Balada Pembelot Pembelot berbalik haluan jadi pemanut, pembangkang jadi loyalis, dan separatis jadi patriotis?
Sejak mula saya bertanya-tanya, apakah wartawan layak menelan begitu saja klaim semacam Nick Messet, konon mantan Menlu OPM, yang di muka Wapres J. Kalla baru baru ini mengaku ingin kembali menjadi warga setia RI? Tepat, harian Cenderawasih Pos segera mencari kebenaran dan mengutip Thaha al Hamid (DPP, Dewan Presidium Papua) yang mengatakan Nick bukan mantan Menlu, melainkan "cuma simpatisan". Lantas, sejumlah laporan pers lain menyebut dia "mantan Wakil Menlu", bahkan ada yang menilai mantan pilot Swedia itu "hanya" pernah ikut delegasi OPM dan DPP di Pasifik, dsb. Persoalannya disini bukan soal mensyukuri atau tidak mensyukuri perubahan sikap Nick tsb. Soalnya adalah seberapa masuk akal perputaran haluan spektakuler (karena "perubahan" Nick konon lalu disusul sikap serupa tiga ribuan eks OPM) semacam itu dapat terjadi di daerah konflik yang masih membara. Saya mendengar/mengenal selusin cerita sas-sus mau pun kasus beneran mengenai "perputaran haluan" semacam itu. Sebagian besar ternyata cuma dongeng atau merupakan bagian dari "strategi politik" belaka. Perubahan sikap Nick Messet barangkali sekadar retorika di panggung politik nasional; ada laporan yang menyebut dia sudah lama ingin pulang kampung, dan jangan lupa dia memilih mengungkap pernyataannya ketika bertemu tokoh RI 2. Faktanya: dia sudah lama hidup di Swedia, bahkan sebelum Pepera (1969). Kalau pun benar Nick berubah haluan, bukan mustahil ini menjadi bagian dari perjalanan Papua sebagai daerah konflik, yaitu dialektika "mekar" yang silih berganti dengan "makar": mekarnya nasionalisme Indonesia lewat Sam Ratulangi, Soegoro, dll, lalu idem dito dbp. Frans Kaisiepo, kemudian disusul makar "nasionalisme Injil" Papua di bawah paternalisme Belanda, lantas nasionalisme Melanesia- nya alm. Arnold Ap, lalu nasionalisme Papua pasifis-nya alm. They Eluay, dst, dst. Dan, dengan gagalnya otonomi-khusus sejak Presiden Megawati, para pembelot Papua tampaknya kini memilih "mekar" gaya baru: merayakan pemekaran lewat propinsi dan kabupaten baru dengan impian merdeka dengan cara baru. Dengan kata lain, apa bedanya "perubahan" Nick Messet dengan kasus klasik Abilio de Araujo dan Jose Martins-III dari Timor Leste? Abilio semasa di rantau adalah sayap paling kiri-radikal Fretilin, yang mau mengalihkan kepemimpinan perjuangan dari tangan Xanana Gusmao di hutan (1980an), tetapi kalah oleh musuh beratnya, Jose Ramos Horta, yang menyerahkan kepemimpinan kepada Xanana. Akhirnya, Abilio pada 1996 bertemu Soeharto untuk mencoba jalan lain ketimbang kemerdekaan, tapi sia sia, dan kini tersingkir dari kubu mana pun. Idem dito Jose Martins-III. Martins adalah bekas pembantu Mayjen Ali Moertopo yang kemudian menyeberang ke Portugal (1976) dan 20 tahun kemudian, pada 1996, kembali merayu Jakarta. Akhirnya, dia diundang pemerintah Soeharto untuk menghadiri perayaan 17 Agustus 1997, tapi, barangkali, di"Munir"kan: dari Lisbon via Amsterdam lalu tewas secara misterius setiba di bandara Soekarno Hatta 15 Agustus 1997. Jadi, "perubahan haluan" semacam Nick Messet, Abilio, Martins patut dipertanyakan justru karena konteks, taraf bara dan tahapan perjuangan di daerah daerah konflik ybs. Kebalikan dari ketiga "contoh klasik" tsb adalah konsistensi Teungku Mohamad Usman Lampoh Awe, satu satunya tokoh GAM yang sejak "proklamasi" 4 Des. 1976 memilih berjuang di Aceh ketimbang menjadi diaspora. Catatan di atas sekadar mau mengatakan bahwa berita tentang Nick Messet dan 3 ribuan OPM itu, tak layak buru buru disyukuri, apalagi dipercayai apalagi oleh wartawan dan para pengkaji daerah konflik. Soal benar tidaknya "perubahan" Nick tsb itu soal kelak soal yang perlu kita tunggu perkembangannya. Tapi balada para pembelot itu sedikit banyak juga bercerita dan menjelaskan seberapa hebat represi terhadap gerakan para pembelot tsb. Untuk suatu pembangkangan dan pemberontakan yang diyakini dan sudah menelan beberapa dasawarsa tak akan mudahlah pembelotan itu secara sederhana dikhianati dan diakhiri dengan perubahan haluan dengan profil tinggi di panggung publik. Dan penguasa tahu semua itu. Maka, celakanya, penguasa pun paling gerah ketika harus menghadapi kekuatan keyakinan yang teguh (Aceh) atau dukungan dunia yang kuat (Timor Leste). Itu sebabnya, hempasan represi penguasa terjadi lebih hebat dan genosida terjadi di Aceh dan Timor Leste, ketimbang di Papua. Jadi, apa yang patut, dan untuk apa, disyukuri? (kecuali referendum Timor 1999 dan Pakta Helsinki 2005). Tak ada. Salam, Tossi AS (wartawan eks Radio Nederland) ================================================================= Jumat, 21 September 2007 Kewarganegaraan Mantan Menlu OPM Ingin Jadi WNI Kembali Jakarta, Kompas - Mantan Menteri Luar Negeri Organisasi Papua Merdeka Nicholas M Messet, Kamis (20/9), menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta. Ia minta diterima kembali menjadi warga negara Indonesia. Sejak tahun 1969, ia meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Sarmi, Papua, bergabung dengan organisasi terlarang di Provinsi Papua yang menginginkan kemerdekaan sendiri. Keinginannya sebenarnya sudah tercetus sejak 1994, tetapi baru terwujud sekarang. Kepergian Messet dari Indonesia waktu itu karena ia merasa diperlakukan tidak adil saat mendaftar menjadi pilot penerbang di Jayapura. Dari hutan di Papua, ia bergabung dengan warga Papua lainnya di Papua Niugini dan kemudian ke Australia. Di Australia ia menjadi orang Papua pertama yang menjadi pilot penerbang setelah lulus dari sekolah pilot. Kini ia masih berstatus warga negara Swedia. Dalam pertemuan selama lebih kurang satu jam yang didampingi aktivis lembaga swadaya masyarakat yang mendukung otonomi khusus Papua (Independen Group Support The Special Autonomus Region of Papua within Republic of Indonesia/Igssarpri), Fibiolla Ohei, Messet menyerahkan langsung surat permohonannya menjadi WNI kembali. Menurut Messet, Wapres menjanjikan proses naturalisasinya akan segera dilakukan dalam waktu cepat melalui Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Mattalatta. "Wapres sangat senang dengan keinginan saya kembali menjadi WNI. Sepenuhnya saya serahkan kepada beliau proses selanjutnya. Ia juga menjanjikan yang terbaik bagi mereka yang kembali ke Indonesia," ujar Messet. Messet juga menyatakan ada sekitar 3.000 warga Papua yang sebelumnya meninggalkan Indonesia ingin kembali ke kampung halamannya. (HAR
