TV MAHA DIGDAYA ...

----- Original Message ----- 
From: B.DORPI P. 
To: !B.DORPI P. 
Sent: Saturday, September 15, 2007 5:30 AM
Subject: Re.: Berhenti Berpikir Cara Televisi 


kompas.com

Sabtu.  15 September 2007


Berhenti Berpikir Cara Televisi 


Yonky Karman 

Ini zaman melek televisi dengan perannya yang dominan dalam kehidupan 
masyarakat, dari kota hingga desa. Di pedalaman lebih mudah menemukan layar 
kaca daripada seperangkat komputer. 

Penduduk desa menyiasati keterpencilannya dengan antena parabola. Pada era 
informasi, besar kontribusi televisi yang mengajar pemirsa banyak hal, kecuali 
mematikannya. Kaum yang membela netralitas televisi berkilah, benda itu hanya 
medium komunikasi. Baik buruk pemanfaatannya bergantung pada konsumen. Namun, 
aforisme Marshall McLuhan masih benar. Medium membawa pesan (Understanding 
Media: The Extensions of Man, 1964). Lebih dari message, medium juga massage. 
Bentuk komunikasi itu menentukan isi komunikasi. Televisi bukan produk 
teknologi bebas nilai. 

Pendangkalan publik 

Tayangan televisi komersial pada dasarnya bersifat selingan, tidak menuntut 
banyak berpikir, memperpendek rentang perhatian. Diskursus publik tentang 
politik, agama, pendidikan, olahraga, atau bisnis dikemas dalam berbagai bentuk 
hiburan (entertainment), sebagai bagian bisnis pertunjukan. Penampilan dalam 
tayangan lebih penting daripada isinya. Medium ikut mendefinisikan realitas. 

Untuk memahami kultur suatu masyarakat, lihat medium komunikasinya yang 
dominan. Tayangan televisi merusak karakter reflektif manusia. Iklan komersial 
dikemas menarik sampai tak ada hubungan dengan kualitas dan manfaat produk yang 
diiklankan. Orang dibujuk membeli karena pencitraan. Kesan pertama dibuat 
menggoda, selanjutnya terserah pemirsa. 

Sebuah produk mencantumkan peringatan serius untuk tidak mengonsumsi karena 
merusak kesehatan. Namun, iklannya amat indah membawa pesan keindonesiaan yang 
merekatkan bangsa. Tayangan rutin yang mengeksploitasi tindakan sadis tidak 
memupuk iba atas korban, tetapi menumpulkan nurani. Banalisasi kejahatan, 
kekerasan, kekejaman, dan penderitaan. Pernikahan kehilangan sifat sakralnya. 
Ketika bencana nasional menjadi breaking news, berlangsung konstruksi sekaligus 
dekonstruksi rasa haru. 

Neil Postman merisaukan kultur di AS pada paruh kedua abad ke-20 dan seterusnya 
(Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business, 
1986). Abad pertelevisian telah menggeser abad percetakan (tipografi). Pesona 
tulisan tergeser pesona tayangan. Bisnis surat kabar di AS terdesak televisi 
dan mesin pencari berita, opini, dan iklan seperti Google dan Yahoo. 

Sebagian masyarakat AS tengah memasuki kultur lisan fase kedua. Fase pertama 
sebelum orang berkenalan dengan budaya tulisan dan hidup dalam tradisi lisan. 
Kultur lisan fase kedua bersifat high-tech didukung peralatan elektronik 
seperti televisi dan komputer (Walter J Ong, Orality and Literacy: The 
Technologizing of the Word, 1982). Menonton televisi tidak perlu melek huruf. 

Akibat pengaruh televisi di AS, terjadi pergeseran kultural. Dari kultur yang 
berpusat pada kata kepada kultur yang berpusat pada gambar, tanpa kecenderungan 
berbalik arah dan nyaris tanpa protes. Orang tertidur di depan televisi yang 
masih hidup, menghibur diri sampai mati. Dibanjiri tayangan yang tak berkait, 
orang menjadi terbiasa mementingkan hal-hal sepele terkait perasaan dan 
kenikmatan, menjadi pasif dan akhirnya egoistis. 

Pesona televisi dapat melumpuhkan minat baca kita yang notabene masih rendah. 
Ada korelasi kemajuan bangsa dengan kegemaran membaca. Masih rendahnya minat 
baca kita terlihat dari 4.800 judul buku yang dicetak per tahun di Indonesia, 
sementara Malaysia 7.000, Thailand 8.000, Jepang 10.0000, Korea Selatan 43.000, 
Amerika Serikat 50.000. 

Tahun 2003, belanja masyarakat Indonesia untuk rokok Rp 150 triliun per tahun, 
tetapi belanja surat kabar hanya Rp 4,9 triliun. Berbeda dari di AS, sebagian 
besar masyarakat Indonesia belum beranjak dari kultur lisan fase pertama. Belum 
sempat memiliki budaya baca, orang yang terperangkap budaya televisi tanpa 
disadari memasuki budaya lisan yang lain, sekaligus berada dalam dua fase 
kultur lisan. 

Pada temu koordinasi nasional pelaksanaan gerakan nasional percepatan 
pemberantasan buta aksara di Jakarta, 11 Juli, Mendiknas Bambang Sudibyo 
menegaskan, cara paling mudah, murah, dan cepat meningkatkan indeks pembangunan 
manusia (IPM) adalah dengan pemberantasan buta aksara. Penduduk Indonesia yang 
buta huruf pada akhir 2009 ditargetkan menjadi 5 persen. 

Namun, data di kantung-kantung kemiskinan yang tersebar di 1.236 kecamatan atau 
20.633 desa miskin menunjukkan, masyarakat usia 15-44 tahun mengidap tiga 
kebutaan: buta aksara, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan umum/ 
pendidikan dasar. Mereka belum mengenyam pendidikan dasar atau cuma beberapa 
tahun di SD lalu putus sekolah. 

Tanggung jawab bersama 

Penuntasan tiga buta itu mendapat hambatan serius dari pesona elektronik yang 
membuai dan menjauhkan masyarakat dari barisan huruf. Pemerintah tidak boleh 
berdiam diri membiarkan industri pertelevisian secara tak langsung melestarikan 
kemiskinan. Warga miskin yang lemah perlu dilindungi dari dekadensi moral dan 
psikologis akibat tayangan yang hanya mengikuti selera pasar. 

Sejauh ini industri pertelevisian menganut sistem tunggal rating kuantitatif 
yang tak peduli dengan efek pembodohan tayangan. Yang dilihat hanya peringkat 
dan jumlah penonton, padahal rating tidak mencerminkan kualitas tayangan. Bisa 
saja tayangan buruk memiliki rating tinggi (Erica L Panjaitan dan TM Dhani 
Iqbal, Matinya Rating Televisi, 2006). Efek pembodohan itu bertentangan dengan 
upaya mencerdaskan bangsa. 

Jangan berharap banyak pada industri pertelevisian yang berorientasi bisnis. 
Untuk membendung efek pembodohan dan meningkatkan efek pencerdasan televisi, 
Kementerian Komunikasi dan Informatika dapat mengeluarkan rating tandingan yang 
memperhitungkan dampak sosial tayangan terhadap psikologi penonton. 

Gagasan Garin Nugroho bersama Yayasan SET (Sain, Estetika, dan Teknologi) dan 
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia untuk memelopori rating publik sebagai 
alternatif perlu didukung. Rating kualitatif itu melibatkan 560 orang dari 
berbagai latar profesi (dosen/guru, aktivis LSM, jurnalis/redaktur, 
profesional/pebisnis, pemuka masyarakat) di 14 kota besar. 

Sebuah keluarga yang saya kenal "menyelamatkan" keempat anaknya dengan 
menempatkan televisi di ruang belakang, hanya ditonton seperlunya. Tayangan 
juga dapat menjadi obyek puasa. Keadaban bangsa tak boleh digadaikan kepada 
kapitalisme berjubah media. 

Yonky Karman Rohaniwan 




Kirim email ke