Buat rekan Nurhayati via rekan Djoko Suryo,

1.Berkurangnya ukuran BUKAN hilangnya payudara bukanlah berarti akhir dari 
segalanya. Masih banyak hal lain yang lebih penting yang harus anda perjuangkan 
dari pada payudara. Dengan kemajuan technology saat ini bukan saja payudara, 
hidung, mata bahkan seluruh total penampilan bisa dirubah. 

Bersukurlah kita masih diberikan kesempatan untuk hidup dan bersukurlah anda 
terhindar dari "pria" yang kurang bertangung jawab tsb, kiranya Tuhan memberi 
pelajaran agar berhati-hati dan ingat "kita boleh berencana akan tetapi Tuhan 
jugalah yang menentukan". Jangan kecil hati masih banyak pria lain yang lebih 
pantas dan penuh dengan ketulusan dalam mencintai seseorang. Cinta bukanlah 
hanya dari penampilan saja.

2.Dan juga kehilangan pekerjaan bukanlah akhir dari berkarya, masih banyak hal 
lain yang bisa kita kerjakan dan pencayalah masih banyak tantangan lain yang 
akan kita hadapi.

Salam,

HH




  ----- Original Message ----- 
  From: beritarakyat88 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, September 23, 2007 9:32 AM
  Subject: [mediacare] PAYUDARAKU HILANG: Curahan Hati Seorang Perempuan Cacad


  http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&dn=20070923203956

  Oleh : Djoko Suryo 
  23-Sep-2007, 20:39:56 WIB - [www.kabarindonesia.com]

  Nama saya Nurhayati (bukan nama asli) usia 32 tahun mantan Manager 
  di salah perusahaan asing. Sejak dua tahun sudah bertunangan secara 
  resmi. Tunangan saya masih kuliah, karena ia dari keluarga yang 
  tidak mampu, maka saya sebagai penunjang utama biaya kuliah maupun 
  biaya hidupnya di Yogya. Saya tadinya merasa bahagia sekali sebab di 
  akhir tahun ini kami merencanakan akan menikah, maklum saya sangat 
  mendambakan sekali ingin cepat-cepat dapat momongan. Tetapi rupanya 
  Sang Pencipta menghendaki hal lain yang terjadi di dalam kehidupan 
  saya.

  Pada awal tahun, dokter telah mendeteksi tumor ganas di payudara 
  saya dan tumor ini rupanya sudah sedemikian parahnya, sehingga mau 
  atau tidak harus dioperasi dan seluruh payudara saya diangkat. 
  Ketika pertama kali saya mendengar berita tersebut saya benar-benar 
  merasa shock dan sedih sekali, sebab dengan mana hancurlah sudah 
  harapan idaman saya untuk bisa mendapatkan momongan. Pada saat tsb 
  saya hanya bisa berdoa dan membanjiri sorga dengan air mata. Melalui 
  operasi tsb saya merasa kehilangan harga diri saya sebagai seorang 
  perempuan, saya merasa seperti juga seorang perempuan cacad.

  Ketika saya menceritakan musibah tsb, tunangan saya berjanji untuk 
  mendampingi saya pada saat operasi, tetapi dengan alasan karena ia 
  sibuk dengan kuliahnya maka ia tidak bisa datang, walaupun demikian 
  ia menjanjikannya untuk datang pada saat liburan. Ternyata di waktu 
  liburan pun ia tak kujung tiba yang datang hanya sekedar surat 
  permohonan bantuan dana lagi untuk biaya kuliah maupun biaya 
  hidupnya. Permohonan itu saya penuhi dengan mengirimkan uang Rp lima 
  juta.

  Ketika dulu tunangan saya harus dioperasi karena kecelakaan lalu 
  lintas, saya mendampingi dia siang dan malam di rumah sakit, di 
  samping itu seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh saya 
  sepenuhnya. 
  Akhirnya saya sadar bahwa sebenarnya ia ingin memutuskan hubungannya 
  dengan Never Say Good-Bye. Dugaan ini dipertegas oleh sahabatnya di 
  mana ia pernah curhat, bahwa ia sebenarnya merasa jijik kalau punya 
  istri yang tidak memiliki payudara apalagi kalau ada cacad bekas 
  jahitan operasi di tubuhnya.

  Hal ini jauh lebih menyakitkan saya daripada ketika payudara saya 
  harus diangkat, saya merasa ditinggal oleh orang yang sangat saya 
  kasihi di mana saya telah bersedia berkorban untuknya selama 
  bertahun-tahun, tetapi pada saat saya membutuhkan dukungan moril 
  maupun sedikit kasih sayang, ia memutuskan hubungannya begitu saja 
  hanya dengan alasan karena ia merasa jijik terhadap diri saya yang 
  sudah tidak memiliki payudara lagi.

  Dihianati oleh orang yang kita kasihi ada jauh lebih menyakitkan 
  daripada dihianati oleh orang lain. Dihianati karena ia tertarik 
  dengan gadis lainnya yang jauh lebih cantik bisa saya makluminya, 
  tetapi ditinggal pergi begitu saja karena alasan jijik terhadap 
  tubuh saya, ini benar-benar sangat menyakitkan sekali. Saya merasa 
  diperlakuan seperti juga sampah kotor yang dibuang begitu saja, 
  bukan hanya karena tidak bermanfaat lagi saja, melainkan juga karena 
  menjijikkan. Hal inilah yang membuat harga diri maupun Pe-De saya 
  jadi menurun drastis.

  Rupanya penderitaan saya tidak berakhir sampai di sini saja, sebab 
  satu bulan kemudian saya juga mendapat surat pemutusan hubungan 
  kerja dari perusahaan saya, dengan alasan mereka membutuhan orang 
  yang sehat dan tidak sakit-sakitan seperti saya. 

  Rupanya pukulan hidup itu datang dengan serentak dan secara bertubi-
  tubi. Sehingga akhir-akhir ini sering timbul pikiran untuk mengambil 
  jalan pintas saja dengan bunuh diri, sebab buat apa saya hidup juga, 
  di mana sudah tidak memiliki jangankan masa depan, gairah hidup pun 
  sudah tidak ada lagi. Hidup saya sudah hancur, boro-boro bisa 
  mendapatkan momongan seperti yang menjadi impian saya, tunangan pun 
  meninggalkan saya dengan cara begitu saja tanpa pamit. Di tempat 
  pekerjaan pun saya sudah tidak dibutuhkan lagi, di mata mereka saya 
  sudah termasuk barang rongsokan dan tidak dianggap sebagai manusia 
  seutuhnya lagi.

  Yang menghalangi saya untuk melakukan tindakan nekad ini hanya ibu 
  saya, karena saya adalah anak tunggal, ibu saya usianya sudah 70 
  tahun sedangkan ayah saya sudah lama meninggal. Jadi apabila saya 
  sudah tidak ada lagi siapa yang akan dan mau mengurus ibu saya. Oleh 
  sebab itulah setiap hari saya hanya bisa berlutut berdoa dan memohon 
  kepada-Nya untuk dapat diberikan waktu sejenak lagi, sehingga saya 
  bisa mendampingi ibu untuk beberapa saat lagi. Apakah permohonan ini 
  terlalu berlebihan ?

  Pada saat payudara saya diangkat, hanya ibu seorang yang mendampingi 
  saya. Dan ketika ia melihat bahwa saya sudah tidak memiliki payudara 
  lagi, tak sepatah katapun ia ucapkan. Ia hanya memeluk dan mendekap 
  saya sambil turun air matanya berlinang, karena saya adalah putri 
  kesayangan satu-satunya.

  Rupanya kasus seperti saya ini, bukannya hanya sekali atau dua kali 
  saja terjadi, menurut pendapat beberapa dokter maupun rekan-rekan 
  lainnya; banyak pria yang meninggalkan atau memutuskan hubungannya 
  setelah pasangan hidup mereka kehilangan payudaranya. Padahal ini 
  bukanlah keinginan istrinya, perempuan mana di dunia ini yang rela 
  dan mau kehilangan payudaranya? 

  Kenapa pria tidak bisa dan mau menerima perempuan yang tidak 
  memiliki payudara ? Apakah diri saya sekarang ini sudah berubah 
  menjadi monster sehingga kaum pria merasa jijik terhadap diri saya? 
  Apakah perempuan yang tidak memiliki payudara ini harus dijauhi 
  seperti juga para penderita Aids atau kusta ? Apakah saya harus 
  melakukan operasi plastik agar tunangan saya mau balik kembali 
  kepada saya?

  Saya benar-benar bingung dan sedih sekali menghadapi situasi seperti 
  sekarang ini. Hal ini membuat saya jadi semakin menutup diri dan 
  tidak mau keluar rumah lagi, saya merasa malu, malu karena saya 
  bukanlah perempuan seutuhnya lagi, saya hanyalah seorang perempuan 
  cacad yang menjijikkan. Mohon bantuannya, mungkin Anda mempunyai 
  saran ataupun pengalaman serupa seperti saya???

  Komentar bisa diberikan melalui situs: www.kabarindonesia.com 



   

Kirim email ke