Anasia
(65 tahun), salah seorang warga Dusun Raja, Kecamatan Lais, Bengkulu
Utara menuturkan kejadian gempa yang mengguncang dusunnya pada Rabu
(12/9) selepas adzan maghrib. Ketika itu, ia tengah berada di rumahnya
bersama suaminya, Sapri, dan kedua anaknya.   
 “tiba-tiba
rumah bergetar, kami langsung berlari ke halaman rumah. Belum jauh kami
ke halaman, rumah kami sudah roboh,” tuturnya. 
  
 Beruntung
Anasia, Sapri dan kedua anaknya sudah terlebih dulu keluar rumah. Sebab
jika melihat kondisi rumahnya saat ini yang sudah rata dengan tanah,
ceritanya akan berbeda jika mereka tak segera keluar rumah. “mungkin
kami sudah tidak ada, kejadiannya sangat cepat,” tambah Anasia. 
  
 Sejak
Rabu malam, ia beserta suami dan kedua anaknya mendirikan tenda dengan
terpal yang dimiliknya untuk sekadar berteduh. Sapri, sang suami
menceritakan, sejak Rabu malam itu, mereka tidur berempat di tenda
terpal berukuran 3 x 2 meter tanpa penutup sisi. Sehingga angin laut
yang berada di belakang rumahnya begitu mudah menerobos setiap celah
tenda. “Dingin pak, saya jadi sakit-sakitan. Apalagi makan pun
seadanya…” terang Sapri. 
  
 Dusun
Raja, Kecamatan Lais, Bengkulu Utara, merupakan salah satu wilayah yang
terkena dampak cukup parah akibat guncangan gempa Rabu lalu. Semenjak
gempa hingga Selasa (18/9), jaringan listrik belum tersambung, sehingga
seluruh pengungsi hidup dalam kegelapan. 
  
 Sore menjelang maghrib itu, Sapri memperlihatkan lampu cogok
(di jawa lebih dikenal dengan lampu sentir), sebuah alat penerangan
berbahan bakar minyak dengan satu sumbu kecil menyembul di atasnya.
“Ini lampu kami, kami menyebutnya lampu cogok,” kata Sapri. 
  
 Semula
kami menganggap bahwa kondisi tersebut wajar mengingat semua jaringan
listrik di dusun tersebut memang belum tersambung. Namun ternyata,
selama belasan tahun sebelum gempa pun keluarga Sapri memang hidup
dalam kegelapan. “Kami orang miskin, tidak punya uang untuk membayar
listrik. Jadi ya hanya lampu cogok inilah penerangan rumah kami…” mata Anasia 
berlinang. 
  
 “Sekarang,
kami tidak lagi punya rumah. Satu-satunya rumah kami walaupun kecil
sudah rata dengan tanah. Tidak tahu apakah nanti kami bisa punya rumah
lagi atau tidak,” Anasia nampak sudah tidak sanggup melanjutkan
kata-katanya. 
  
 Sapri pun menutup obrolan kami dengan kalimat yang meruntuhkan hati, “lampu 
cogok inilah yang masih kami punya. Sebelum dan sesudah gempa, tetap kami pakai 
lampu ini.” (gaw/bengkulu utara) 
Andhika Purbo. S
Partnership Officer
Aksi Cepat Tanggap
021 741 4482 ext 108
www.aksicepattanggap.com
CARE FOR HUMANITY






      Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who 
knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 






       
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play 
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/  

Kirim email ke