Tujuh Tahun Sriti.com dan Puthut EA   Tujuh tahun silam, ketika tak satupun 
dari kami di komunitas Salju Bogor berhasil membuktikan mampu menjadi cerpenis, 
kami tak segera susutkan diri pantang dengan cerpen. Satu dua cerpen kami 
terpublikasi di sejumlah media. "Tapi, kapan, ya di muat di Kompas?" gerutu 
salah seorang dari kami. 
  Perjalanan yang belum sepadan untuk membusungkan dada, tujuh tahun berselang 
bahkan kadang kami merasa ciut hati ketika jumpa dengan banyak orang yang belum 
pernah tahu apa itu Sriti.com. Dan lagi-lagi, kami pantang susut dengan 
ketidaktenaran itu. Mulut kami lebih tangkas menyebar desas-desus agar kami 
bisa berpromosi terus. Mengapa harus terkenal, toh, kami paham dunia sastra 
memang bisa jadi bahan ledek-ledekan banyak orang.
  Tujuh tahun silam, ketika ide semangat menulis cerpen mengendur, kami tidak 
langsung membakar arsip-arsip cerpen yang kami jadikan bahan patokan. "Enggak 
bisa bikin cerpen, mending kita ngumpulin cerpen. Bikin web aja, arsipin 
cerpen-cerpen yang sudah dimuat di media massa. Siapa tahu, banyak orang 
perlu," ujar saya. "Ide bagus, tapi, idupnya dari mana?" tanya rekan saya, 
Taofik yang akrab disapa Wim itu.
  "Anggap saja website pelayanan, jadi hati ringan."
  "Kerja budaya," katanya.
  "Anggap saja isengan. Orang bilang apa, kek, biarin aja...Yang penting intens 
dulu aja." Kata saya.
   Lalu tujuh tahun berlalu. Bahkan kami belum berbuat banyak selain terus saja 
"berdarah-darah" dengan sejumlah masalah ini-itu. Lari dari warnet ke warnet. 
Menjelang tujuh tahun, kami punya dua hal yang yang membuat hati kami senang. 
Pertama kami mengadakan survei pembaca kami, dan yang kedua kami kedapatan 
anggota baru. Anggoro Gunawan. Lengkaplah kami, saya sendiri, Taofik Hidayat 
dan Sjaiful Masri, ditambah Anggoro Gunawan yang juga bersedia memeras banyak 
pikirannya untuk Sriti.com. 
  Awal tahun kami melempar survei ke 132 pembaca kami (dari 187 pembaca yang 
kami mintai data surveynya). Semua dipatok tanpa ukuran umur (karena pengunjung 
Sriti tersebar dari usia 13 tahun sampai 59 tahun), semuanya bukanlah cerpenis, 
mereka hanya pengunjung yang acap memberikan komentar lewat email, atau SMS 
kalau saja kebetulan mereka tahu kontak kami.
  Dari sana kami mengetahui, kalau sastra, dalam hal ini cerpen sastra (koran) 
bukan barang yang layak diremehkan. Kesemuanya adalah pembaca umum, kalau tidak 
enak dibilang awam. Hati kami sedikit gembira, setidaknya mereka mau membuang 
waktu untuk survei tanpa gimmick ini. Sebuah alasan lagi untuk terus memompa 
semangat bagaimana sebuah ikhtiar tak mudah dibilang "sampah".
  Kami mendapatkan sejumlah kesempatan bertanya, berikut ini adalah sedikit 
gambaran bagaimana survey sederhana ini bisa Anda simak.
  Nama cerpenis menjadi salah satu faktor yang kuat untuk membaca cerpennya. 
Sekitar 45 % yang menyatakan nama cerpenis menjadi jaminan. Sisanya adalah nama 
media (33%) , dan judul yang menarik (10%). Kami melihat ini adalah bagian dari 
dunia sastra sebagai dunia yang mulai menuju ke arah "mandiri". Kesan 
individualnya sudah mulai terasa. Nama jadi jaminan. Makin dia beredar (baik 
beredar muka maupun sering muncul di media akan menjadi daya tarik). Kesannya 
cerpenis itu seorang artis / entertainer, di mana nama adalah bagian dari daya 
tarik. Daya jual yang bisa menjadi pemaknet sebelum si awam tadi membaca. Ada 
arah independensi yang tinggi. Barangkali benar kata Bre Redana dari Kompas, 
kalau setiap penulis / sastrawan sekarang ini sudah menjadi selebritas juga.
  Kami menyodorkan pertanyaan lain, sebutkan tiga cerpenis yang paling disukai. 
Terlalu sulit untuk diduga, dan banyak kejutan yang membuat hati gembira. Nama 
lima besar terpilih adalah Puthut EA (20%), M. Dawam Rahardjo (15 %), Gunawan 
Maryanto (12%), Ratna Indraswari Ibrahim (12%), Eka Kurniawan (10%). 

lebih lengkap masuk ke:

www.sriti.com



       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

Kirim email ke