Gestok
  (Catatan DARI Pinggir untuk Caping Goenawan Mohamad berjudul “Gestapu”)
   
  Saya tidak suka memakai kata “Gestapu”. Saya tak mau menjadi bagian dari 
proyek Rejim Orde Baru untuk menstigmatisasi PKI. Orde Baru menciptakan akronim 
“Gestapu” untuk mengingatkan pada Gestapo NAZI yang pada tahun 60-an banyak 
beredar buku-buku terjemahan mengenai kebengisan polisi rahasia itu. 
   
  Maka, saya lebih suka memakai kata “Gestok”. Akronim yang diciptakan Bung 
Karno untuk melawan mitos yang hendak diciptakan tersebut. Sekaligus untuk 
menunjukan bahwa kudeta yang sebenarnya itu terjadi pada tanggal 1 Oktober, 
yakni ketika gerakan 30 S dilumpuhkan dan tentara praktis menggenggam kekuasaan 
tertinggi. 
   
  Saya juga tidak hanya akan mengenang horor pada tiap 30 September dan 1 
Oktober. Horor yang lebih mengerikan justru terjadi sesudahnya. Jutaan orang 
yang dianggap PKI maupun simpatisannya digelandang ke penjara tanpa mengalami 
proses pengadilan. Apabila Nazi perlu beberapa tahun untuk membantai Yahudi 
yang berbeda ras, bangsa kita hanya perlu beberapa minggu untuk menyembelih 
lebih dari satu juta saudara sebangsanya tersebut. Inilah pembantaian manusia 
terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Holokaus terbesar kedua setelah NAZI, 
kata MR Siregar dalam buku babonnya “Tragedi Manusia dan Kemanusiaan” yg baru 
diterbitkan. Suatu pembantaian yang tak pernah diperkirakan dan menjadi PR 
besar bagi siapa saja menekuni peradaban bangsa ini, demikian Clifford Geertz. 
Inilah bangsaku yang selalu mencucuk darah putra-putrinya sendiri, murka 
Pramoedya Ananta Toer dalam pembuangannya di Buru.
   
  Tidak pengakuan resmi atas sejarah kelam itu. Tidak ada yang mengaku 
bertanggung jawab maupun dikenai pertangungjawaban. Sampai sekarang. Gelap. 
   
  Sekali lagi kata MR Siregar, PKI sengaja dibikin mambang, karena dengan 
itulah Orde Baru berdiri. Ketika Soeharto lengser, Orde itu tetap utuh meski 
dengan riasan yang berbeda sehingga mambang itu masih gentayangan dalam sudut 
angker benak masyarakat. 
   
  Saat Uni Soviet bubar dan tembok Berlin ambruk dan China menjadi “murtad”, 
buru-buru Fukuyama bilang ideologi sudah berahir. Kapitalisme menang. 
Komunisme/Marxisme KO. Argumennya tampak menyakinkan (atau menyenangkan). 
Namun, Fukuyama sudah lama menjadi bahan tertawaan para intelektual Barat.
   
  Pemberontakan Zapatista di pegunungan Lacandon langsung mementahkan dalil 
itu. Apa yang disebut sebagai “back to Marxism” itu kemudian menjalar di 
negara-negara Amerika Latin, yang terkhusus siapa lagi kalau bukan Hugo Chavez 
di Venezuela. Mengapa negara-negara Amerika Latin kembali berpaling kiri? 
Karena mereka sudah lebih satu dekade menerapkan kebijakan neoliberalisme dan 
merasakan pahit semata yang dicecapnya. Ironisnya, apa yang sedang mereka coba 
akhiri itu, kita di sini malah sedang memulainya.
   
  Lalu, di manakah Habermas? Maaf saja, Habermas tidak laku. Konsepnya terlalu 
tinggi mengawang. Niatnya untuk mengoreksi Marxisme, namun kebuntuan justru 
yang dihasilkannya. Konsep demokrasinya mengandaikan bahwa negara yang 
menerapkannya harus sudah mengatasi kendala-kendala alamiahnya. Untuk negara 
Dunia Ketiga seperti kita, prasyarat itu jelas jauh panggang dari api. Lebih 
dari itu, konsepnya sebenarnya utopis, kalau tidak berbahaya. Habermas bertumpu 
pada keyakinan bahwa setiap orang berkomunikasi untuk mengejar kebenaran, untuk 
mencapai konsensus. Ia mengabaikan kenyataan bahwa sistem yang timpang membuat 
komunikasi itu bisa penuh distorsi dan muslihat. 
   
  Dan kita memilih demokrasi. Benarkah? 
   
  Demokrasi macam apa? Benarkah kita hidup di negara demokratis? Jangan 
bercanda, Bung. Tidak ada tirani, tidak serta merta kita menjadi demokratis. 
Bahkan Larry Diamond sudah merivisi konsepnya. Lengsernya tirani disebuah 
negeri bisa menyebabkan negara itu bergerak ke salah satu dari dua arah. Satu 
ke arah demokratis. Satunya lagi anarki. 
   
  Kita sekarang sedang menjadi kian anarkis. Sistem politik yang sekarang 
sedang berlangsung bukanlah demokrasi, melainkan suatu sistem timpang, di mana 
uang dan kekerasan menjadi panglimanya.
   
  Jangan pernah kita berilusi bahwa kita sekarang sedang berdemokrasi selama 
masih ada diskriminasi di negeri. Selama masih ada sebagian warganegara yang 
tidak diakui hak-haknya. Selama kebebasan untuk memperoleh informasi dikekang. 
Selama orang-orang PKI tetap menjadi paria. Selama Marxisme/Leninisme masih 
menjadi ajaran terlarang. Selama musim perburuan daging manusia pasca Gestok 
tetap dihapus dalam buku-buku sejarah. 
   
  Mengapa Bung tidak menyuarakan soal-soal yang ini? 
  …………..Apa masih menghitung-hitung ongkosnya?
    
   
  Salam hangat,
   
   
  Verdi Said
   
   

       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

Kirim email ke