IIIHIMsight ed. 23 September 2007
  HIMailinglist : [EMAIL PROTECTED]
  HIMblog! : http://himfiles.blogs.friendster.com
   
   
  HIMtv
  Ide tulisan ini muncul setelah Selasa malam pekan lalu habis nonton “Naruto” 
( wah, udah gede begini masih liat kartun begituan, he he… ya gimana lagi lha 
wong tv2 sebelah muternya sinetron mulu sich ! ), jari ini memencet 
remote-control untuk pindah saluran. Cetak-cetek sebentar dan sampailah penulis 
di gelombang yang menayangkan acara “Snapshot” MetroTV. Dulu pikirnya mungkin 
program ini ada kaitannya dengan seni fotografi atau wisata kemana gitu, eh 
tahunya bukan pembaca.
  Edisi “Snapshot” minggu kemarin menghadirkan tema seputar aksi “spontan” para 
wartawan mengerubungi tokoh yang dimintai komentarnya. Menarik, bagaimana sosok 
jurnalis yang dikesankan “tahu segala berita” ditampilkan dalam sosok 
manusiawi. Rambut gondrong, berkaos tanpa kerah, dan selalu siap dengan 
“gadget” ( entah itu mikrofon, handphone, sampai kamera ) tersorong ke muka 
narasumber. Selain rebutan dalam mengajukan pertanyaan, juga aksi dorong kerap 
mewarnai persaingan dalam mendapatkan gambar antara jurnalis foto vs juru 
kamera. 
  Kalau tidak salah kutip komen yang muncul di antara para jurnalis mengenai 
profesi yang mereka, katanya yg rada “sulit diatur” tuch dari kalangan 
infotainment. Apakah karena aturan deadline dari para pencari gossip ini lebih 
ketat ? Sampai seringnya kalau memperhatikan presenter infotainment menarasikan 
sebuah gossip, bila sumber berita mengelak dikonfirmasi, kadangkala tercetus 
kalimat bernada “protes”  seperti ini : “Namun sayang sekali pemirsa, 
selebritis X bungkam bila ditanya soal yang satu ini.”
  Lho kok jadi ngomongin infotainment ? Kembali ke acara “Snapshot”, kalau 
melihat beberapa episode yang sudah tayang, wah ternyata bukan hanya polah 
pejabat saja yg bisa disorot public, tingkah kita sebagai rakyat yang suka main 
kritik pun seolah mendapat cermin diri. Ada aksi parkir sembarangan di letter S 
coret, motor/mobil menyerobot jalur busway, sampai ulah PNS yang sudah 
datangnya siang pulangnya cepat, eh pas jam kantor pun masih sempat keluyuran 
jajan keluar dengan alasan “keperluan mendadak / darurat”, he3… Ya, lagi2 
disini soal teladan dan ketegasan akan aturan menjadi hal penting, bukan 
sebatas hanya jadi program “sindiran” sambil lalu, tapi sebagai entry-point 
penyadaran diri atas koreksi perilaku yg tidak baik selama ini. Semoga.
   
   
  HIM&thecity
  Tahukah pembaca bahwa sebulan lagi ada konser…, upss maksudnya pentas sulap 
dari David Copperfield di Istora Senayan ? Diantara pertunjukkan musik yang 
mendatangkan musisi mancanegara, bidang sulap mungkin agak jarang digelar 
sebagai sebuah tontonan yg musti bayar untuk menikmatinya secara langsung. Di 
beberapa media cetak, sudah ada tuch penjualan tiket pre-sales-nya.
  Nah, omong2 soal tiket, penulis jadi ingin menuangkan soal aktivitas rutin 
setiap bulan Ramadhan. Apalagi kalau bukan event mudik nasional, meski 
sebenarnya fokusnya sich lebih kepada bagaimana Jakarta akan ditinggalkan 
sebagian besar penghuninya untuk sementara. Jakarta mungkin tempat yang masih 
menarik sebagai tempat mencari nafkah, namun maaf saja belum cukup sukses untuk 
membuat warganya menganggap ibukota ini sebagai rumah kampung halaman. 
  Maka lihat saja, bahkan sebelum bulan puasa dimulai pun antrean tiket mudik 
sudah diserbu sampai ludes untuk beberapa tanggal keberangkatan favorit, entah 
itu yang mau pulang via kereta api atau pesawat terbang. Sedangkan untuk 
angkutan bus, tampaknya beberapa perusahaan sudah memesan banyak armada 
angkutan darat tersebut, baik ditujukan bagi konsumen maupun agen pemasarannya. 
Ada pula produsen produk minuman yang menawarkan program undian hadiah mudik 
bareng dengan kendaraan sewa yang pastinya lebih nyaman. 
  Sementara bagi beberapa agen perjalanan, inilah saatnya “peak season” 
sehingga tak salah bila belakangan ini mereka begitu aktif beriklan di media 
surat kabar maupun promosi langsung ke berbagai pusat perbelanjaan. Dan para 
tenant mal pun tampaknya bakal habis-habisan menggelar program “sale”, terlebih 
kucuran THR tinggal menghitung hari.
   
   
  HIMretro
  Kangen Band. Ada seloroh seperti ini, kalau sebagian band pendatang baru 
memilih jalur indie untuk mempopulerkan jatidiri mereka untuk syukur2 bisa 
masuk majorlabel, justru KangenBand ini nge-hits lewat jalur kaset/vcd bajakan. 
Bukan bermaksud untuk meremehkan potensi kreatif mereka, hanya saja kalau 
mengamati perjalanan musik mereka, banyak yang mempertanyakan soal kualitas 
musik mereka. Ada yang bilang kampungan, grup band sampah, sampai 
mempertanyakan ada apa dengan selera musik (orang) Indonesia ? Tokh, penulis 
lihat mereka tabah dalam menerima kritik yang ada. Sampai belakangan ini 
kabarnya beredar lagu makian untuk KangenBand yang bernada kasar bahkan sampai 
ada unsur ancaman segala, yach ?!
  Eit... bukan berniat mengupas kontroversi diatas, namun penulis hendak cerita 
flashback nich bahwa di era 80an pun bisa dikatakan muncul hal yang kayaknya 
tak jauh beda, yang mungkin lebih dikenal dengan fenomena lagu2 cengeng. 
Salahsatu momentum besarnya adalah ketika lagu yang dibawakan oleh Betharia 
Sonata begitu meledak di pasaran : “lihatlah tanda / merah di pipi / bekas 
gambar tanganmu… “. Mungkin kalo bernostalgia kembali tentang tembang tersebut, 
nggak kerasa kita akan senyum2 sendiri. Tapi jangan salah, gara2 tuch lagu, 
kalau tak salah ada salahseorang menteri kabinet yg sampai mengungkapkan 
kegusaran akan mewabahnya lagu2 begituan bagi kondisi “psikologis” penikmat 
musik dalam negeri, kira2 mirip kali dengan saat mengungkapkan betenya kita 
akan sinetron2 tv sekarang.
  Dibilang mewabah karena ternyata untuk lagu2 bertipe mirip2 seperti itu bukan 
hanya dominasi Betharia Sonata saja, mungkin ada yang kenal dengan nama2 beken 
di jamannya seperti : Christine Panjaitan, Dian Piesesha, Ria Angelina, Helen 
Sparingga, Iis Sugianto, Endang S Taurina, sampai Ratih Purwasih ( mereka ini 
udah pernah diundang belum sebagai bintang tamu “Empat Mata” ? ) Juga pencipta 
lagu2 mellow-nya pun kecipratan imej serupa seperti : A.Riyanto, Obbie Mesakh, 
Pance F Pondaag, hingga Rinto Harahap. Dan label rekaman yang paling ngetop 
waktu itu, apalagi kalau bukan JK Records ( bukan singkatan dari nama Jusuf 
Kalla, tapi inisial dari nama pemiliknya yg kalo nggak salah : Judhi Kristianto 
).
  “yang / hujan turun lagi / dibawah payung hitam / kuberlindung … yang / 
ingatkah kau padaku / di jalan ini dulu / kita berdua … basah tubuh ini / basah 
rambut ini / kau hapus dengan saputanganmu…”, dst. Hayo tebak ini lagu judulnya 
apa dan siapa yang mempopulerkannya ? Kalo nggak pada tahu, silakan tanya ortu 
anda, siapa tahu masih ada yg me-rikues pas ada acara karaoke gitu.
   
   
  HIMoment this week :
  Whisper your name ( Human Nature )
   
   
   
  HIMtertainmentSound is provided by :
  Retromantic of HardrockFM87.6
  Rhytym of love of  MustangFM88
  Monday Back2back, Wednesday Slow Machine, & Sunday Club 80’s of KISFM95.1
  One Love of JAKFM101 
   
  HIMsight | HIMpersada10 |  HIMoments
  http://groups.yahoo.com/group/himtertainment

       
---------------------------------
 Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

Kirim email ke