Membaca tulisannya Deni Yudiawan dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat, seolah Ibu 
Fatmawati adalah wanita murahan yang merebut suami orang secara kasar. Kalau 
dalam sinetron atau infotainment, itu sih wajar-wajar saja. Tapi kalau ini 
diungkap sebagai peristiwa sejarah, padahal yang bersangkutan tidak lagi bisa 
membela diri, maka itu kurang ajar namanya. Soalnya kenapa tidak dari dahulu 
cerita itu dimunculkan ?. Dalam bukunya Ramadhan KH, hal ini memang sedikit 
disinggung. Tapi apa memang begitu ?. Bukankah ini sebenarnya Autobiografi Ibu 
Inggit ?. Istri kedua Bung Karno ?. Jadi bisa saja penuh kesan subyektif. Soal 
lain mengenai malaria, bisa saja Bung Karno menderita serangan malaria saat di 
Bengkulu, padahal infeksi sudah didapat saat di Ende. Perang mulut rupanya 
sering terjadi justru saat tinggal di Pegangsaan Timur 56 (1943). Dalam buku 
autobiografinya yang ditulis Cndy Adam, Soekarno mengaku sempat ngungsi tidur 
ke pavilyun, karena Ibu Inggit melayangkan piring terbang.
 Yang menjadi tanda tanya, apa karena soal Fatmawati ?. Ada cerita burung kalau 
Bung Karno juga punya gacoan disalah satu istana kesultanan di Jawa Tengah. 
Bung Hatta juga menulis saat Bung Karno mau bercerai, yang meminta kesaksian 4 
serangkai (Memoar Bung Hatta). Memang lucu juga kalau cerita-cerita soal itu 
dikumpulkan dan diterbitkan. Yaaa namanya juga Gosip...tampah digosok tambah 
siiipp.

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:               Refleksi: Melihat rumah tawanan 
Soekarno di Bengkulu dan dengan diizinkan pula miliki sepeda,  agaknya tidak 
keliru bila dikatakan bahwa penjajah Belanda Kafir itu jauh lebih gentlemen 
memperlakukan para tawan politik mereka dibandingkan dengan apa yang dilakukan 
penguasa NKRI religius dekat surga gurun pasir terhadap  para tawanan politik. 
   
   
  http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/18/0405.htm
   
   
  Rumah Bung Karno Saksi Kisah Cinta Segitiga   RUMAH kediaman Bung Karno 
merupakan saksi perjalanan hidup selama dalam pengasingannya di Bengkulu, tahun 
1938-1942. Masyarakat Kota Bengkulu sangat membanggakan peninggalan sejarah 
ini, seperti dari upaya mereka yang sangat serius melestarikannya.
            SEPEDA yang digunakan keluarga Bung Karno tersimpan di kediaman 
Bung Karno pada waktu pengasingan di Bengkulu (1938-1942) yang berada di jalan 
Soekarno Hatta, Kota Bengkulu.*ANDRI GURNITA/"PR"  Di rumah ini pula, cinta 
Bung Karno terhadap Fatma (kemudian namanya berubah menjadi Fatmawati) mulai 
bersemi. Fatmawati yang kelak menjadi first lady Indonesia ini, juga melahirkan 
presiden Indonesia berikutnya, Megawati Soekarnoputri. Fatmawati yang asli 
Bengkulu ini dikenal sebagai penjahit bendera dwiwarna Sang Saka Merah Putih, 
yang kini tersimpan rapat di Jakarta.
  Namun jangan salah, kisah cinta Bung Karno kepada Fatmawati menjadi awal 
kerenggangan hubungan dengan istri tuanya, Inggit Garnasih. Cinta segitiga 
antara Bung Karno-Inggit-Fatmawati juga berawal dari rumah di Bengkulu ini.
  Bung Karno diasingkan ke Bengkulu saat Jhr de Jonge menjabat sebagai Gubernur 
Jenderal Hindia Belanda. Sejak lama Bengkulu terkenal sebagai tempat pembuangan 
para musuh politik Belanda. Sentot Ali Basyah juga pernah diasingkan ke 
Bengkulu tahun 1833. Begitu pula Pangeran Kusuma Negara dan Tumenggung Sura 
Jenggala sempat dibuang ke tempat ini, setelah Belanda menuduh mereka terlibat 
dalam Perang Diponegoro.
  Pada referensi yang ditulis M. Ali Chanafiah atas hasil perbincangannya 
dengan seorang dokter keresidenan Bengkulu, dr. Jamil, seringnya Bengkulu 
dijadikan tempat pembuangan tahanan politik karena di sini dikenal sebagai 
sarang malaria. Pasukan Kompeni bahkan menyebut Bengkulu sebagai kuburan, 
saking banyaknya rekan mereka yang meninggal akibat malaria. Ini tak diragukan 
karena Ibu Inggit pun pernah menderita malaria, tak lama setelah tinggal di 
Bengkulu.
  Bung Karno datang ke Bengkulu setelah dipindahkan dari pembuangan di Ende, 
Pulau Flores. Ia datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan bus ADSS 
(Auto Dienst Staats Spoor) dari Lubuk Linggau, setelah menempuh perjalanan dari 
Ende ke Batavia, Maret 1938. Sepuluh hari setelah kedatangannya, Ibu Inggit 
menyusul ke Bengkulu bersama anak angkatnya Ratna Juami dan Sukarti (Kartika), 
serta seorang sahabat Bung Karno, Riwu, melalui jalan laut.
  Diasingkan, karena kiprah politiknya dianggap membahayakan pemerintah Hindia 
Belanda saat itu. Dalam pengasingannya, Bung Karno dibolehkan beraktivitas apa 
saja kecuali berpolitik. Ia lalu diminta oleh Hasan Din, pimpinan Muhammadiyah 
Bengkulu, berkiprah di Departemen Pendidikan Muhammadiyah Bengkulu, dan 
mengajarkan pembaruan tentang Islam. 
  Jembatan hubungan baik
  Kiprah Bung Karno yang terkenal dengan sebutan "kaum mudo" di Muhammadiyah 
sempat berselisih paham dengan "kaum tuo". Dengan ilmu arsitektur yang ditimba 
di ITB Bandung, ia mencoba memperbaiki Masjid Jami Tengah Padang atau biasa 
disebut Surau Gedang -- masjid tua yang didirikan pada abad ke-18. Pembangunan 
masjid itu menjadi jembatan hubungan baik "kaum mudo" dengan "kaum tuo" 
Bengkulu.
  Selama pengasingan, Bung Karno juga mengisi hari-harinya dengan memprakarsai 
terbentuknya klub debat tempat kaum cerdik-pandai beradu argumen. Selain 
memboyong ratusan buku koleksinya, ia juga mendirikan klub sandiwara bernama 
"Monte Carlo" di mana Ibu Inggit menjadi juru riasnya. Semua ini dilakukan 
untuk merangkul pemuda di sekitar Bengkulu.
  Hubungan suami-istri Bung Karno dengan Ibu Inggit ternyata tak berjalan 
mulus, selama tinggal di pengasingan di Bengkulu. Mereka sering bertengkar. 
Alasan keturunan salah satunya yang menjadi bahan pertengkaran mereka. Pasangan 
ini memang belum dikaruniai keturunan sejak beberapa tahun pernikahannya.
  Diam-diam, Bung Karno menjalin cinta dengan Fatma. Fatma, putri Hasan Din, 
pemimpin Muhammadiyah Bengkulu tempat Bung Karno beraktivitas. Saat itu umur 
Fatma baru 15 tahun. Bung Karno meminta Fatma untuk menjadi teman Sukarti dan 
Ratna Juami. Waktu rupanya membuat Bung Karno merasakan jatuh cinta kepada 
Fatma, yang menjadi anak angkat barunya.
  Akhir 1940, Ratna Juami disekolahkan ke Taman Siswa di Yogyakarta. Ibu Inggit 
mengantar Ratna hingga ke Yogya. Bahkan, Ibu Inggit menyempatkan diri untuk 
menengok keluarganya di Bandung. 
  Saat Ibu Inggit pergi ke Pulau Jawa itulah, hubungan Bung Karno dengan Fatma 
bertambah hangat. Cinta mereka bersemi. Ibu Inggit bahkan merasakan sesuatu 
yang berbeda saat datang ke rumah di Bengkulu. Sejumlah peralatan rumah tangga 
di rumah itu telah berubah tempat. Para pembantu pun seakan menyimpan sebuah 
rahasia hubungan majikannya dengan Fatma.
  Ibu Inggit tak rela untuk dimadu. Begitu pun dengan Fatma. Pada 1943, Fatma 
menerima lamaran dari Bung Karno, tepat saat umurnya 20 tahun. Ia lalu dinikahi 
Bung Karno dan berganti nama menjadi Fatmawati dan tinggal di Jakarta. (Deni 
Yudiawan/"PR")***


  

                         


       
---------------------------------
Sick of deleting your inbox? Yahoo!7 Mail has free unlimited storage. Get it 
now.

Kirim email ke