KUK dan Kekuasaan Oleh: Rizka Maulana Goenawan Mohamad boleh bersikap tidak bersedia melayani serangan Saut Situmorang dan orang-orangnya (itu dia katakan dalam Surat Dari Komunitas Utan Kayu), akan tetapi aku berpikir kita masih wajib membuat dialog berlangsung dengan pikiran terang dan disertai bukti atau alasan, supaya kita nggak diracuni dusta dan kebencian doang.
Pasalnya masih ada pernyataan-pernyataan yang ditulis di depan umum akan tetapi tetap tidak membantu kita memahami apa sebenarnya persoalan Saut dkk dengan KUK. Ada yang barusan ngirim postingan dengan memberi cap "Kekuasaan" kepada KUK ( Komunitas Utan Kayu), lebih lengkapnya "kekuasaan" yang "menindas" dan "meniadakan" dan "menekan". Aku selalu bingung bagaimana sih KUK menindas? Meniadakan? Menekan? Aku perlu contoh dan bukti yang jelas dan tidak kabur-kabur. Bahwasanya Saut dan kawan-kawannya sekarang masih tetap dapat menulis di internet dan di media massa, aktif dalam Festival Kesenian Yogya, membuat manifesto, menyerang GM, dan lain-lain kan tidak memberi kesan bahwa ada penindasan oleh KUK. Disebut-sebut dalam festival internasional ada seniman setempat yang tidak diundang. Apakah itu menindas dan meniadakan? Memangnya kalau nggak ikut ke festival sastrawannya tamat karirnya? Apakah ada sastrawan yang tamat karirnya gara-gara itu? Kok nggak masuk akal. Perlu juga bukti-bukti bahwa kalau KUK mengadakan festival internasional di suatu tempat (kan sudah pernah di Solo, Bandung, di Bandar Lampung, di Jakarta, di Bali, dan di Magelang) maka sastrawan setempat nggak ada yang diajak? Kalau itu terbukti, artinya KUK dusta dan nggak beres. Kalau nggak terbukti si Saut dkk dusta dan nggak beres. Ayo kedua belah pihak kirim bukti-bukti. Rizka Maulana (pengunjung KUK) e-mail: [EMAIL PROTECTED] e-mail: [EMAIL PROTECTED] blog: http://mediacare.blogspot.com --------------------------------- Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.
