Apakah koran Radar Banten masih terbit? Sepertinya ganti nama menjadi Satelit News.
salam, rd ----- Original Message ----- From: infokespro To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, September 17, 2007 9:05 AM Subject: [warga] Fwd: Beritakan Kemiskinan, Pemred Radar Diperiksa --- In [EMAIL PROTECTED], "infokespro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Beritakan Kemiskinan, Pemred Radar Diperiksa By redaksi CILEGON - Gara-gara memberitakan tentang kesulitan ekonomi/kemiskinan yang dialami keluarga Sabawi (40), warga Kampung Langonsari, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Pemimpin Redaksi Radar Banten Muhamad Widodo diperiksa polisi sebagai saksi. Selain memeriksa Widodo, polisi juga memanggil Ratu Falia, wartawan Radar Banten, untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang sama. Pemeriksaan yang dilakukan Polsek Pulomerak, Senin (10/9) sore, terkait laporan Camat Pulomerak Andi Afandi terhadap Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Cilegon M Iqbal, Kamis (30/8) lalu. Polsek Pulomerak lantas memanggil beberapa saksi terkait pemberitaan mengenai keluarga Sabawi yang diberitakan hanya mengonsumsi daun singkong dan jantung pisang. "Ya, saya sudah diperiksa polisi, Senin lalu, selama sekitar satu jam. Yang memeriksa Bripka Suparyo. Ada 11 pertanyaan yang harus saya jawab, seputar pemberitaan Pak Sabawi. Termasuk materi obrolan saya dengan keluarga Pak Sabawi," kata Widodo, tadi malam. Menurut Widodo, sebagai warga negara dirinya harus taat hukum memenuhi panggilan polisi. Ini konsekuensi dari kerja seorang wartawan. Sebab, berita yang menurut wartawan baik dan layak diberitakan belum tentu menurut pihak lain baik dan layak diberitakan. Apalagi, lanjutnya, polisi membidik kasus ini dengan Pasal 207 KUHP yang isinya, "Barangsiapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Penghinaan secara pribadi kepada pegawai negeri waktu sedang menjalankan jabatan dengan sah adalah merupakan penghinaan kepada suatu badan kekuasaan negara. "Isi pasal sangat serius dan tidak main-main. Makanya, saya juga tidak main-main dalam merespons kasus ini," lanjut Widodo. Radar Banten, kata M Widodo, dalam memberitakan kesulitan ekonomi keluarga Sabawi berpijak pada realitas bahwa kehidupan keluarga Sabawi memang benar-benar memprihatinkan dan pantas untuk diangkat sebagai berita. "Dengan diberitakan kesulitan keluarga Sabawi sedikit teratasi. Banyak pihak yang kemudian menyumbang. Terakhir dibantu Pak Sam Rahmat (Ketua Kadin Cilegon-red)," kata Widodo. Menurut Widodo, dirinya turun langsung menemui Pak Sabawi, istri, dan anak-anaknya sambil membawa bantuan beras, mi instan, susu, sarden, dan makanan kecil (Radar Banten, edisi Jumat (24/9/2007). "Saya tanya kondisi kehidupannya, saya lihat rumahnya. Dia bercerita sambil menahan air mata, dan kesulitan hidupnya layak untuk diberitakan dengan maksud ada pihak-pihak lain yang terketuk untuk membantu Pak Sabawi, mencarikan pekerjaan. Tak ada tendensi, apalagi maksud-maksud tertentu di balik pemberitaan," lanjut Widodo. Widodo menyatakan tak habis pikir kenapa berita soal kemiskinan dipermasalahkan. "Persoalan keluarga Sabawi adalah persoalan kemanusiaan, bukan persoalan politis. Soal informasi tentang kondisi keluarga Sabawi bisa datang dari siapa saja. Bisa dari warga, bisa dari Iqbal (Ketua PPMI Cilegon-red), bisa dari Pemkot atau polisi sekalipun. Dan, itu sah-sah saja, tidak haram. Yang terpenting begitu mendapatkan informasi, wartawan langsung kroscek, dengan turun langsung ke lapangan," tambah Widodo. Ditambahkan Widodo, Radar Banten tidak disetir atau diintervensi oleh siapa pun terkait pemberitaan Sabawi. "Kita punya wartawan yang bisa melakukan investigasi ke lapangan. Sehingga berita yang keluar tidak dipengaruhi oleh siapapun," pungkasnya. Radar Banten mulai memberitakan tentang Sabawi mulai Kamis (23/8), Jumat (24/8) dan beberapa berita selanjutnya terkait dengan itu. Dalam berita pada Kamis dan Jumat itu, tak ada satu kalimat pun yang merupakan pernyataan M Iqbal. Iqbal juga tak mengintervensi berita Radar Banten. "Radar Banten ketemu langsung dan tanya kepada Pak Sabawi," pungkas Widodo. MASIH DALAMI Di tempat berbeda, Kapolsek Pulomerak AKP Afrizal membenarkan adanya pemanggilan beberapa saksi. Kata dia, yang melaporkan kasus ini ke polisi adalah Camat Pulomerak Andi Afandi dan yang dilaporkan adalah Iqbal. Kata Afrizal, pihak pelapor membawa kliping sejumlah media lokal yang memuat pemberitaan kemiskinan keluarga Sabawi. "Pelapor membawa kliping koran yang menulis tentang Sabawi, itu yang dijadikan barang bukti," ungkapnya. Kata Afrizal, tengah mendalami kasus. "Semua masih dalam pemeriksaan, kalau dianggap perlu kami akan memanggil sejumlah saksi-saksi lain," tambahnya. Hingga kemarin, polisi sudah memeriksa Sabawi, Iqbal, Pemred Radar Banten M Widodo dan wartawan Radar Banten Ratu Falia. Sabawi diperiksa pada Jumat (7/9). Sehari setelah itu, Iqbal diperiksa selama kurang lebih lima jam. "Saya diperiksa dari pukul 10 sampai jam lima. Pertanyaan seputar pemberitaan di Radar dan berapa kali saya ke tempat Sabawi dengan wartawan," kata Iqbal. Kata Iqbal, pihak kepolisian sempat menanyakan keberadaan dirinya di kediaman Sabawi saat Radar Banten memberikan sumbangan kepada keluarga Sabawi. "Saya berada di sana kebetulan akan mengambil surat lamaran kerja anaknya Sabawi yang tertua untuk saya masukkan ke pelabuhan," jelasnya. Pada bagian lain, Kabag Infokom Pemkot Cilegon Soleh mengatakan, masih menunggu proses hukum yang dilakukan kepolisian. "Ini kan laporan camat soal pasal 207 dan prosesnya masih berjalan, ya kita tunggu saja hasilnya," ungkapnya. (del) URL: http://www.radarbanten.com/mod.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=16595 [Sumber: Harian "Radar Banten", Serang, 13 September 2007] Awalnya Merasa Aneh, Tapi Lama Kelamaan Biasa Juga Sabawi, Yang Sehari-Hari Terpaksa Hanya Bisa Makan Daun Singkong & Jantung Pisang By redaksi Melambungnya harga kebutuhan pokok saat ini membuat sejumlah keluarga dari golongan kurang mampu tak bisa mendapat makanan yang cukup untuk memenuhi standar kalori yang dibutuhkan. Hasilnya, satu keluarga di Pulomerak terpaksa makan daun singkong sebagai pengganti nasi karena tak mampu membeli beras dan lauk pauk. RATU FALIA RAHMI M - CILEGON MESKI Cilegon telah lama disebut kota, namun di bagian barat daerah ini masih dapat kita temui satu keluarga yang selama beberapa bulan ini memakan daun singkong dan jantung pisang sebagai pengganti nasi dan lauk pauk. Nasib tragis ini dialami satu keluarga di Kampung Langon Sari, Kelurahan Mekar Sari, Pulomerak. Terhitung sudah tiga bulan pasangan suami istri Sabawi (40) dan Samdasah (39) mengganti menu sehari-hari mereka dengan daun singkong dan jantung pisang. Setiap hari, pasangan ini terpaksa harus memberi makan sembilan anaknya hanya dengan jantung pisang dan daun singkong yang diperoleh dari kebun milik tetangga yang tak jauh dari kediaman mereka. Sabawi yang juga mantan guru ngaji mengaku awalnya tak mudah membiasakan diri mengonsumsi daun singkong dan jantung pisang. "Awalnya aneh juga makannya, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa," ujar Sabawi. Hal senada dikatakan Samdasah. Bahkan, awalnya ia sempat saksi jika daun singkong dan jantung pisang yang dikonsumsinya bisa menahan rasa lapar. Namun, daripada harus meminta belas kasihan tetangganya, ia pun terpaksa mengonsumsi tanaman yang biasa untuk sayur tersebut. "Mau bagaimana lagi, Bapak tidak punya kerja, uang kami juga tidak punya. Jadi kalau mau makan hanya mengandalkan belas kasihan tetangga. Sudah bisa makan daun singkong dan jantung pisang saja kami sudah alhamdulillah," lirihnya. *** URL: http://www.radarbanten.com/mod.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=15614 [Sumber: Harian "Radar Banten", Serang, 23-Agustus-2007] *Sabawi, Yang Sehari-Hari Terpaksa Makan Daun Singkong & Jantung Pisang (2-Habis) Ketemu Nasi 2 Kali Seminggu, Minta Dicarikan Pekerjaan By redaksi "Makan ya seketemunya. Kadang seminggu dua kali. Itu juga kalo ada tetangga riungan," ucap Sabawi (40) lirih. Wajahnya mulai sembab tak kuasa menahan linangan air mata. Muhamad Widodo & Ratu Falia - Cilegon Bergantian dengan sang istri, Samdasah (39), Sabawi menjawab setiap pertanyaan Radar Banten yang kemarin bertandang ke rumahnya, di lereng sebuah bukit Kampung Langon II, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Keluarga Sabawi selama dua hari terakhir ini mendadak "terkenal". Beberapa media cetak dan elektronik datang silih berganti untuk menanyakan kondisi perekonomiannya yang membuat setiap orang iba. Betapa tidak. Dalam tiga bulan terakhir ini, keluarga dengan sembilan putra-putri yang masih kecil-kecil ini, hanya mengonsumsi daun singkong dan jantung pisang sebagai makanan utamanya. Makan nasi hanya beberapa kali dalam seminggu. Itu juga ketika ada tetangga yang menggelar hajatan atau yasinan. Selebihnya sang kepala keluarga Sabawi, sering menjalani puasa hingga 40 hari. "Kalo ada makanan ya buka puasa, kalo nggak ada ya tidak," katanya sambil memangku putri ke-8-nya yang tampak sehat. Dengan air mata yang tertahan, Sabawi menceriterakan penghidupannya yang serba susah di ruang tamunya berukuran 2 x 2,5 meter tanpa kursi. Rumahnya berdinding bambu berdempetan dengan rumah tetangganya nyaris tanpa halaman. Para tetangganya dengan santun akan langsung menunjukkan rumah keluarga Sabawi, yang berada paling atas di antara rumah warga di lereng bukit itu. Sebagai kepala keluarga, Sabawi sudah berusaha ke sana kemari untuk mencari pekerjaan. "Kadang malem, kadang pagi, saya keliling seputaran Cilegon. Saya temui anggota dewan, saya minta pekerjaan apa saja. Tapi, ngggak ada yang ngasih kerjaan. Saya nggak mau menggemis," ujarnya lagi-lagi berlinang air mata. Kepada setiap orang yang dianggapnya punya koneksi, ia selalu meminta tolong untuk mencarikan pekerjaan apa saja, yang penting halal. "Yang penting saya dapat memberikan makan anak-anak. Saya kasihan sama anak," katanya. Kendati perekonomian keluarga ini amatlah sulit, namun pendidikan anak diprioritaskan. Yang paling tua misalnya - adalah lulusan STM, yang kedua masih SMU. Bahkan ada yang sekolah di madrasah, yang setiap hari harus mengeluarkan ongkos Rp 10 ribuan. "Ya, ongkosnya dari mana saja," kata Samdasah sambil menunduk. Kini, putra pertamanya yang sudah lulus STM tengah diusahakan pekerjaan oleh Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia Cilegon M Iqbal, yang kemarin turut mendampingi Radar Banten menemui keluarga Sabawi ini. Siapa mau peduli? (*) URL: http://www.radarbanten.com/mod.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=15666 [Sumber: Harian "Radar Banten", Serang, 24 Agustus 2007] --- End forwarded message --- ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.487 / Virus Database: 269.13.21/1012 - Release Date: 16/09/2007 18:32
