Nick Patrick, pakar geologi dari Kingston University Inggris tampak 
terlihat gagah menaiki puncak gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. 
Tiba dipuncak gunung yang mengepul tipis dari larva panas di perut 
gunung, Patrick dengan gagahnya menjelaskan bahwa Anak Krakatau 
sewaktu-waktu dapat meletus. Tumpahan laharnya akan menggigit 
bungalow indah Anyer sambil melulu-lantakkan dataran pesisir pantai 
milik negeri Banten itu. Suara sound efek menggelegar dibalik 
bingkai layar tv, sementara ilustrasi animasi bergerak Tiga Dimensi 
semakin membuka ruang imajinasi otak penonton televisi Science 
Channel, yang kalau di jaringan Comcast Cable TV Maryland Amerika 
Serikat duduk di tombol remote nomer 110.

Inilah karya film dokumenter produksi Discovery Channel tahun 2006. 
Judulnya sangat menggugah "Krakatoa Volcano/Destruction" dengan 
durasi sekitar lebih dari 30 menitan. Film ini dikemas dengan format 
film Dokudrama yang kental dengan fiksionisasi pendramaan pada 
adegan2x yang dianggap dapat menyentuh sisi kemanusiaan. Walau 
secara detil artistik kurang mencerminkan ke Indonesiaan, namun 
paduan efek gambar gunung Krakatau yang meletus dasyat cukup membuka 
mata orang awam bahwa sewaktu-waktu anak gunung Krakatau bakal 
meledak sedasyat ibunya yang meletus di tahun 1883. Entah karena 
sedang tren atau memang bahasa keilmuan, kata Tsunami diulang 
berkali-kali untuk menjelaskan sebab musabab Krakatau meletus 
dijaman Kompeni itu. Bahkan ketika letupan mengguncang pada tahun 
1927, kata "tsunami" seakan menjadi sakral untuk menjelaskan betapa 
ujung pulau Sumatra adalah lokasi yang harus dihindari....

Tapi sudahlah, tulisan ini bukan kajian filmologi dokumenter yang 
disutradarai oleh jawara Sutradara Televisi Inggris, Sam Miller. 
Tulisan ini juga bukan mengupas teknik produksi film yang sarat 
dengan ukuran lensa, filterasi cahaya, "sonic palette" suara hingga 
ke sentuhan artistik "make-up" kering-kerontang diseluruh durasi 
film. Tapi, tulisan ini cuma sekedar ingin bertanya (entah pada 
siapa), mengapa Science Channel memutar ulang film ini pada saat 
kota Padang berguncang? Mengapa film ini diputar beberapa hari 
setelah CNN sibuk menayangkan berita gempa dengan footage dari SCTV 
itu? Yang lebih mengherankan lagi, film rekaan ini diputar ulang 
hingga 3 sampai 4  kali dalam satu malam. Keesokan paginya, masih 
juga ada "rerun" pada jam2x yang genting. Mengapa?

Kalau saja Divisi Programmer Acara Science Channel mendengar, pasti 
jawabannya sangat klasik: "Ini sudah diprogramkan sejak lama" 
atau "Ini hanya kebetulan saja". Walau bisa saja, film ini direrun 
karena "aji mumpung" ada gempa di Sumatra. Walau bisa saja,film ini 
diputar atas nama kekuatan angka rating televisi yang lebih dasyat 
dari letusan Krakatau. Walau bisa saja, bisa saja, dan bisa2x 
lainnya. Dan pada akhirnya, film ini toh milik sang produser yang 
bisa memutarnya kapan saja dimana saja.

Kalau sudah begini, rasanya diplomasi budaya bangsa harus terus bisa 
menggedor media massa barat yang sarat dengan berita guncangan bumi 
Indonesia. Dan kita bisa terus berharap semoga film Dokumenter "Anak 
Seribu pulau" yang diproduseri Garin Nugroho bisa bebas tayang di 
Science Channel dan Discovery Channel. Atau film edutainment tahun 
2000an berjudul Bumiku Satu yang dibintangi Nugie bisa hadir di 
National Geographic Channel. Dan akhirnya film Denias bisa hadir di 
HBO... 

Jadi paling tidak kita bisa terus berharap.
Dan berharap anak Krakatau tetap tertidur pulas sepanjang zaman....

Salam
Naratama

Check film Krakatoa di 
http://www.usnews.com/usnews/discovery/krakatoa.htm




Kirim email ke