Bloknota A. Kohar Ibrahim Sekitar Melayu (3):
Keakbaran Penyair Besar Usman Awang - Charles Baudelaire
http://www.bekasinews.com
Keakbaran Penyair Besar
Usman Awang Charles Baudelaire
Bloknota Sekitar Melayu (3)
Oleh : A. Kohar Ibrahim
SAYA ingin mengulang bilang seraya menggaris-bawahi, bahwasanya hasil salah
satu kreasi puisi Usman Awang berjudul « Melayu » itu merupakan salah sebuah
pertanda zaman dalam sejarah kesusasteraan Melayu pada umumnya. Bukti keulungan
bahasa sekaligus cara-gaya ekspresinya dalam menyajikan kandungan isi dengan
dukungan bentuknya yang harmonis. Pesan dan kesannya yang membahana,
mengingatkan saya pada salah sebuah karya puisi Perancis berjudul « Kepada
Pembaca » gubahan penyair Charles Baudelaire. Pasalnya, menurut impresi saya,
meski Baudelaire dan Usman Awang (yang nama sebenarnya adalah Tongkat Warrant)
masing-masing hidup di abad berlainan, namun sama-sama penganut romantisme
bahkan romantisme-realis. Kedua-duanya selaku penyair akbar yang dengan
kreativitas seninya sama-sama menyanyikan lagu manusia. Lagu luarbiasa dengan
segala ragam dan segi-seginya yang tragis maupun yang romantis.
Cobalah bandingkan sajak «Melayu » Usman Awang alias Tongkat Warrant dengan
sajak Charles Baudelaire berjudul « Kepada Pembaca », yang saya sitir-saji di
bawah ini :
« Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran, / Menghuni jiwa kita dan
menggeluti raga kita, / Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita, /
Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka. / Dosa-dosa kita pembandel,
ketobatan kita pengecut ; / Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita,
/ Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur / Percaya dengan tangis
pura-pura bisa menghapus dosa. / Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis /
Yang melobang lama lama jiwa senang kita, / Dan logam adi kemauan kita / Dan
semua diuapkan oleh ahli kimia ini. / Adalah iblis pemegang talikendali kita! /
Pada benda-benda menjijikkan kita temukan daya tarik ; / Tiap hari tiap tapak
kita turun ke Neraka, / Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk. / Demikian
serupa sorang miskin senggama dan makan / Payudara korban dari pelacur tua, /
Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh / Yang kita peras sekeras-kerasnya
bak jeruk rapuh. / Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta
ulat-jahat, / Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis, / Dan, saat kita
menarik nafas, Kematian di ruang jantung, / Turunlah, sungai siluman, dengan
gerutu menulikan. / Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran, / Belum lagi
dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan / Kain setramin biasa nasib kita
yang menyedihkan / Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh. /
Tetapi di antara para serigala, macan tutul, ajing buruan, / Monyet,
kalajengking, gagak, ular, / Raksasa melengking-lengking, berteriak-teriak,
merangkak, / Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita, / Ada satu yang
lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji! / Meski ia tak mendorong tindakan
kasar pun tidak teriak keras, /
Ia hanya menjadikan tanah debu / Dan dengan sekali penguapan kan menelan
dunia ; / Itulah Kejenuh-jengkelan! mata menanggung tangisan terpaksa, / Ia
mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka. / Dikau mengenalnya,
pembaca, raksasa peka ini, / -- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku!
/ » .
Sajak itu saya Indonesiakan dari bahasa aslinya, Perancis, dengan judul: «Au
Lecteur », merupakan Kata Pengantar dari buku Baudelaire yang masyhur: Les
Fleurs du Mal (1857). Salah sebuah kreasi puisi yang pernah menggemparkan
hingga sampai ke Pengadilan Imperium Perancis itu disiar pertama kali di Kepri
oleh Majalah Budaya Dua Belas nomor Februari 2006. Termaktub dalam esai Tiga
Pendekar Puisi Perancis: Hugo Baudelaire Rimbaud. ***
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail