen dengan lapisan dalam, lapisan termoklin memiliki densitas yang tinggi seiring dengan gradient penurunan suhu (delta T) yang paling tinggi. Karena stabilnya massa air ini maka massa air diatas/dibawahnya tidak bisa menembusnya. Kestabilan lapisan ini juga menyebakan gelombang suara yang ditembuskan ke llapisan ini senantiasa akan dipantulkan ke atas bila mengani lapisan termoklin, sehingga area ini sering disebut sebagai shadow zone. Untuk tujuan pertahanan keamanan , keberadaan lapisan shadow zone ini sangat perlu dipetakan secara teliti, lapisan ini sering disusupi kapal selam asing. Kadang kita sering mendengar adanya kapal selam asing yang menyelinap di perairan kita dan setelah keluar ke perairan Internasional meraka baru lapor.Lapisan termoklin di Indonesia dijumpai pada kedalaman 100- 300 mtr. Pada kondisi tertentu lapisan termoklin tidak ditemukan atau ditemukan terpotong yang disebabkan adanya mekanisme pengangkatan/penenggelaman massa air oleh gaya-gaya alam yang bekerja. Ketiga, Lapisan dalam, lapisan ini berada di bawah lapisan termoklin dan sama sekali tidak mendapat pengaruh penyinaran matahari, kehidupan disini sangat gelap dan dingin. Tanggapan saya : Hasil survei kami (Tahun 2004) sebagaimana telah disampaikan ke publik, membuktikan bahwa lapisan termoklin di beberapa stasiun penelitian tidak menunjukan kenampakannya artinya proses percampuran massa air dapat terjadi dari permukaan sampai dasar (karena kedalaman pembuangan tailing di area itu sekitar 80 -100 mtr) sehingga limbah tailing ini juga dapat terangkat ke permukaan ini juga bisa dibuktikan dengan nilai kekeruhan serta TSS (total suspended solids) yang tinggi di perairan tsb.Dalam titik ini dugaan kuat pencemaran bisa saja terjadi. Selanjutnya hasil penelitian ini ternyata dibawa ke ranah lain, saya lelah mengikutinya sampai tdk tahu endingnya dimana...... Meski akhirnya didepan satu menteri, pakar PT NMR ini secara implisit bilang bahwa lapisan termoklin tidak penting karena kehidupan biota dan kondisi unsur-unsur toksik di air laut kecil/di bawah baku mutu, tapi saya menangkap bahwa mereka telah melakukan "kebohongan" dalam studi AMDAL. Sebenarnya alasan dari boss NMR juga gampang dipatahkan karena laut ini memiliki dinamika yang bisa menyebabkan flushing (pencucian) massa air oleh mekanisme angin, jadi saya juga tidak mau mendasarkan penuh pada hasil-hasil analisa tim air, apalagi survei dilakukan setelah NMR tutup 1 tahun. Untuk tim selanjutnya saya menyarankan untuk survei sedimen dan organisme dasar perairan yang sessil/menetap, agar pengaruh pencemaran dapat nyata terdeteksi. Juga sampel darah, rambut dll manusia yang tinggal di seitar lokasi perlu diperiksa sampelnya. Sebenarnya ada beberapa kebohongan lain yang vital dilakukan PT NMR, tapi kayaknya percuma...bumi kita ini sudah dipenuhi para kapitalis, para pembeo, yang pendek hitungannya...... Memang dari sejak didirikan (studi Amdal) sampai monitoringnya para peneliti UNSRAT terlibat aktif, sampai sampai dalam setiap rapat tim UNSRAT datang lengkap dengan rektornya, mereka sangat kompak dengan pejabat dari Dirjen Pertambangan.Saya dengar sepintas ( perlu cek ulang) ada satu dosen UNSRAT yang cukup vokal dan punya pandangan lain dari hasil tim resmi UNSRAT tapi sayang yang bersangkutan diskors.Tanpa mengecilkan peran UNSRAT, bila masu serius bentuk lagi tim lintas departemen, LSM dll untuk kaji ulang atau melakukan riset terbatas lagi.... Newmont di Teluk BUyat belum beres, mereka buka lagi di Sumbawa dengan ekskalasi pengusahaan yang lebih luas, padahal selatan perairan NTB merupakan daerah ruaya penting ikan tuna sirip biru yang sngat mahal dan bisa melakukan regenerasi alamiah tanpa menyebabkan kesensaraan lingkungan dan manusia,...lagi-lagi bumi kita memang sudah banyak dihuni para kapitalis, berpikir pendek untuk margin sesaat.... Bang Sud Dion <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sumber : http://www.sumbawanews.com/view=lihatartikel&id=8340&topik=1&hal=1 Kamis, 13 September 07 (17:36) - oleh : admin Jakarta, Sumbawanews.com..- Dalam persidangan kasus perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini, tiga saksi ahli dan fakta dari Universitas Sam Ratulangi sekaligus bersaksi bahwa sumber daya laut Teluk Buyat sehat. Mereka menyatakan bahwa tailing PT Newmont Minahasa Raya (PTNMR) tidak mengganggu keseimbangan ekosistem di Teluk Buyat. Keterangan mereka tersebut bertolak belakang dengan tuduhan Walhi sebagai pihak penggugat. Salah satu saksi yang dihadirkan oleh pihak PT NMR adalah Otty Lalamentik, seorang peneliti di bidang ekologi terumbu karang dari Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Beliau telah mengadakan survei terumbu karang setiap tahun di sekitar Teluk Buyat selama lebih dari 10 tahun. Otty Lalamentik dan tim ahli kelautannya meneliti keadaan terumbu karang di Teluk Buyat untuk mengetahui kecenderungan tingkat kesehatan ekosistem terumbu karang. Saksi lain, Dr Daniel Limbong, adalah ahli di bidang ekosistem daerah perairan pesisir. Beliau juga salah satu anggota tim yang melaksanakan kajian teknis laporan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2004 mengenai Teluk Buyat. Selain kedua saksi ahli tersebut, PTNMR juga menghadirkan Ricky Telleng sebagai saksi fakta dan ahli sekaligus yang memberikan kesaksiannya seputar populasi ikan dan keragaman kehidupan laut di Teluk Buyat. Beliau telah mengadakan penelitian mengenai tangkapan ikan di Teluk Buyat sejak tahun 2004. Dia menyatakan menemukan 132 jenis ikan dan jumlahnya pun banyak. Secara singkat, keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para saksi dan ahli tersebut adalah: Terumbu Karang Stabil Hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli UNSRAT selama sepuluh tahun terakhir dan menunjukkan secara konsisten adanya kehidupan ekosistem terumbu karang yang baik di Teluk Buyat. Berdasarkan data pemantauan, sangat jelas bahwa tailing PTNMR tidak berdampak buruk pada komunitas ikan karang atau terumbu karang di Teluk Buyat. Faktanya, hasil upaya konservasi lingkungan menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di sekitar Teluk Buyat stabil, dan keragaman dan tutupan karang besar. Populasi ikan dan terumbu karang tetap stabil sejak penelitian awal, selama dan setelah kegiatan operasi tambang. Populasi Plankton Laut Laporan revisi yang dibuat oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada November 2004 membuat kesimpulan yang tidak tepat bahwa fitoplankton telah terkena dampak buruk di Teluk Buyat, karena metode pengambilan kesimpulan sampel plankton yang mereka gunakan tidak tepat pula. Pemantauan air yang dilakukan secara ekstensif selama dan setelah kegiatan operasi tambang menemukan bahwa konsentrasi arsenik pada zona eufotik (kurang dari 50 meter) di Teluk Buyat secara konsisten memenuhi baku mutu air laut Indonesia yang paling ketat. Data mutu air laut sendiri menunjukkan secara obyektif bahwa populasi plankton di Teluk Buyat sama sekali tidak terpengaruh oleh tailing PTNMR. Populasi Ikan di Teluk Buyat Hasil penelitian yang dilakukan sejak tahun 2004 menemukan masih terdapat banyak jenis ikan yang hidup di Teluk Buyat, yaitu ditemukan 132 jenis. Faktanya, jenis ikan yang ditemukan di Teluk Buyat lebih banyak daripada jenis ikan yang ada dalam daftar ikan komersial yang ditetapkan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan sebelum operasi. Ikan-ikan tersebut dapat ditemukan di permukaan maupun dasar laut, dan sebagian besar tangkapan ikan diperoleh dari daerah yang berada dalam jarak 1 mil dari pantai. Luhut M.P. Pangaribuan, Ketua Tim Pembela PTNMR menyatakan, ”Hasil- hasil penelitian yang dilakukan selama sepuluh tahun terakhir menemukan bahwa sumber daya kelautan tetap stabil dan sehat. Ini adalah sebuah indikasi yang sangat jelas bahwa kegiatan operasi tambang PTNMR tidak berdampak buruk terhadap ekosistem di Teluk Buyat.
No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.16/1004 - Release Date: 9/12/2007 5:22 PM
