From: Katerina Dewanti
  E-mail: [EMAIL PROTECTED]
  To: "radityo djadjoeri" <[EMAIL PROTECTED]> 
CC:  [EMAIL PROTECTED] 
Subject: Re: KUK dan Gerwani 
Date: Fri, 21 Sep 2007 00:03:43 GMT 
    
  Gerwani dan KUK
   
  Karena saya baca dari kiriman teman-teman banyak pembicaraan
tentang KUK (Komunitas Utan Kayu), saya ingin menyumbangkan
pengalaman pribadi saya.
   
  Saya adalah seorang anak tapol, ibu bekas anggota Gerwani yang
ditahan dan disiksa oleh penguasa militer Orde Baru selama 8
tahun. Setelah Reformasi, keluarga kami (saya yang bungsu dari 4
kakak-beradik) baru dapat sedikit sedikit bernapas lega meskipun
kami takut-takut untuk kelihatan berkumpul-kumpul. 
   
  Maka sungguh sebuah pengalaman luar biasa bagi kami ketika di
tahun 1999 saya dan kakak saya mengantarkan ibu saya yang sudah
74 tahun ke sebuah pertemuan dengan Carmel Budiardjo, warga
Inggris yang aktivis HAM yang dulu sewaktu jadi warga Indonesia
juga ditahan dengan sewenang-wenang oleh militer. Seperti halnya
suaminya.
   
  Pertemuan itu berlangsung di ruangan teater kecil di Komunitas
Utan Kayu (KUK). Dihadiri oleh sekitar 100 orang.  Banyak di
antara ibu-ibu tua mantan Gerwani yang baru pertama kali itu
dapat bersua dengan kawan-kawan yang sudah dikenalnya ataupun
hanya didengar namanya.  Suasana haru dan gembira meliputi hari
itu.    
   
  Teman-teman saya satu generasi yang bukan keluarga tapol
tentulah tidak mengalami tekanan batin seperti yang kami alami,
tetapi saya yakin akan dapat merasakan rasa lega kami hari itu. 
   
  Karena saya bertanya-tanya mengapa ada tempat seperti Komunitas
Utan Kayu yang mau menyediakan tempat bagi orang senasib kami,
rupanya karena di tempat itu bekerja banyak aktivis HAM seperti
Stanley dan Goenawan Mohamad sendiri, “lurah”nya KUK, dan
wartawan-wartawan anggota AJI yang dulu anggotanya dipenjarakan
oleh rezim Suharto. Malah disana ada Bung Tejobayu, aktif di
KUK, dia pernah dibuang ke pulau Buru dalam usia muda muda (Bung
Tejobayu ini putra pelukis terkenal S. Sujoyono).
  
  Karena itu saya tahu tidak terlalu terkejut ketika mengetahui
bahwa di KUK juga berlangsung peluncuran buku putri D.N. Aidit,
Ibarruri, juga dihadiri orang-orang PKI lama, yang sudah
sepuh-sepuh. Yang menulis kata pengantar buku itu tak lain
Goenawan Mohamad sendiri, yang rupanya kenal lama dengan
Ibarurri. 
   
  Apakah karena itu KUK dapat disebut tempatnya orang-orang “PKI”?
Tentulah tidak karena Mas GM seorang “Manikebu”. Akan tetapi
saya dan teman-teman keluarga tapol merasa di KUK itu tidak ada
penyakit yang disebut Bung Karno “komunistofobia”. Kami
berjabatan tangan sebagai anak bangsa yang pernah mengalami
pembantaian dan tentu saja tidak ingin itu terulang lagi
(Mungkin, maaf, karena pengalaman mas GM sendiri, sebagai putra
perinttis kemerdekaan yang dibuang ke Digul di tahun 1920-an dan
ditembak mati pemerintah kolonial). 
   
  Demikianlah saya berharap generasi yang sekarang dapat berbeda
pendapat dengan tidak menjurus ke arah permusuhan yang ditandai
oleh teror kata-kata.  
   
  Jangan anak saya mengalami hal yang pernah saya alami.
   
  K. Dewanti. 



e-mail: [EMAIL PROTECTED]  
  blog: http://mediacare.blogspot.com  
   

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

Kirim email ke