Sebagai presiden suatu negara yang besar seperti Indonesia, sangat mengecewakan 
melihat bahwa sby menganggap globalisasi adalah sesuatu yang jahat.

Globalisasi adalah suatu "phenomena", yaitu sesuatu fakta atau kejadian yang 
terjadi, dan khususnya mengenai globalisasi, ini terjadi karena adanya kemajuan 
teknologi dibidang komunikasi dan transportasi, terutama dengan adanya 
internet, suatu bentuk komunikasi.

Ini sama saja dengan seseorang dijaman purba, pada waktu bahasa mulai 
terbentuk, menyebutkan bahwa komunikasi dengan menggunakan bahasa (yg. pada 
waktu itu tentu saja adalah sesuatu yang baru), adalah jahat.

Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan.   SBY ingin supaya 
Indonesia siap dan maju dan tidak ketinggalan di era globalisasi ini.  Tetapi 
dengan menggunakan perkataan 'jahat', maka bagi masyarakat yang tidak mengerti 
arti sesungguhnya dari globalisasi, tentu saja menimbulkan perasaan antipati.  
Jika sudah ada perasaan anti pati, bagaimana mungkin maka mereka itu akan 
berusaha/belajar untuk maju di jaman globalisasi ini?

Saya tersenyum pada waktu membaca apa yang dikatakan oleh SBY sbb:

"Tetapi ingat, globalisasi itu jahat. Ada yang mau mendominasi. Ada yang ingin 
mendapat untung sebanyak-banyaknya. Ada yang ingin mengatur berlebihan'

Hmmmmmmm ...... apakah mau mendominasi, mendapat untung sebanyak banyaknya dan 
mengatur berlebihan tidak dilakukan juga oleh orang2 Indonesia sendiri di NKRI? 
 ---> Jadi apa yang sedang terjadi di NKRI adalah globalisasi jahat? ---->  
Indonesia adalah suatu yang global? ---->  Indonesia adalah dunia?   :-)


"Pandji R. Hadinoto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                 
     KOMPAS, Kamis, 13 September 2007                       Paradigma Menuju 
Indonesia Maju 
 Kunjungan Presiden Diiringi Unjuk Rasa di Unpad
     Bandung, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan lima 
paradigma menuju Indonesia maju tahun 2050. Untuk mewujudkan cita-cita menuju 
Indonesia maju dengan lima paradigma itu, Presiden menyadari dan mengingatkan 
bahwa globalisasi yang telah, sedang, dan akan menggejala terus itu jahat.   
Pernyataan globalisasi itu jahat dikemukakan Presiden saat menyampaikan 
paradigma keempat, yaitu memperkokoh ketahanan dan kemandirian bangsa dalam 
kerja sama internasional yang konstruktif. Pidato ini disampaikan dalam orasi 
ilmiah dengan topik "Membangun Daya Saing Bangsa Menuju Negara Maju", dalam 
rangka Dies Natalis Universitas Padjajaran (Unpad) Ke-50.   "Tidak ada satu pun 
bangsa yang bisa mengisolasi diri, tidak mau bergaul dengan negara lain. Tetapi 
ingat, globalisasi itu jahat. Ada yang mau mendominasi. Ada yang ingin mendapat 
untung sebanyak-banyaknya. Ada yang ingin mengatur berlebihan," ujar Presiden, 
Rabu (12/9).   Agar tidak terseret dan menjadi korban
  jahatnya globalisasi, Presiden mengajak untuk meningkatkan daya saing melalui 
pengembangan teknologi, manajemen, dan jejaring. "Semua itu perlu kita 
tingkatkan agar tidak dijahati orang, tetapi tampil dengan kepentingan nasional 
dan menang dalam era globalisasi," ujarnya.   Empat paradigma lain menuju 
Indonesia maju yang dikemukakan Presiden adalah pembangunan nasional terpadu, 
berdimensi kewilayahan, dan kelestarian lingkungan; memadukan resource-based 
dan knowledge-based; pertumbuhan bersama pemerataan; serta mendorong peran dan 
kontribusi semua elemen dan warga bangsa.   Sebelum berbicara mengenai 
globalisasi, Presiden berbicara panjang lebar mengenai Konferensi Tingkat 
Tinggi APEC di Sydney, Australia, yang baru saja dihadirinya.   Unjuk rasa   
Orasi ini dihadiri petinggi dan pejabat Unpad. Belasan mahasiswa juga hadir 
dalam orasi ilmiah itu. Adapun belasan mahasiswa Unpad yang lain berdemonstrasi 
di depan pagar kampus.   Kepada civitas academica Unpad, Presiden
  berharap agar universitas yang diresmikan 11 September 1957 oleh Presiden 
Soekarno menjadi universitas kelas dunia.   Sempat terjadi insiden dalam upaya 
pengusiran paksa massa ini. Presiden BEM Unpad Reza Fathurrahman terkena 
pukulan pada bagian mulut dan tendangan di paha kanannya. Beberapa rekannya pun 
sempat dicekik aparat. Namun, tidak ada yang terluka parah. (INU/JON/YNT)
    
   www.asiabersama.com/kerabat45 
 
 
     
                               

Kirim email ke