Setangkai Kurma
  Cerpen
  Oleh: Lisya Anggraini
  http://www.bekasinews.com
   
   
  Cerpen :
   
  Setangkai Kurma
   
  Oleh Lisya Anggraini
   
   
   
  TERGELINCIRNYA matahari menandai senja segera pula menjemput malam. Bedug 
susul menyusul mengabarkan agar menandakan perjalanan berpuasa sehari selesai 
sudah. Menyambut rahmat rezeki yang akan dinikmati hari ini.
   
  Di atas meja yang berisikan sajian berbuka puasa itu, kurma salah satu yang 
selalu ada setiap hari.
   
  « Tiap buah mempunyai makna dan rasanya tersendiri. Tapi kurma itu bagiku, 
bagi yang sebangsa kita di nusantara, maknanya lebih sepesial. Lebih khusus 
lagi khusyuk: ada muatan spiritualnya yang mendalam. Coba rasakan rasa 
kelezatannya, manisnya. Bayangkan bagaimana umat Islam ketika zaman Rasulullah. 
Ajarannya kemudian sampai ke negeri iita; pengikutnya antara lain kita.”
   
  Kalimat lelaki yang telah bermukim sepenuh-penuhnya di relung hati dan 
pikiranku itulah menuntut niat lalu berjanji untuk selalu menyiapkannya. 
Sepanjang perjalanan Ramadan. Karena kau yakin buah manis dari negeri Arab itu 
menjadi panganan pertama yang akan dipilih lelakiku setelah mereguk minuman 
dingin.
   
  Lezat dan manisnya buah itu terasa makin begitu nikmat, setelah melalui 
perjalanan merasakan haus dan lapar dalam sehari.
   
  Sebuah makna yang sebenarnya tak hanya selesai sampai di situ. Sedikitnya, 
mengetuk rasa kebersamaan dengan banyak kaum di negeri ini, yang sering 
merasakan lapar, dari pada hanya segelintir orang teramat kenyang, namun tetap 
merasa lapar.
   
  Lalu, masih bersisakan tentang sebuah makna kesabaran berkeingianan untuk 
menikmati sesuatu. Keinginan yang sering akan dihadapkan mlalui ujian. 
Setidaknya menjelang waktu hingga tergelincir matahari hanya sekedar untuk 
mengeringkan tenggorokan. Dan menikmati kurma kesukaannya, bagi lelakiku.
   
  Lalu, tentang makna keinginan demi keinginan rindu, yang selalu saja masih 
harus bergelut dengan imajinasi. Adakalanya disadari sebagai penguji seberapa 
kukuh kekuatan hati. Namun, kadangkala menjadi beban yang teramat berat. Ketika 
letih hati mendera diri yang terus saja memagut sepi. Sementara keinginan 
berbagi bathin untuk menyempurnakan jiwa mendesak jawab, kapankah tidak lagi 
dihadiahi kerisauan?
   
  “Bukankah, kesabaran menjalani pengujian juga berarti bukti keimanan?” katamu.
   
  Ah, kau benar sekali lelakiku. Tak ada yang mampu memberi dalih untuk 
menundukkan katamu itu menjadi kalimat bodoh yang tak berarti benar. Sebenarnya 
pula, itu yang kuinginkan untuk selalu ku upayakan ketika keriasauan berlabuh. 
Dan masih saja dihadapkan alunan gelombang yang menggiring ke sana ke mari. 
Yang melihatkan menyataan bahwa labuhan untuk bersauh belum menampakkan 
sambutannya. 
   
  Walaupun keinginan itu hanya untuk sekedar hadirmu. Dan bagiku, sudah menjadi 
kasih yang telah kau ungkap utuh. Dari cahaya matamu. Yang aku yakin membawa 
cinta selalu untukku. Untuk membuang letih hati, penat jiwa, dan sakitnya 
merindu. Masihkah keinginanku itu terlalu berlebihan?
   
  Jika berpuasa lebih bermakna kepada pengujian yang masih terus saja 
berkepanjangan. Biarkan, bolehkan, izinkan malam-malm panjangku bisa menuntut 
penaku, melukis wajahmu di dalam kalbu. Ah, aku sudah tak mau tau, tentang 
ukuran boleh atau tidak lagi. Bukankah mempuasa-kann keinginan sudah cukup 
panjang kulalui dengan tekun walaupun mulai tertatih-tatih?
   
  AKU akan melukismu, menghidupkanmu, sesuai khayalku, sesuka harapku, sesuaka 
inginku atasmu. Dan aku benar-benar mampu melihatmu. Kau yang tak bisa 
menyembunyikan rasa kesukaanmu menikmati manisnya kurma itu. Mengigitnya sedikt 
demi sedikit, tidak terburu-buru untuk merasakan manisnya, lezatnya, lalu 
menelannya. Pemandangan impian itu di depanku! Ah, benar sekali, ia sangat 
menyukainya. Izinkan mataku menyukainya, seperti rasulullah menikmati kurma, 
ketika berbuka puasa cukup dengan tiga butir saja. Dan kau pun menikmati tiga 
butir kurma saja.
  „Aku ingin meneladani rasulullah. Walaupun mungkin hanya secuil yang mampu ku 
ikuti. Selain kesukaan akan kurma dan tidur bertelekan tangan kanan, yang 
paling utama dan terutama dianataranya, bagaimana aku mencintaimu. Seperti 
cinta kasih rasulullah kepada si merah jambu Aisyah.“
  „Walaupun mungkin aku bukan si merah jambu?“
  « Aku tak peduli. Kau yang terindah sepanjang hidupku. »
  Dan lelakiku bertutut dengan pandangannya. Tentang berbagai harapan, impian 
dan cita-cinta. Untuknya, untukku, untuk kita. Ketika itupun langkah seperti 
menari-nari di awan. Berkreasi, menikmati warna-warni dunia, tak lagi hanya 
menjadi satu nuansa rutinitas yang berujung pada kejenuhan.
  « Masihkan kau belum sadar, bahwa kau yang jadi semua alasanku hingga kupacu 
hidup menyimpan harapan ? »
  Ah, merdu sekali di telingaku, indah sekali di mata hatiku. Aku ingin kau 
melanjutkannya. Untuk penyejuk sanubariku terus dan terus lagi. Telinga dan 
hatiku tak akan pernah puas apalagi bosan untuk menyimaknya.
  Tapi, lelakiku malah terdiam. Ingin ku utarakan padamu tentang rasa belum 
puasku untuk mendengarkan harapan-harapanmu lagi. Yang tidak bisa tidak, telah 
menjadi harapanku sejak hati ini terisi penuh oleh kasihmu.
  Ayolah lelakiku, lanjutkan perbincangan kita tentang banyak harapan 
cita-cinta yang telah dan akan terus kita rajut bersama. Aku ingin kembali 
mendengar tuturmu tentang makna dan memaknai cinta. Tapi, ah, kenapa mulut ini 
begitu berat untuk bergerak, agar kalimatku bisa diluncurkan lalu didengarkan 
oleh lelakiku. Walaupun sebenarnya, dalam diam mataku sudah ku titipkan untuk 
menyampaikan keinginan ku, agar kau tak hanya diam. Hi, lelalkiku, apakah mata 
hatimu sudah mulai tidak mampu lagi membaca pandanganku. Hanya perjalanan diam 
yang kau suguhkan untukku. Sementara menit-menit masish saja mengejar untuk 
kemudian mengharuskan kita menyelesaikan pertemuan ini.
  „Kenapa kau diam?“ akhirnya kalimatku meluncur, walaupun terdengar berat 
sekali. Jelek sekali, untuk sebuah kalimat yang semestinya indah yang aku 
janjikan untukmu.
  Dan, lelakiku menjadi terusyik dari ketermenungannya. Kalimatku ternyata 
berhasil membuahkan jawab darinya. „Kau tau, aku melihat Dika kita seperti 
memanggil. Ia sudah hidup dalam hati dan pikiranku. Tingkahlakunya, jenakanya, 
dan kemanjaannya dan serba ingin tahunya tentang banyak hal.“
  „Dika yang akan mewarisi seluruh garis wajahmu, yang bakal dipanggilnya Abah. 
Juga lembut hati, kepekaan jiwa untuk melihat sesuatu dari mata hatinya.“
  Lelakiku tersenyum. Dan aku suka sekali. „Dika akan mirip ibunya, kamu!“
  „Nggak, dong, aku ingin dia mewarisi garis wajahmu. Rambutnya bakal ikal, 
matanya bercahya teduh.“
  „Tapi aku prediksi bakal mirip kamu.“
  Lelakiku selalu saja membatu dengan harap dan idamannya.
  „Ya…kita lihat nanti saja. Biarlah Dika yang kini di negeri awan, tersenyum 
senang.“
  „Dan Dika akan cemberut ketika mewarisi garis sajah Riky Martin atau 
Shakira,“ kalimatnya sendiri membuat lelakiku tertawa geli.
  Kami tertawa bersama. Tentang Dika yang pasti.
  „Kau yakin, Dika bakal ada?“ Pertanyaanku itu membuat lelakiku terkesimak.
  „Tentu yakin. Dan kau?“
  „Harapanku, tentulah seperti harapanmu itu. Bahkan mungkin lebih. Karena Dika 
adalah impian yang sudah kuemban dalam ahti dan pikiran, sejak aku menyadari 
bahwa aku dibekali zat yang di dalam tubuhku, bisa menghadirkan keturunanku. 
Dan tentu saja, tak hanya oleh bagian zatku tanpa ada zat dari yang berbeda 
dari ku sebagai ketentuan yang mesti ada. Lalu denganmu, harapan Dika yang 
semula kusimpan rapat dalam imajinasiku, kupercaya untuk menjadi buah dari 
persemaian cinta kita. Tiada yang terindah bagiku, karena kaupun menyambutnya. 
Lalu harapan akan Dika juga menjadi harapan dan kelanjutan cita-cinta, aku dan 
kamu. Dambaan buah cinta kita, seperti katamu.“
  „Lantas?“
  „Lantas?“ Ah, tidakkah kau sadari berat sekali hadangannya yang akan kita 
terjang? Jarak dan waktu untuk melabuhkan ikatan hati, dan sebagai syarat untuk 
menjemput Dika?“
  „Kau lupa menyadari. Bukankah, hadangan itu justru akan membuktikan kukuhnya 
ikatan hati yang telah kita sepakati?“, lelakiku seperti biasanya, masih dengan 
kalimat yang selalu menjadi disuguhkan untuk penguat ketika hati k uterombang 
ambing ragu.
  „Kukuh dan keyakinan dengan dilandasi kesabaran mengikuti alurnya. Teguh 
kukuh seperti pohon cemara, dan luwes seperti pohon Willow, agar tetap tidak 
patah ketika hadangan kencang menerjang. Dan, bukankah kau sudah sangat paham, 
kesabaran adalah salah satu wujud dari keimanan?“
  „Kali ini aku lelah untuk memahaminya!“
  „Lalu?“
  „Ah, aku tak mau lagi menerjemahkannya sebagai apa. Yang pasti ketahuilah, 
aku sudah sangat rindu dengan segala keinginan atasmu. Atas semua harapan yang 
telah kita rajut bersama. Namun masih saja harus pusa dengan bayang-bayang. Aku 
letih. Taukah kau? Aku letih! Lalu menjadi gamang ketika bayangan kengerian 
mengoyak-ngoyak bayangan cita-cinta yang kita bangun bersama.“
  „Dewiku. Kengerian yang kau rasakan juga menderaku. Bahkan mungkin aku lebih 
rapuh lagi. Namun aku tak mampu lagi berpaling, atau berhenti mencintaimu. Aku 
tak mampu berpaling. Hanya jiwa taruhannya yang tertinggi… Dan, kau tentu 
sangat paham bukti kehakikian cinta? Apalah artinya jarak-waktu yang menjadi 
hadangan jika hatinya sudah menyatu untuk penuh. Yakinlah, kita akan 
menebasnya.”
  Bukti kehakikian cinta? Tuturmu itu selalu teruji untuk penuntas langkah hati 
membangun sugesti bagi jiwaku. Akan kujadikan pengusir keriasauan hati. Membuka 
kecerahan jiwa dan harapan. Terlalu indah semua yang telah kita lalui, walaupun 
hadangannya juga terlalu pahit dan getir. Dari sugestimu, aku akan jalani. 
Seperti katamu, dengan jalinan keyakinan, kita menjelang jarak-waktu yang aku 
yakin tak akan mampu terus berkuasa jadi penghadang.
  Ada semangat mengasupi hati dan pikiranku kini. Dan lukisan pertemuan 
bayangan ini mesti kita akhiri. Walaupun aku masih sangat ingin sekali, terus 
dan terus lagi. Namun bayangan lelaki beranjah menjauh. Namun aku aku yakin 
pertemuan akan kita ulangi, karena aku dan aku juga yakin kamu, selalu 
menginginkannya kembali. Dan kemabli.
   
  AH KURMA itu  ternyata masih utuh di atas meja di depanku. Sudah cukup 
panjang pertemuan bayangan kita lalui bersama. Membuat aku lupa menyadari dan 
melanjutkan berbuka puasa yang masih sendiri kujalani dalam raga. Namun aku 
yakin selalu bersamamu dalam jiwa. Membuat aku tak ragu menjelang jarak dan 
waktu, seperti sugesti darimu. ***
   
  Catatan: Cerpen Lisya Anggraini „Setangkai Kurma“ disiar pertamakali edisi 
cetak & online Harian Batam Pos, halaman Budaya edisi Minggu 23 Nopember 2003.
  Ilustrasi foto: Lisya-Kohar, Kepri 2005.
   
   
   
   

       
---------------------------------
 Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail 

Kirim email ke