Replubika,Sabtu, 22 September 2007

Kegundahan Kaum Nasionalis 

Sapto Waluyo
Direktur Eksekutif CIR dan Alumnus RSIS Singapura
Di tengah pergeseran konstelasi politik nasional kini mencuat kembali
perdebatan ideologis antara nasionalisme dan Islam. Partai-partai besar
telah menggelindingkan bola panas untuk memulihkan 'asas tunggal' bagi
partai politik, tanpa pernah merasa bersalah telah mengorbankan kebebasan
sipil di masa orde baru. Masa transisi yang berkepanjangan rupanya telah
membuat rabun sebagian politisi kita. Spirit reformasi yang dulu diteriakkan
lantang, sekarang hanya sayup-sayup terdengar. 
Wacana kontroversial itu dilontarkan secara tak bertanggung jawab, karena
tak pernah didefinisikan dan didiskusikan secara serius apa hakikat
Pancasila sebagai ideologi negara dan bagaimana posisi UUD 1945 yang telah
mengalami amandemen sebanyak empat kali sebagai konstitusi negara. Yang
paling mudah dan sering dilakukan hanyalah memunculkan stigma, betapa suatu
kelompok mengklaim diri lebih nasionalis, sementara kelompok lain dicap
sektarian. Kelompok itu merasa lebih paham tentang Pancasila dan UUD 1945,
lalu memaksakan penafsiran monolitik atasnya. 
Salah satu contoh yang tak diliput wartawan ialah kunjungan petinggi PDIP ke
Singapura beberapa waktu lalu (11/9). Rombongan yang dipimpin Taufik Kiemas
itu menyampaikan ceramah di S Rajaratnam School of International Studies
(RSIS) yang berada di lingkungan kampus Nanyang Technological University
(NTU). Dalam ceramahnya dia menyinggung gejala sektarianisme sebagai ancaman
serius dari nasionalisme dan pluralisme. Menurut Taufik, sektarianisme
itulah yang telah memicu kelompok teroris. "Bila kelompok teroris membentuk
kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk menumpasnya, tapi kini kelompok
teroris itu telah masuk ke dalam partai politik, sehingga sulit dideteksi,"
ujar dia. Tanpa tedeng aling-aling, Taufik menyebut Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) sebagai contoh 'kelompok teroris berwajah politik' itu. 
Itu tuduhan serius karena PKS termasuk partai yang lulus electoral treshold
(ET) 3 persen dalam Pemilu 2004 dan memiliki konstituen terbesar di Jakarta
serta beberapa kota lainnya. Jika tuduhan Taufik benar, maka Komisi
Pemilihan Umum bisa dibilang tak becus menyeleksi peserta pemilu agar bersih
dari rekor kriminal, dan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf
Kalla bisa diasumsikan telah mengakomodasi bahaya di pusat kekuasaan.
Tuduhan Taufik perlu diklarifikasi karena bisa menyenggol partai berbasis
ideologi Islam atau berbasis dukungan umat Islam lainnya.
Sejarah bicara 
Penulis ingin mengajukan fakta historis dan kontemporer yang menyanggah
argumen Taufik. Pertama, secara historis tak ada pertentangan antara
pendukung nasionalisme dan Islam, jika keduanya diletakkan dalam konteks
kepentingan bersama. Bila kita merujuk Soekarno sebagai 'bapak nasionalisme'
Indonesia, misalnya, maka ia merupakan binaan tokoh terkemuka Islam, HOS
Tjokroaminoto. Dengan fakta tak terbantahkan itu saja kita bisa simpulkan
secara sederhana bahwa nasionalisme Soekarno lahir dari rahim universalisme
Islam Tjokroaminoto. 
Bila rujukan nasionalisme ditambatkan kepada Mohammad Hatta, yang lebih
serius menggarap bidang pendidikan dan kebudayaan, maka pada masa akhir
hidupnya Hatta bertekad mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia bersama
tokoh muda Islam waktu itu, Deliar Noer. Semua fakta sejarah itu menjadi
bahan kajian dan inspirasi bagi aktivis muda Muslim hingga kini. Kita tak
cukup tahu, sejarah apa yang dipelajari aktivis muda nasionalis sekarang,
bila para seniornya masih memandang kekuatan Islam dengan sebelah mata. 
Kedua, secara kontemporer kita menyaksikan bangkitnya kekuatan Islam
pascareformasi dengan kecenderungan lebih matang dibanding periode
sebelumnya. Aspirasi politik Islam memang disuarakan lebih kencang, namun
formatnya disesuaikan dengan koridor konstitusi dan kepentingan masyarakat
banyak. Kemunculan PKS, sebagai contoh, diakui banyak pihak telah
menunjukkan fenomena baru mobilisasi massa yang berlangsung damai. Fenomena
pilkada di Kota Depok dan Jakarta membuktikan kematangan partai Islam dalam
merespons kemenangan atau kekalahan politik. 
Lebih jauh, bila kita cermati penyebaran aspirasi seputar implementasi
syariah di berbagai daerah juga masih dalam koridor konstitusi. Kalangan
aktivis Muslim memperjuangkan aspirasi itu berdasarkan tuntutan masyarakat
setempat dan melalui proses legal-konstitusional. Jika aspirasi itu ditolak
mayoritas masyarakat, maka tak pernah ada kelompok Islam yang melakukan
kekerasan atau memancing kerusuhan. Jika terjadi gesekan di beberapa tempat,
maka sebabnya bisa dilihat dari lemahnya penegakan hukum untuk menangani
aksi kriminal dan penyimpangan sosial. 
Kita ingin kalangan nasionalis jujur menganalisis pangkal kekerasan komunal
yang bernuansa religius, seperti terjadi di Maluku (1999) dan Poso (2000).
Tak ada jejak yang membuktikan kelompok Islam sebagai pemicu konflik,
kecuali setelah aparat penegak hukum gagal menghentikan ulah provokator dan
elite politik tak bisa menahan diri dari manuver penuh risiko. Kita juga
ingin para elite di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Mega berterus
terang tentang tekanan domestik dan asing yang mengiringi peristiwa bom
malam Natal (2000) dan Bom Bali I (2002), yang kemudian diikuti rentetan bom
lain. 
Mereka tahu persis kekuatan politik yang bermain di balik segenap aksi
kekerasan itu, karena mereka yang memegang otoritas keamanan dan intelejen.
Jika mereka mengakui tak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi dan tak
mampu mengontrol semua kekuatan yang berpotensi melakukan kekerasan, maka
janganlah kemudian gampang menuduh kekuatan Islam sebagai terdakwa utama
dengan stigma Jemaah Islamiyah (JI).
Terlalu berani 
Klaim sesat itulah yang telah dilakukan pengamat Barat macam Zachary Abuza
dalam buku terbarunya Political Islam and Violence in Indonesia (2007).
Abuza yang menjadi dosen di Universitas Boston sering dijadikan narasumber
dalam dengar pendapat Kongres AS tentang kondisi Indonesia. Analisis dan
rekomendasi ilmiahnya mirip dengan argumen Taufik, bahwa kekuatan politik
Islam bersinggungan erat dengan kelompok teroris, bahkan memiliki hidden
agenda atau berbagi agenda yang sama. 
Dengan asumsi yang kabur dan generalisasi yang dipaksakan, Abuza memasukkan
kelompok aksi mahasiswa/pemuda (KAMMI, GPI, dan sebagainya), gerakan dakwah
(MMI, HTI, FPI), serta partai Islam (PPP, PBB dan PKS) dalam satu kantong
yang sama dengan JI. Abuza tak pernah melakukan riset secara terbuka di
Indonesia, tapi mungkin sering melakukan operasi tertutup dengan kalangan
intelejen, namun terlalu berani untuk menyimpulkan kaitan fenomena politik
baru di masa reformasi dengan gejala kekerasan yang terus berulang dalam
sejarah Indonesia. 
Isu nasionalisme dan kedamaian masyarakat jelas perlu diperjuangkan bersama,
namun jangan sampai kegundahan akan lepasnya dominasi kekuasaan membuat
pelintiran isu bergeser jadi ancaman sektarianisme dan terorisme Islam.
Siapapun yang ingin berkuasa di negeri ini tak boleh memakai cara-cara
kotor. 
Ikhtisar
- Secara jelas, Islam dan nasionalisme di Indonesia masih sering
dipertentangkan.
- Jika menengok sejarah dengan lebih jeli, Islam dan nasionalisme memiliki
hubungan yang sangat erat.
- Akibat pandangan keliru, kalangan nasionalis saat ini masih sering
menyebut kalangan yang memperjuangkan Islam sebagai kelompok sektarian dan
sumber terorisme.

Tata Taufik <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:alqossam_izzu%40yahoo.com.sg> > wrote: Assalamu'alaikum,
Kami yang tinggal di Singapura, tidak bisa menganggap angin lalu 
pernyataan TK. Apalagi ceramahnya di lingkungan akademis dan yang 
hadir merupakan orang-orang penting dari mancanegara. Dia koar-koar 
di luar negeri tidak hanya di Singapura, tapi juga di Amerika. Bagi 
Singapura kata teroris itu satu hal yang tidak bisa dikompromikan, 
bahkan yang berwenang berhak menangkap tanpa pengadilan siapa pun 
yang dicurigai. Kalau saja omongan dia didengar oleh pihak 
pemerintah, awak dakwah di sini mungkin bakal dapat tekanan. FYI, 
banyak kawan-kawan PKS mecari maisyah dan yang melanjutkan studi di 
negeri Singa ini. Pemerintah sini tidak segan-segan membuat bangkrut 
personal-personal dari lawan-lawan politik dan main blacklist orang-
orang yang tidak diinginkan (Mohon hanya untuk konsumsi milis ini 
saja).

FYI, waktu pilkada jakarta saja, isu-isu mengenai PKS kurang sedap di 
media masa lokal; Apalagi kalau ada kalau ditambah suara-suara miring.

Mudah2an kejadian kemarin cukup memberikan pelajaran buat TK, dia 
sendiri mungkin tidak pernah menyangka ada orang PKS di situ.

Wassalam,
Tata

--- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:Al-Ikhwan%40yahoogroups.com> ,
Yhanuar Ismail <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Gapapalah Taufik Kiemas ngomong gitu. Jadi bener2 keliatan jahatnya 
pentolan PDIP itu. Bagus, jadinya makin jelas bahwa PKS berjuang 
melawan orang2 jahat macam politisi2 PDIP dan Golkar. Jadi inget 
Rasulullah dulu, sampai dituduh sebagai dukun, tukang bohong, dan 
pemecah belah bangsa arab. Ga kebayang deh kalo misalnya orang2 macam 
Abu Jahal dan Abu Lahab itu ternyata orang kafir oportunis yang 
mengajak Rasulullah berkoalisi membangun bangsa arab. Untungnya 
mereka jahat, sehingga bisa dilibas sekalian. Wallahualam.
> 
> Lia Yuanawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Assalamu'alaykum,
> 
> Kalau memang begitu, bisa ga mr Taufik Kiemas itu digugat atas 
dasar
> pencemaran nama baik? Sebagai seorang negarawan sejati (apa iya 
ya),
> pernyataannya sangat tidak elit. Apalagi ini disampaikan di sebuah 
public
> lecture di universitas luar negeri. Harusnya ketika memberikan 
ceramah
> apalagi di lingkup academic, statementnya harus disertai bukti dan 
bisa
> dipertangungjawabkan, bukan sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah.
> 
> Wassalamu'alaykum,
> 
> Lia
> 
> _____ 
> 
> From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:Al-Ikhwan%40yahoogroups.com>
[mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:Al-Ikhwan%40yahoogroups.com> ] 
On Behalf
> Of Wido Q Supraha
> Sent: Wednesday, September 19, 2007 10:57 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
<mailto:taqlim-intern%40googlegroups.com> 
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
<mailto:PENGAJIAN-KANTOR%40yahoogroups.com> ; [EMAIL PROTECTED]
<mailto:FD-AlFalah%40yahoogroups.com> ;
> [EMAIL PROTECTED] <mailto:mus-albarokah%40yahoogroups.com> ;
pks-dpra-
[EMAIL PROTECTED] <mailto:rangkepanjaya%40yahoogroups.com> ;
> [EMAIL PROTECTED]
<mailto:partai-keadilan-sejahtera%40yahoogroups.com> ; 'keadilan';
> [EMAIL PROTECTED] <mailto:PSKTTI-7A2004%40yahoogroups.com> ;
[EMAIL PROTECTED] <mailto:Al-Ikhwan%40yahoogroups.com> 
> Subject: [Al-Ikhwan] CERAMAH-taufik-kiemas
> 
> CERAMAH TAUFIK KIEMAS DI RSIS-SINGAPURA
> 
> Selasa, 11/9/07, saya menghadiri ceramah Taufik Kiemas, suami 
mantan
> Presiden Megawati, dalam acara seminar yang diadakan RSIS 
(Rajaratman School
> of International Studies) tempat saya kuliah. Seminar merupakan 
bagian dari
> mata kuliah yang wajib saya ikuti. 
> 
> Taufik Kiemas datang atas undangan Indonesian Center RSIS yang 
dipimpin oleh
> Prof. Dr. Leonard Sebastian (Indonesianis Singapura). Tampak hadir 
menyertai
> Taufik para petinggi PDIP, di antaranya Pramono Anung, Sutradara 
Ginting,
> Puan Maharani dan beberapa yang tidak saya kenal.
> 
> Dalam kesempatan itu Taufik memaparkan dua hal pokok. Pertama, soal
> perkembangan PDIP dan persiapan menghadapi Pemilu 2009. Kedua soal 
terorisme
> dan sektarianisme di Indonesia. Pada poin pertama Taufik, dengan 
bahasa
> Indonesia yang diterjemahkan oleh seorang translator, memaparkan 
tentang
> cita-cita PDIP untuk membangun Indonesia sebagai rumah besar 
nasionalisme
> yang bertujuan mempertahankan Pancasila, NKRI dan mewujudkan 
pluralisme.
> "Mustahil nasionalisme tanpa pluraslisme," tukas Taufik. 
> 
> Untuk mewujudkan rumah besar itu, PDIP harus bekerjasama dengan 
pihak
> eksternal. Dalam hal ini ia menyebut Golkar untuk dalam negeri dan 
Amerika
> Serikat yang dianggap memiliki kemampuan campur tangan terhadap 
negara lain.
> "Saya tidak butuh orang-orang golkar. Yang saya butuhkan adalah 
Partai
> Golkar yang berhaluan pluralis," ujar Taufk.
> 
> Sikap itu juga disampaikan saat Taufik dan kawan-kawan berkunjung 
ke Amerika
> Serikat (AS). Menurut Taufik, saat di AS ia menegaskan kembali 
tentang sikap
> PDIP sebagai partai oposisi di Indonesia dan sebagai partai 
nasionalisme
> yang menjunjung tinggi pluralisme.
> 
> Saat membahas bagian kedua dari ceramahnya tentang pluralisme dan 
terorisme
> di Indonesia, ia menyebutkan bahwa nasionalisme/pluralisme di 
Indonesia
> sedang menghadapi apa yang ia sebut sektarianisme. Sektarianisme 
inilah yang
> menjadi kelompok teroris. Persoalannya, menurut Taufik, bila 
kelompok
> teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk 
menumpasnya,
> tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam partai politik 
sehingga
> lebih sulit dideteksi. Dan tanpa tedeng aling ia menyebut PKS.
> 
> Lebih lanjut ia menjelaskan, karena itulah mengapa kelompok 
nasionalis yang
> memperjuangan pluralisme di Indonesia bersatu melawan PKS dalam 
Pilkada di
> DKI Jakarta. Karena hanya dengan bersatu padu itulah mereka dapat
> mengalahkan PKS di sejumlah daerah. "Tampaknya melihat kaum 
pluralis bersatu
> mereka takut juga," tandas Taufik.
> 
> Ia juga sempat menyitir pidato Pak Hidayat Nur Wahid, yang saya 
tidak tahu
> dimana, bahwa Pak Dayat berbicara tentang nasionalisme dan 
pluralisme,
> seolah-olah ia lebih nasionalis dari orang nasionalis sendiri.
> 
> Terus terang, mendengar paparan Taufik itu dada saya langsung 
bergemuruh.
> Tadinya tidak ada niat saya untuk bertanya. Saya datang hanya untuk
> menggugurkan kewajiban kuliah saja. Dan kita juga sama-sama 
tahulah kualitas
> Taufik, jadi saya pikir tak ada sesuatu yang bisa diambil. Di 
samping,
> kedatangan saya juga untuk menjaga hubungan baik saya dengan Andi 
Widjajanto
> (anak Theo Syafei yang sedang mengambil Phd. Di Singapura) teman 
sekelas
> saya di satu mata kuliah. Saya juga tahu Andi kini menjadi salah 
satu
> advicer penting di PDIP terkait persoalan militer.
> 
> Pada saat masuk sesi tanya jawab, reflek saya angkat tangan. Saya 
katakan,
> sebelum masuk ke pertanyaan saya ingin menanggapi dulu apa yang 
disampaikan
> Taufik tentang PKS. Saya perlu meluruskan masalah ini ke audience 
karena
> yang hadir adalah para mahasiswa RSIS dari berbagai negara. Apa 
jadinya jika
> mereka beranggapan bahwa setiap muslim harus dicurigai sebagai 
teroris
> sebagaimana yang disampaikan Taufik. Lebih berbahaya kalau mereka
> beranggapan PKS adalah supporter teroris di Indonesia. 
> 
> Dengan sedikit emosi saya katakan, PKS adalah a small party in 
Indoensia,
> only 7 percent. PKS dibentuk oleh para generasi muda Indonesia 
yang mecoba
> mencari solusi terhadap berbagai persoalan di Indonesia. Mereka 
bercita-cita
> ingn membangun apa yang mereka sebut "The New Indoensia"/ 
Indonesia Baru.
> Dan perlu dicatat, mereka adalah lulusan universitas secular di 
Indonesia,
> seperti UI, UGM, ITB dan IPB. 
> 
> Lalu saya jelaskan, tampaknya cita-cita mereka ini ditangkap oleh 
sebagain
> masyarakat Indonesia berpendidikan dan menginginkan perubahan. 
Karena itu
> terbukti, PKS unggul di Jakarta. Di sini saya memberi 
penekanan: "Jakarta
> adalah tolok ukur politik di Indonesia. Jika Anda ingin mengatahui 
the real
> politics in Indonesia dan proses demokratisasi di Indonesia, look 
at
> Jakarta!" Sebab jika Anda melihat Indonesia secara keseluruhan, 
maka
> sesungguhnya sebagian besar masyarakat Indonesia berpendidikan 
rendah yang
> mudah dibohongi oleh para elit partai.
> 
> Setalah itu barulah saya masuk ke pertanyaan sederhana: Apa konsep 
PDIP
> untuk membangun Indonesia. Pertanyaan itu tak dijawab secara baik 
oleh
> Taufik, karena mungkin ia keburu kaget ada orang PKS terselip di 
antara
> hadirin. Setelah tahu saya orang PKS pernyataannya menjadi 
melunak, ia
> katakan syukurlah kalo ternyata PKS sudah berubah. 
> 
> Alhamdulillah, tampaknya hadirin mendapatkan informasi lain 
tentang PKS, hal
> itu terlihat dari pertanyaan2 yang terlontar, baik dari orang 
Indonesia
> sediri, Singaporean, Malaysian, semua tampak bernada positif 
terhadap PKS.
> Beberapa kawan dari Indonesia dan beberapa negara menghampiri saya
> mengomentari penjelasan singkat saya itu.
> 
> Menurut saya, ceramah Taufik Kiemas di RSIS itu tak boleh dianggap 
angin
> lalu. Boleh jadi inilah gambaran sikap PDIP sendiri dan sikap 
partai-partai
> lain secara umum terhadap PKS. Sikap ini tampaknya akan melatari 
kebijakan
> partai untuk menghadapi Pemilu 2009. Isu terorisme, sektarianisme 
adalah isu
> usang namun efektif untuk menjatuhkan citra partai Islam. 
Sebagaimana
> tudingan militer secular Turki yang menuding Justice Party di 
Turki memiliki
> hidden agenda islamisme.
> 
> Wallahu a'lam
> 
> SUHUD ALYNUDIN
> 
> 50 Nanyang Crescent Graduate Hall #03-18 Singapore 637598
> 
> Phone: +65-81716441



Kirim email ke