Kenapa harus menulis?

Scripta manent, verba volant. Kurang lebih berarti: yang tertulis akan
abadi, yang terucap akan lenyap bersama hembusan angin. Itulah ungkapan
seorang filosof yang namanya telah hilang dari memori otak saya. Bukan
karena sengaja saya melupakannya, tetapi mungkin saja otak saya lagi hang
(Maklum pentium jaman onta). Setidaknya kalimat inilah yan memotivasi saya
untuk menggerakan jari jemari saya di atas papan keyboard komputer, sekedar
berceloteh tentang keresahan. Maka tidak heran seorang penulis buku best
seller Berani Gagal, Billi PS Linn, mengatakan bahwa Ia tidak ingin mati
begitu saja. Kemudian menjadi jasad organik setelah ditanamkan dalam tanah,
tanpa mewariskan sesuatu. Dan warisan itu adalah karya tulis. Maka lahirlah
buku dahsyat yang berjudul (sekali lagi) Berani Gagal, yang diterjemahkan
lebih dari 30 bahasa.

Suatu waktu teman saya pernah mengatakan, juka kamu ingin hidup melampaui
usiamu, maka menulislah. Kalimat tersebut seolah tak mau lepas dari ingatan
saya. Saya berusaha ubtuk belajar menulis. Layaknya anak kecil yang baru
belajar berjalan; jatuh dan jatuh, lalu bangun lagi.

Kenapa harus menulis? Buat apa menulis?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini
akan memburu kita tatkala sedang memulai menulis. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut seolah menjadi pembenaran akan ketidak mampuan kita untuk
menuangkan ide dan pikiran kita dalam bentuk tulisan. Ada beberapa hal yang
mengharuskan kita kenapa harus menulis. Pertama, menulis adalah tradisi
intelektual. Sebagai mahasiswa maka menulis adalah suatu keharusan. Menulis
adalah cara yang ampuh untuk melatih kembali daya ingat kita. Alangkah
sia-sianya kita yang setiap hari berkutat dengan berbagai macam teori, dari
teori A sampai teori Z, kemudian tidak mampu menumpahkan kembali dalam
bentuk tulisan. Ilmu itu ibarat binatang buruan, membaca adalah senjatanya
dan menulis adalah pengikatnya, demikian kata para ulama.

Kedua, menulis itu membebaskan. Tak sdikit orang yang menumpahkan masalah
kesehariannya dengan menuliskannya dalam diary pribadi mereka. Hal tersebut
mereka lakukan untuk melampiaskan apa yang mereka rasakan. setelah itu
mereka cukup tenang karena tlah menumpahkannya lewat tulisan. Tak jarang
dari buku catatan harian mereka banyak diterbitkan oleh penerbit buku. Soe
Hoek Gie misalnya, dengan bukunya yang diberi judul Catatan Harian Seorang
Demonstran (CHSD). Buku ini menjadi literatur sejarah dan menjadi saksi atas
kesuraman rejim orde lama. Pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan Al banna, dengan
buku yang diberi judul Memoar Hasan Al banna dan Risalah Pergerakan. Buku
tersebut menjadi inspirasi bagi jamaah Ikhwanul Muslimin untuk tetap
berkomitmen terhadap islam. Bung Karno dengan karya monumentalnya Di Bawah
Bendera Revolusi

Ketiga, menulis merupakan alat perlawanan. Sejarah banyak mencatat mereka
yang melakukan perlawanan dengan bersenjatakan pena. Yusuf Qardhawi
misalnya, karena dilarang berceramah lewat mimbar, maka Ia pun mengalihkan
ceramahnya lewat tulisan, maka lahirlah karya monumentalnya Al Halal Wa
Haram Fi Al Islam (Halal dan haram dalam Islam). Lain lagi dengan Muhammad
Quthub. Ia melahirkan karya monumentalnya yang berjudul Fii Dhilalil Qur'an
(Di bawah Naungan Al-Qur'an) di balik jeruji besi (penjara). Demikian juga
almarhum Pramudiya Ananta Tour (PAT), buku-bukunya lebih banyak lahir di
balik jeruji besi. Pada masa orde baru, buku-bukunya diharamkan beredar di
indonesia. Namun tak sedikit anak-anak muda dan aktivis mahasiswa yang
secara sembunyi-sembunyi membaca bukunya. Tan Malaka dengan Madilog nya
(Matrialisme, Dialetika dan Logika) juga lahir dibalik jeruji besi
(penjara).

Keempat, Manfaat benefit dan Profit. Tidak dapat dipungkiri, menulis
memberikan manfaat yang sangat besar bagi si penulis. Manfaat tersebut
adalah manfaat benfit atau ketenaran. Sadar atau tidak sadar, suka atau
tidak suka, seseorang yang tulisan-tulisannya dimuat di media cetak, baik
secara langsung maupun tidak langsung membuat ia menjadi tenar atau tekenal.
Di sisi lain manfaat profitpun juga diperoleh jika tulisan-tulisannya dimuat
di media cetak. Atau penulis skenario yang menulis untuk sebuah cerita
sinetron atau film. Dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Siapa yang menyangka buku-buku meka tesebut diterbitkan oleh penerbit?
Bahkan sangat laku di pasaran. Soe Hok Gie (SHG) tidak pernah becita-cita
untuk menerbitkan catatn hariannya menjadi sebuah buku. Bahkan ia tidak
sempat menyaksikan catatan hariannya akan diterbitkan. Dia mati muda
menjelang usia 27 tahun di gunung semeru. Mira Lesmana pun mem-filmkan buku
CHSD dengan judul Gie. Pada saat itu juga sosok SHG menjadi akrab di telinga
kita dan anak-anak muda serta mahasiswa angkatan 2000-an, lantaran SHG hadir
dalam wajah tampan Nicholas Saputra. Padahal mereka seblumnya sangat lekat
dengan budaya hedonisme yang menggerogoti mereka. Maka beruntunglah saya
yang membaca SHSD semenjak masih mahasiswa baru, disaat anak-anak muda
lainnya secara sembunyi-sembunyi membaca novel Fredy S. Belum menjadi
mahasiswa kalau belum membaca CHSD, maka sayapun memburunya di tempat rental
buku. Luar biasa, itulah kesan saya thadap CHSD. Asyi Sahid Hasan Al Banna
pun demikian. Ia tidak pernah menyangka catatan hariannya akan di terbitkan
dan dibukukan. Oleh murid-muridnya, catatan-catatan tersebut diberi judul
Majmu'a Risalah (Risalah Pergerakan). Demiakian juga PAT, ia tidak pernah
bepikir untuk menrbitkan tulisan-tuliannya. Tidak perlu risau tentang
tulisan kita yang tidak ditbitkan, menulis saja, menulis apa yang kita
rasakan, menulislah untuk diri kita sendiri. Demikian pernyataan PAT.
Menulis memiliki arti penting bagi peadaban. Bayangkan! Apa jadinya
seandainya ilmu pengetahuan tidak ditulis oleh para penemu-penemu teori.

Menulis adalah pekerjaan membaca

Sebahagian orang mensinyalir, menulis bebanding lurus dengan kegiatan
membaca. Hal ini jelas menambah pebendaharaan kata bagi si pembaca.
Bagaimana mungkin seorang yang ingin jadi penulis hebat tapi kurang
berinteraksi dengan dunia kata (membaca). Padahal, untuk menjadi penulis
diperlukan keahlian meilih dan memadu kata agar terangkai menjadi sebuah
kalimat yang mudah dicerna. Jadi, menulis adalah kegiatan membaca. Bahkan
dalam Al-Quran, ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT adalah ayat yang
memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk membaca: iqra'.

AS Kambie dalam makalahnya yang disuguhkan pada diklat jurnalistik dasar VII
tahun 2001 silam oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) (waktu itu saya
sebagai peserta), mengatakan bahwa menulis itu ibarat orang belajar naik
sepeda, bila terjatuh maka coba lagi. Hati-hati dalam menulis, bila penulis
terjatuh, maka pembaca akan terluka. Oleh karena itu, perbaiki tulisan anda
dengan banyak membaca. Karna membaca adalah prasyarat mutlak untuk menulis.
nimal di media kampus.

Mungkin budaya literer kita tidak dimulai sejak dini. Mungkin ada baiknya
anak cucu kita nantinya, sesekali mereka diajarkan untuk meminta sesuatu
dengan cara menuliskannya.Agar mereka lebih akrab dengan gaya literer.
Bagaimana dengan anda ?. Siapkah anda menajamkan pena untuk menorehkan
sejarah dalam kehidupan kita?.

sumber://aryakelana.wordpress.com

Dalam keinginan membuat sebuah buku, semoga bermanfaat
ErwiN Arianto


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
Internal Auditor
PT.Sanyo Indonesia
Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi
--------------------------------------------
See my Article On http://blogerwinarianto.blogspot.com/

Kirim email ke