Refleksi: Tidak aneh bila German yang puluhan ribu kilometer dari lokasi bencana sanggup mengetahui dan memberikan informasi yang lebih cepat dari pada ilmuwan Indonesia. Mungkin saja sebab musababnya ialah para ilmuwan Indonesia sibuk minum kopi atau lagi melakukan ritual itu dan ini. Jadi main "take it easy baby"!
MOD: Saya rasa klaim GFZ dari Jerman kurang tepat. Tiga menit usai gempa bumi yang paling cepat muncul justru dari sebuah situs di AS. Dan situs tersebut lebih banyak dijadikan acuan para miliser. Mungkin karena Bahasa Inggris lebih banyak penggunanya daripada Bahasa Jerman. Apakah informasi dari GFZ tersebut dalam Bahasa Jerman atau Bahasa Inggris? http://www.suarapembaruan.com/News/2007/09/14/Utama/ut02.htm SUARA PEMBARUAN DAILY Informasi Jerman Lebih Cepat 10 Menit [BERLIN] Para ilmuwan Jerman mengklaim kalau peringatan gempa dan tsunami yang mereka berikan kepada Indonesia lebih cepat 10 menit ketimbang Sistem Peringatan Dini Tsunami di Pasifik. Bahkan, Jerman menyampaikan peringatan kepada Indonesia tentang gempa di Sumatera pada Rabu (12/9) hanya dalam waktu lima menit. Demikian ungkap Profesor Joachim Zschau dari National Research Center for Geoscience (GFZ) di Postdam, dekat Berlin, Kamis (13/9). Menurut dia, waktu reaksi sistem yang ada di Jerman lebih cepat 10 menit ketimbang sistem peringatan dini tsunami di Hawaii. "Perlu waktu 10 hingga 20 menit sebelum tsunami men- capai daratan. Jika anda memiliki informasi yang cepat setelah terjadi gempa, anda bisa segera menyampaikannya kepada warga," tuturnya. Menurut Alexander Rudloff, juga dari GFZ, informasi yang diperoleh lembaganya itu langsung dikirim melalui satelit kepada 11 stasiun pemantau gempa untuk kemudian dikirimkan ke komputer di Jakarta. Perangkat lunak yang digunakan GFZ bernama "SeisComP". Sistem itu telah dipasang di sejumlah lokasi pemantau di Indonesia sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Secara keseluruhan, program pemasangan "SeisComP" di Indonesia akan selesai pada 2008. [AFP/O-1] Last modified: 14/9/07
