Soal melecehkan agama atau kepercayaan lain dalam republik ini, 
rupanya sudah menjadi kebiasaan, dan dianggap sah sah saja.

Padahal, fenomena ini menunjukkan adanya api dalam sekam, yang suatu 
saat pasti meledak. Ketidak mampuan bangsa ini ber multi budaya, 
mengakui pluralisme akan sautu saat membelah bangsa ini. Soon or 
later.

Salam

Danardono


--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Wawancara dengan Goenawan Mohamad:
> "Boleh tersinggung, tetapi jangan memobilisasi kemarahan"
>    
>    
>   Pengantar:
>   Di tahun ini, panggung susastra Indonesia agak panas dengan 
munculnya gerakan-gerakan yang "menghujat" TUK (Teater Utan Kayu). 
Mereka menuding TUK , baik secara terang-terangan  maupun diam-diam, 
sebagai sarang "Gerakan Syahwat Merdeka" (GSM). Istilah tersebut 
pertama kali dicuatkan oleh  Taufik Ismail. Ada yang bilang, GSM 
yang dimaksud adalah inisial dari nama lengkap sastrawan kondang 
Goenawan Soesatyo Mohamad yang 
>   akrab dipanggil GM - salah seorang pendiri Majalah TEMPO.
>    
>   Lalu muncul ikrar "Ode Kampung" di Rumah Dunia Banten yang 
juga "menghajar" TUK. Kelompok yang dimotori oleh Saut Situmorang 
dan kawan-kawan ini tak kenal lelah terus 'mengonceki' para tokoh 
KUK, seperti Nirwan Dewanto, Ayu Utami, Hasif Amini, Sitok Srengenge 
dan lainnya. Di mata Saut yang nyalang, mereka tidaklah layak 
digelari sebagai sastrawan. 
>    
>   Tak heran, di berbagai forum termasuk di milis-milis, Saut dan 
kawan-kawan terus berkampanye untuk menghajar mereka dari berbagai 
sudut. Namun, tonjokan-tonjokan yang mereka lakukan selalu berbalas 
pantun dengan orang-orang yang tak setuju perseteruan itu, apalagi 
kalau dilakukan dengan bahasa yang kurang santun.
>    
>   Puncaknya adalah kala harian Media Indonesia memuat sebuah 
artikel tentang acara berkelas internasional yang digelar oleh TUK 
dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) beberapa waktu lalu. Karena isinya 
amat memojokkan  TUK, tak heran kalau TUK bereaksi keras dengan 
mencap artikel tersebut penuh dengan lumuran dusta. Menurut kabar 
>   terakhir dari Saut  Situmorang melalui email, penulis artikel 
tersebut telah digeser jabatannya. 
>    
>   Namun kini, Rumah Dunia yang konon anti pornografi belum 
bereaksi ketika puisi Saut Situmorang yang "panas" termuat di Harian 
Republika.  Selain "berbau ranjang bergoyang", puisi tersebut juga 
menyinggung perasaan sebagian umat Hindu Bali, karena jelas-jelas 
menyebut  "pura" dan "Dewa". Reaksi dan komentar pun mengalir, baik 
di milis  maupun blog. 
>    
>   Sayangnya,  untuk kasus yang amat serius ini redaksi  Republika 
masih diam seribu bahasa. Padahal Republika baik sengaja atau tidak 
telah melukai hati umat Hindu Bali. Beberapa umat Hindu pun 
melayangkan tanggapan ke redaksi Republika, namun tak ada balasan. 
Mereka cuma berharap agar tanggapan tersebut minimal dapat dimuat di 
Surat 
>   Pembaca. Mereka juga tak menginginkan harian Republika untuk 
meminta maaf kepada mereka.
>    
>   Berikut wawancara khusus Rizka Maulana dengan GM yang 
berlangsung di Teater Utan Kayu (TUK) pada Jumat, 14 September 2007 
lalu:
>   
> RM:  Apakah mas Goen mengikuti keramaian di internet karena satu 
sajak Saut Situmorang dianggap menyinggung perasaan umat Hindu Bali?
>    
>   GM:  Tidak langsung. Saya selalu dapat kiriman email dari teman-
teman.  Tetapi tidak semuanya sempat saya baca.  Tetapi seorang 
teman mengirimkan khusus soal yang Anda sebut tadi.
>    
>   RM:  Menurut mas GM, apakah sajak Saut itu menghina agama Hindu  
Bali?
>    
>   GM:  Saya bukan orang Hindu Bali, tetapi saya tidak mau 
berlebihan.  Teman saya Ging Ginanjar yang kini mukim di Jerman 
mengatakan, (saya kutip  menurut ingatan saya) bahwa agama dan umat 
Hindu tidak akan rusak karena sajak itu. Saya setuju dengan 
pendapatnya. Tetapi dapat saja terjadi bahwa ada  umat Hindu Bali 
yang tersinggung perasaannya.  Kan tidak bisa kita  melarang orang 
untuk tersinggung.
>    
>   Yang penting ialah bahwa ketersinggungan itu dinyatakan tetapi 
tidak memakai kekerasan dan memobilisasi kemarahan. Saya membaca 
tulisan I Gde Purwaka di blog Mediacare. Dia tersinggung tetapi 
tidak akan men-somasi atau mendemonstrasi Republika.  Saya kira itu 
>   sikap  yang dewasa dan terhormat. Berbeda dengan sikap sejumlah 
organisasi yang mengatas-namakan Islam yang sedikit-
sedikit "terhina" dan berdemo.
>    
>   RM: Tetapi kenyataan bahwa sajak itu dimuat di "Republika" yang 
dianggap suara Islam bagaimana?
>    
>   GM: Seharusnya tidak jadi soal di mana saja itu dimuat. Sebuah 
sajak kan bukan sebuah editorial.  Lagipula harus dibuktikan dulu, 
apakah "Republika" adalah "suara Islam".  Islam itu tidak satu 
ekspresinya dan "Republika" juga tidak selamanya dianggap satu suara 
utuh, apalagi ini bukan dalam halaman editorial. 
>    
>   Kalau tidak, kita akan terjatuh ke dalam teori komplotan:  gara-
gara sajak itu dimuat Ahmaddun, maka itu berarti itu cerminan sikap 
anti Hindu "Republika" apalagi "Islam".  Saya kira Ahmaddun 
memuatnya tidak dengan maksud menghina.
>    
>   RM: Menurut mas GM, apakah sajak Saut itu bermutu?
>    
>   GM: Menurut saya, sajak itu bukan sajak yang mengejutkan dalam 
hal kekayaan imajinya, dan di sana-sini belum orisinal, tetapi 
agaknya bukan sajak yang buruk. Ada beberapa sajak Saut yang saya 
suka, karena tidak melingkar-lingkar.
>    
>   RM: Wah, kan Mas GM orang TUK.  Kan TUK tidak suka karya-karya 
sastrawan yang tidak dekat dengan TUK.  Apalagi Saut.
>    
>   GM: TUK itu kan bukan organisasi. TUK kan tempat kegiatan seni 
dan gagasan. Di TUK tidak selamanya kami sepaham dalam menilai 
karya – dan kami umumnya tidak membicarakan karya Saut, atau yang 
lain, karena masing-masing sibuk. Kami cuma bertemu seminggu sekali 
untuk merancang program. Itu saja sudah berat.
>   
> RM:  Jadi Mas GM, Hasif Amini, Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge 
tidak selalu sependapat?
>    
>   GM:  Ya, dong. Sekali lagi, TUK itu bukan organisasi, bukan 
mazhab.  Hasif Amini bekerja untuk Kompas dengan timnya sendiri, 
Nirwan di Koran Tempo begitu juga.  Malah sajak saya pernah tidak 
dimuat oleh Hasif.
>     
>   RM:  Begitu ya?  Sajak yang mana?
>    
>   GM: Judulnya "Di Korintha".  Akhirnya sajak itu saya muat di 
buku pernikahan Hamid Basyaif.
>    
>   RM:  Mas GM ngambek?
>    
>   GM: Ya, nggak lah. Kan penilaian saya terhadap karya sendiri 
tidak selalu benar. 
>    
>   RM: Kalau di Koran Tempo?
>    
>   GM: Saya dapat kesan (tapi tidak pernah saya tanyakan) Nirwan 
baru mau memuat tulisan saya untuk rubrik yang diasuhnya kalau sudah 
nggak ada tulisan lain. Nirwan sangat ketat (dan saya anggap sangat 
bagus) dalam  menjaga asas: jangan  sampai mentang-mentang karya 
orang TUK dan Tempo, maka gampang diterima.
>    
>   RM: Terima kasih, Mas Goen. Ini menarik sekali.
>    
>   Catatan:
> Hasil wawancara ini boleh dikutip seperlunya oleh rekan-rekan 
wartawan tanpa perlu minta izin sebelumnya.
>   
>  
> 
> 
> e-mail: [EMAIL PROTECTED]  
>   blog: http://mediacare.blogspot.com  
>    
> 
>        
> ---------------------------------
> Luggage? GPS? Comic books? 
> Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.
>


Kirim email ke