TENTANG SAUT Saya setuju dengan pendapat kawan Dini yang termuat di blog Mediacare dalam melihat seorang Saut.
Saya kira seorang seperti Saut penting dan kita perlukan, tidak hanya sebagai penyeimbang untuk kesehatan sastra, tapi juga agar kita tidak menjadi manusia yang suka dipuja-puja karena keberhasilan menjadi sastrawan atau apalah namanya. Dan saya juga yakin, kalau Saut melakukan ini semua dengan perasaan cintanya, bukan irihati, apalagi benci. Tak percaya? tuh lihat ketawanya Saut: hahahahahahahahaha Indah kan? Hehehe. Sangat indah! Selamat berkarya dan maju terus! Fahmi Faqih ------------------------------------ 22 September, 2007 Doa dari London: Semoga debat Sautisme segera berakhir Sumbangan dari seniman grafis Indonesia di VIS-NEWS, London: Semoga debat Sautisme segera berakhir" As-Nik-Ar. VISUAL NEW DESIGN, Chelsea Harbour Design Centre, Chelsea Harbour LONDON SW10 OXE e-mail: [EMAIL PROTECTED] ___________________________________ Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu karya Saut Situmorang ada jembut nyangkut di sela gigiMu! seruKu sambil menjauhkan mulutKu dari mulutMu yang ingin mencium itu. sehelai jembut bangkit dari sela kata kata puisi tersesat dalam mimpi tercampak dalam igauan birahi semalaman dan menyapa lembut dari mulut antara langit langit dan gusi merah mudaMu yang selalu tersenyum padaKu. Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu tapi bersihkan dulu gigiMu sebelum Kau menciumKu! jogja, 6 januari 2002 Catatan: Apabila Anda ingin mempersembahkan puja dan puji kepada si penulis puisi, silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED], c/c ke: [EMAIL PROTECTED] ___________________________________ TANGGAPAN From: Dian Sawi E-mail: [EMAIL PROTECTED] Menanggapi Polemik Saut dan kawan-kawan Dari awal, aku mencoba memahami polemik yang terjadi antara Saut Situmorang dan para manusia yang berkontradiksi dengannya. Baik persoalan puisi ala kelamin yang dipampang Republika, maupun artikel Saut yang panjang lebar membahas persoalan feminisme, (mantap artikelnya itu, dianjurkan membaca dengan cara pandang yang tidak seksis, gitu loh). Kalaulah boleh turut campur, sebenarnya tidak ada sesuatu yang patut diperdebatkan kecuali untuk olahraga agar jantung berdetak lebih cepat, aliran darah beredar dengan cepat pula. Muka merah, hati panas dan marahlah jadinya...... Aku pernah berjumpa, kalau tak salah dua kali sama pukimaknya, Lae Saut ini. Tak usah kusebut di mana. Nanti seolah-olah tempat pun menjadi bahan yang bisa dipolitisir. Puisi Saut yang menggunakan kata dewa dan pura, tak usahlah terlalu dirisaukan. Sebagai katakanlah seniman kek, penganut agama/kepercayaan kek, atau tepatnya jadi manusia, perlu juga agaknya kita mendekonstruksikan sesuatu tidak lagi secara harfiah/apa adanya namun lebih melihat esensinya secara keseluruhan. Namun saya sedikir bergembira melihat reaksi kawan-kawan Hindu yang lebih halus, lebih soft dibanding kawan-kawan dari kelompok Islam baik fanatis maupun setengahnya dalam menyikapi berbagai hal tentang simbol-simbol keagamaan. Kalaupun Saut dinobatkan menjadi presiden jembut, atau presiden kelamin umpamanya, kupikir tidak masalah. Sebab jembut, kepala, kaki, sama saja, sama-sama anggota tubuh. Bukan pula berarti pepek, kontol yang karena tersembunyi dan selalu disembunyikan dengan segala perangkap pakaian itu menjadi kurang layak/kurang etis ketika dipertemukan dengan hal-hal yang dianggap sebagian manusia sesuatu yang sakral, yang suci itu. Bukankah itu cuma kata? Kata yang lahir dari proses berbudaya itu adalah hasil sejarah dan rekayasa sosial. Setiap orang berhak mentafsirnya kembali. Bagi yang tidak mau mentafsir atau tidak pernah mentafsir atau kritis terhadap apa saja sungguhlah aneh, kira-kira dikemanakannya segenap inderanya termasuk otaknya selama ini ya.... Kalau ada pihak-pihak yang keberatan, silakan saja, tapi bukan harus berbuat sama tololnya dengan yang sudah-sudah. Tapi itulah dogma, dan betapa mengerikannya sebuah dogma yang dapat membuat seseorang/sekelompok orang bisa kehilangan akal sehatnya. Bung Saut, bung setidaknya memang menjawablah pulak...tapi ketawa bung itu memang sudah jawaban. hahahaha... Teruslah berkarya...saya suka gaya Anda yang pedas kalau bicara. Sebab itu menunjukkan apa adanya. Kadang kala, kita suka kali mencari metafora yang justru menghilangkan eksistensi dan ciri khas kita yang sebenarnya. Buat yang mengatakan seniman, seni atau hal-hal yang terkait dengan semua itu, biasanya dianggap beretika, lemah lembut, mempunyai pilihan kata yang baik, dsb, dsb... Hmmm, saya kira tidak juga. Seniman bukanlah orang seperti alim ulama yang wajib bicara yang baik-baik saja, bukan pula sekedar saksi sejarah, bukan pula seperti guru, bukan pula yang selalu harus tampil aneh dengan pikiran-pikirannya yang aneh. Bagi saya menjadi seniman atau tepatnya menjadi manusia, berarti harus merdeka. Merdeka jiwanya dari ancaman dan rasa takut terhadap apapun, apalagi sekedar takut masuk neraka karena dosa. Seniman adalah orang yang bebas menentukan dirinya dan masa depan hidupnya dengan cara yang ia suka, sepanjang tidak merugikan dan bukan menyinggung perasaan orang lain. salam hangat Dini ___________________________________ From: Rizka Maulana E-mail: [EMAIL PROTECTED] Ada Penyair Bir, Ada Penyair Jembut! Kalau Sutardji Calzoum Bachri terkenal sebagai Penyair Bir, sekarang kita punya Saut Situmorang, Penyair Jembut. Nirwan Dewanto boleh nggak setuju, tetapi Saut akan dikenang dalam sejarah sastra Indonesia setelah menulis sajak yang seperti ini: ada jembut nyangkut di sela gigiMu! seruKu sambil menjauhkan mulutKu dari mulutMu yang ingin mencium itu. Mengapa akan dikenang? Karena dialah orang yang berani menggambarkan Tuhan sebagai tokoh yang punya gigi, dan lebih hebat lagi, dalam gigi Tuhan itu kelihatan ada jembut nyangkut. Coba ingat: di mana letak jembut? Kita tahu, kan? Kesimpulannya: gigi-Mu baru saja mencium bagian tubuhku yang anu. Sejujurnya, aku menganggap sajak Saut itu dan banyak sajak dia yang lain jelek, karena kayaknya cuman mau menarik perhatian. Aku tidak setuju pendapat Goenawan Mohamad yang suka sajak-sajak Saut. Namun aku dapat menduga Saut akan dikenang dalam sejarah sastra Indonesia sebagai penyair khusus. Penyair Jembut. ___________________________________
