Adam & Hawa, Mitologi atau Ilmiah?
Sebelum masuk ke soal Adam dan Hawa, kita bicarakan
dulu manusia dalam perspektif biologi. Manusia dalam
bahasa latin dimasukkan genus homo. Homo sapiens, homo
yang bijaksana. Manusia memiliki 23 pasang kromosom.
Pada satu pasang kromosomnya terdapat perbedaan antara
laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki pasangan X
dan Y, sementara perempuan X dan X. 'Kerabat' terdekat
manusia, simpanse, untuk diketahui, memiliki 24 pasang
kromosom.
Kromosom yang berpasang-pasangan ini merupakan hasil
rekombinasi perkawinan ibu dan bapak. Satu dari bapak
dan satu dari ibu. Rekombinasi ini berbeda hasilnya
antara satu anak dengan anak yang lain meski satu ibu
dan satu bapak. Bahkan pada kembar identik sekalipun
pasti tetap ada sedikit perbedaan. (Jadi ingat fisika,
tak ada materi yang benar-benar serupa bentuk dan
komposisinya).
Setiap kromosom memiliki seuntai deoxyribonucleic acid
(DNA) tunggal. DNA inilah yang membawa sifat manusia.
Kita mewarisi dari orang tua. Orang tua dari nenek
moyang. Manusia pertama mewarisi dari nenek moyang
yang bukan manusia. Burung mewarisi DNA dari
dinosaurus. DNA adalah titik penjuru, titik kait antar
semua makhluk hidup di dunia.
Perkembangan teori evolusi mutakhir kemudian
meletakkan titik kajian pada DNA ini. (Sementara
Charles Darwin masih mengandalkan morfologi atau
ciri-ciri fisik.) Pada DNA inilah terlihat bahwa teori
evolusi jadi tak terbantahkan, menjadi pengait antar
semua makhluk hidup di dunia (bahkan tumbuh-tumbuhan).
DNA ini menegaskan bahwa manusia adalah hewan! Makanya
kemudian, saat ini sedang berlangsung proyek pemetaan
genom atau DNA makhluk hidup termasuk manusia.
(Perkembangan pengetahuan akan DNA ini nantinya bisa
membuat manusia bisa merekayasa 'manusia unggul',
misalnya memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa,
manusia disisipi DNA hewan lain dll).
Sebelum dikenal pendekatan DNA, sebagian ahli
berpendapat, manusia yang sekarang tersebar di semua
benua adalah hasil evolusi yang terpisah-pisah. Teori
ini disebut multiregionalisme. Teori atau lebih tepat
hipotesis ini berangkat dari penemuan berbagai
fosil-fosil yang berbeda-beda morfologinya di berbagai
benua. Sehingga, mereka kemudian berhipotesis,
berbagai ras yang ada sekarang merupakan hasil evolusi
berbagai homo tersebut. Mereka berevolusi
sendiri-sendiri, sampai semuanya menuju satu spesies
yang sama: homo sapiens.
Pada tahun 1987, hipotesis multiregionalisme itu
patah. Sekelompok ahli biologi dari Universitas
California, Berkeley, menemukan bahwa semua manusia
berasal dari satu keturunan yang sama. Selain itu,
mereka juga menemukan, manusia merupakan hasil evolusi
lebih kompleks dari makhluk bersel satu yang hidup
jutaan tahun lalu.
Penelitian mereka bukan pada DNA kita, namun tak
jauh-jauh dari situ. Mereka meneliti mitokondria,
yaitu objek kecil dalam sel yang berfungsi mengurai
senyawa-senyawa yang kompleks menjadi molekul
sederhana yang sangat energik. Mitokondria adalah
semacam batere yang digunakan sel untuk menciptakan
banyak reaksi kimia. Mitokondria yang ada di sel
manusia dipastikan berasal dari bakteri-bakteri yang
mulai hidup dalam organisme lain bersel satu lebih
dari satu miliar tahun lalu. Mitokondria hidup
menumpang di sel hewan dan tumbuhan, dengan imbal
balik mitokondria mendapat tempat nyaman untuk hidup.
Mitokondria memiliki DNA sendiri. Dalam tubuh manusia
terdapat triliunan mitokondria. Namun urutan DNA
mitokondria dalam setiap manusia memiliki sedikit
perbedaan.
Menariknya adalah, mitokondria diwariskan dari ibu.
Mitokondria yang ada dalam sperma ayah hanya sedikit,
sehingga luruh ketika pembuahan terjadi. Sehingga
mitokondria setiap manusia jelas diwarisi dari ibu.
Dan dengan demikian, dapat dipastikan, semua manusia
memiliki satu ibu yang sama. Inilah yang oleh Steve
Olson dalam bukunya Mapping Human History disebut
sebagai "Hawa Mitokondria" atau ibu pertama yang
mewariskan mitokondria! Namun penyebutan ini, menurut
Olson, harus hati-hati karena terkesan hanya Hawa
sendiri yang manusia. "Pada kenyataannya, banyak
manusia lain hidup sezaman dengan Hawa. Semua manusia
menerima DNA mitokondria dari satu perempuan (mungkin
bukan manusia) yang berlainan. Namun, sejak saat (Hawa
ada) itu, hanya DNA mitokondria Hawa yang mampu
bertahan, sedangkan semua DNA mitokondria lainnya
musnah.
Sebelum sampai ke "Hawa Mitokondria", terdapat dua
perempuan yang memiliki kombinasi DNA mitokondria
sendiri. Di sinilah awal variasi susunan DNA
mitokondria setiap manusia. Namun, tentu saja kedua
perempuan itu bersaudara karena keturunannya bisa
saling kawin, berkombinasi.
Pelacakan DNA ini juga bisa dilakukan pada DNA
manusia. Seperti diketahui, setiap laki-laki memiliki
kromosom Y. Tentu setiap laki-laki mewarisi kromosom Y
dari ayahnya. Begitu seterusnya, sampai pada ayah dari
segala ayah: Adam kromosom Y. Namun keberadaan
kromosom Y ini independen dari DNA mitokondria,
sehingga agak sulit menyimpulkan, apakah Adam kromosom
Y dan Hawa mitokondria berada pada zaman yang sama.
Pada tahun 1997, Carsten Wiuf dan Jotun Hein
menganalisis, Adam kromosom Y dan Hawa mitokondria
berada di dalam populasi 86 ribu orang ketika mereka
saling kawin dan menghasilkan keturunan homo sapiens
sampai sekarang. Kapan itu waktunya? Para ahli menduga
antara 150 ribu sampai 200 ribu tahun yang lalu.
Dimana tempatnya? Afrika.
Afrika menjadi 'taman eden' penyebaran manusia
berdasarkan temuan fosil-fosil manusia yang sangat tua
ditemukan di benua hitam itu. Pada saat Hawa
mitokondria dan Adam kromosom Y itu hidup, terdapat
populasi 20 ribu orang yang kemudian mulai berpencar
ke seluruh penjuru dunia. Titik pencar pertama tentu
saja adalah wilayah pertemuan benua Afrika dan Asia,
Mesir dan Israel sekarang.
Lalu pertanyaan yang muncul adalah, jika mitokondria
dan DNA diwariskan dari Adam dan Hawa itu, mengapa
kemudian muncul keanekaragaman luar biasa DNA umat
manusia saat ini? Jawabannya adalah mutasi. Mutasi itu
ada yang relevan mengubah sifat, namun ada juga yang
tidak. (Untuk dicatat, tidak semua gen dalam DNA
memiliki fungsi). Mutasi itu bisa bertahan dan
kemudian diturunkan. Mutasi juga bisa membawa ke
kepunahan, karena keturunan tak bisa bertahan bahkan
sejak dari kehamilan. Kemudian ada juga mutasi yang
menguntungkan, seperti penyesuaian warna kulit bagi
homo sapiens yang memasuki wilayah Eropa dan Pasifik.
Inilah keajaiban evolusi, the fittest will survive.
Kemudian, kembali difokuskan pada mitologi Adam & Hawa
dalam agama Semitik, apakah Adam kromosom Y dan Hawa
mitokondria itu kah yang dimaksud firman Tuhan? Secara
ilmiah, merekalah bapak dan ibu umat manusia yang
berkembang sekarang ini.
Jika bicara Al Quran (karena penulis adalah muslim),
saya pikir, sesuai dengan penemuan sains mutakhir ini.
Ketika malaikat disuruh bersujud ke Adam, malaikat
sendiri keberatan karena menurutnya Adam adalah sama
dengan makhluk melata yang suka membuat keonaran.
Artinya, malaikat (yang dikabarkan kedalaman
pengetahuannya tidak seluas manusia) melihat Adam
mirip dengan makhluk yang telah ada sebelumnya. Tentu
saja yang dimaksud adalah pra-homo sapiens!
Persoalannya adalah, tak ada ayat-ayat Quran yang
menyatakan Adam adalah hasil evolusi dari
makhluk-makhluk sebelum Adam itu. Sehingga, kekosongan
inilah yang menjadi justifikasi kaum creationist untuk
mengatakan Quran menolak teori evolusi. Kemudian,
ditambah surat Al Alaq, mereka menyatakan manusia
diciptakan dari segumpal tanah. Manusia (alias Adam)
diciptakan dalam sekejab! Jadi dan Jadilah. Lalu
semakin kuatlah keimanan kaum creationist.
(Dan ini menurut saya sangat memalukan, mengingatkan
saya pada nasib Copernicus yang dihujat gereja karena
mengatakan bumi itu bulat. Memalukan karena sudah
jelas banyak hal dalam Quran terbukti sesuai dengan
sains. Sekarang tinggal soal teori evolusi. Menurut
saya, segumpal tanah itu perlu diinterpretasikan
sebagai materi awal pembentuk kehidupan, yakni
protein. Termasuk ke dalamnya itu adalah mitokondria
sebagai batere reaksi sel-sel tunggal berkembang ke
makhluk yang lebih kompleks lagi sampai ke manusia.)
Namun ada satu pendapat menarik mengenai Adam itu,
yakni bahwa Tuhan campur tangan dalam proses menjadi
'Adam'. Ada sebuah aliran di penganut Islam, bahwa
Adam adalah hasil mutasi dari makhluk pra-homo
sapiens. Mutasinya direkayasa sehingga menjadi lebih
baik oleh Tuhan. Teori ini mirip dengan yang
dipercayai oleh kaum Raelian yang pro-kloning.
Bedanya, kaum Raelian yang umumnya berkembang di
Amerika Serikat, menyatakan, yang melakukan campur
tangan itu adalah UFO, bukan Tuhan.
Terlepas dari itu, saya berpendapat, dua kepercayaan
terakhir ini tetap mengandalkan diri pada hipotesis
evolusi. Sesuatu yang ada saat ini berasal dari
sesuatu yang ada sebelumnya.
Nah, sekarang pendapat saya pribadi adalah, saya
percaya ada Adam dan Hawa. Mereka itulah Adam kromosom
Y dan Hawa mitokondria. Adam dan Hawa ini adalah hasil
evolusi dari makhluk yang sudah ada sebelumnya. Apakah
proses menjadi Adam dan Hawa itu diintervensi 'makhluk
yang lebih pintar'? Jawabannya ada pada Anda sendiri.
Apakah Andi percaya? Itu urusan pribadi-pribadi.
Secara ilmiah, tak pernah ada bukti intervensi itu.
____________________________________________________________________________________
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search
that gives answers, not web links.
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC