Tidak saja hanya dari postingan menarik ini, terkesan di Tanah
Air tercinta para perenung cukup sibuk dengan atheisme. Apa ada
juga yang meyibukan diri dengan merenungkan AGNOSTISISME?
Dan semua implikasinya pada masyarakat?
Salam, Bismo DG, Praha

  ----- Original Message ----- 
  From: radityo djadjoeri 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; mediacare ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Friday, September 21, 2007 8:31 AM
  Subject: [mediacare] Re: Atheisme di Freedom Institute




  "J. Saiful" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

    ATHEISME DI FREEDOM INSTITUTE

    Tadi malam aku mengikuti diskusi tentang "atheisme" di Freedom
    Insitute, yang dihadiri banyak orang sampai ke halaman parkir.
    Pembicaranya Luthfie Assyaukani, Goenawan Mohamad, dan Rizal
    Mallarangeng. Moderator Martin Sinaga.

    Yang paling menarik bagiku GM, yang sudah lama sekali tidak kelihatan
    di diskusi-diskusi di Freedom. Ia memulai makalahnya dengan:
    "Atheisme bermula pada kesulitan bahasa dan sedikit kebuntuan. Dan
    jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great,
    misalnya, kita bisa menambahkan: ada juga kepongahan."

    Tetapi mulai dari situ GM rupanya tidak mengikuti tema malam itu, yang
    membahas tiga buku yang baru terbit, ya itu tadi God is Not Great,
    lalu buku Richard Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion,
    lalu The End of Faith karya Sam Harris. Semua penulis itu
    mengetengahkan kritik yang keras kepada iman dan agama.

    Umumnya dengan pendekatan keilmuan, yang dijelaskan dengan menarik
    oleh Luthfie Asyaukani.

    GM mengatakan ada cara lain untuk mendekati persoalan ini, dan ia
    mengritik para pengarang tadi. Lalu dia menguraikan teori Heidegger,
    Derrida dan Jean Luc Marion, juga Paul Tillich dan Meister Eckhart.

    Uraiannya memikat dan dia ternyata dapat membuat lelucon, meskipun ya
    bagiku tetap berat. Semula dia yang diperkenalkan (entah main-main)
    sebagai "atheis" justru mengecam atheisme, tetapi juga mengritik
    pemaknaan tentang Tuhan yang dogmatis. Katanya, kalau saya nggak
    salah, "Tuhan saya adalah Tuhan seorang penyair, bukan Tuhan kepastian
    melainkan Tuhan harapan di dalam ketak-pastian."

    Rizal Mallarangeng menghubungkan persoalan atheisme ini dengan teori
    politik, tentu saja dari pandangan seorang pengi kut liberalisme.

    Dalam kesempatan menjawab GM mengajukan kritiknya terhadap teori
    politik liberal. Ia rupanya lebih dekat dengan pemikiran Laclau
    Lefort (?), nama yang masih asing bagiku dan teman-teman (tetapi
    rupanya sudah jadi bahan diskusi di KUK, dengan dua sarjana ilmu
    politik UI, yaitu dalam diskusi "teori politik post-Marxis"). Tetapi
    sayang sekali waktunya tidak cukup.

    Saya tidak 100% berhasil mencernakan semua pembicaraan, tetapi saya
    senang ada acara seperti itu, yang sering diselenggarakan oleh
    Freedom Institute.

    Sekedar sharing. -- J. Saiful.





  e-mail: [EMAIL PROTECTED]  
  blog: http://mediacare.blogspot.com  



------------------------------------------------------------------------------
  Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
  Yahoo! Answers - Check it out. 

   

Kirim email ke