Bloknota Sekitar Melayu (2); Orang Melayu Dalam Sajak Usman Awang
Oleh A. Kohar Ibrahim
http://www.bekasinews.com
Orang Melayu Dalam Puisi Usman Awang
Bloknota Sekitar Melayu (2)
Oleh: A. Kohar Ibrahim
DALAM hal Orang Melayu yang menjadi topik kita ini, akan perihalnya, pikiran
saja tertuju pada salah sebuah karya puisi sasterawan besar Malaysia, Usman
Awang, berjudul « Melayu » (Cekakhafi.com 28/6/07). Sajak yang menggemparkan
ini layak disimak dengan seksama. Karena kandungan isi maupun cara-gaya
kreasinya yang fenomenal sekaligus monumental. Karenanya pula mampu menggugah
sekaligus mengundang gairah gugatan dari para pembacanya yang ragam macam
adanya..
Cobalah baris-baris pertamanya yang menggoreskan Melayu itu. « Melayu itu
orang yang bijaksana, » tulis Usman Awang. « Nakalnya bersalam jenaka / Budi
bahasanya tidak terkira / Kurang ajarnya tetap santun / Jika menipu pun masih
bersopan / Bila mengampu bijak beralas tangan ».
Baris-baris kata puitis dalam bait selanjutnya pun cukup bernas, pedas lagi
manis : « Melayu itu berani jika bersalah / Kecut takut kerana benar / Janji
simpan di perut / Selalu pecah di mulut / Biar mati adat / Jangan mati anak. »
Bait selanjutnya kian bermakna penting baik isian pesan sekalian kesan
tergoreskan, bahwasanya : « Melayu di Tanah Semenanjung luas maknanya : / Jawa
itu Melayu, Bugis itu Melayu / Banjar juga disebut Melayu / Minangkabau memang
Melayu / Jakun dan Sakai asli Melayu / Mamak dan Malbari serap ke Melayu /
Malah muaalaf bertakrif Melayu
»
Kemudian susul menyusul bait-bait yang melukiskan kesejarahan Melayu sebagai
« sang pengembara lautan » yang « melorongkan jalur sejarah zaman » ; akan
kekayaan falsafahnya dengan « kias kata bidal pusaka, akar budi bersulamkan
daya, gedung akal laut bicara » ; akan kemalangannya yang « kuat bersorak,
terlalu ghairah pesta temasya, sedangkan kampung telah tergadai, sawah sejalur
tinggal sejengkal, tanah sebidang mudah terjual ». Sedangkan yang berkenaan
dengan pendidikan, Usman Awang menggoreskan Melayu yang « walaupun sudah
mengenal universiti », namun « masih berdagang di rumah sendiri. » Dan
watak-perilakunya? « Berkelahi cara Melayu / Menikam dengan pantun / Menyanggah
dengan senyum / Marahnya dengan diam / Merendah bukan menyembah / Meninggi
bukan melonjak. » Bahwasanya : « Watak Melayu menolak permusuhan / Setia dan
sabar tiada sempadan / Tapi jika marah tak nampak telinga / Musuh dicari ke
lubang cancing / Tak dapat tanduk telinga dijinjing / Maruah dan agama
dihina jangan / Hebat amuknya tak kenal lawan ». Lantas : « Berdamai cara
Melayu indah sekali / Sulaturahim hati yang murni / Maaf diungkap senantiasa
bersahut / Tangan diulur senantiasa bersambut / Luka pun tidak lagi berparut ».
Aduhai : « Baiknya hati Melayu itu tak terbandingkan / Selagi yang ada sanggup
diberikan. »
Last but not least sungguh kuat-hebat kandungan pesan sekaligus
keterkesanannya : Pertanyaan sarat akan jawaban yang bermakna mendalam dan luas
nyaris tanpa batas tanpa perbatasan wilayah, karena memang berkenaan dengan
manusia :
« Bagaimanakah Melayu abad dua puluh satu / Masihkan tunduk tersipu-sipu ? /
Jangan takut melanggar pantang / Jika pantang menghalang kemajuan ; / Jangan
segan menentang larangan / Jika yakin kepada kebenaran ; / Jangan malu
mengucapkan keyakinan / Jika percaya kepada keadilan / Jadilah bangsa yang
bijaksana / Memegang tali timba / Memiliki ekonomi mencipta budaya ».
Hasil salah satu kreasi puisi Usman Awang itu merupakan salah sebuah pertanda
zaman dalam sejarah kesusasteraan Melayu pada umumnya. Bukti keulungan bahasa
sekaligus cara-gaya ekspresinya dalam menyajikan kandungan isi dengan dukungan
bentuknya yang harmonis. Pesan dan kesannya yang membahana, mengingatkan saya
pada salah sebuah karya puisi Perancis berjudul « Kepada Pembaca » gubahan
penyair Charles Baudelair. ***
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail