Nicky Astria,Euis Darliah,Nike Ardilla,Cut Irna,Ita Purnamasari,Lady Avisha,Mel 
Shandy.Yoshie Lucky,Hesty Brizza,Anggun C Sasmi,Ayu Laksmi,Renny Jayusman etc 
etc kerap dijuluki Lady Rocker........
  Tapi siapakah yang sesungguhnya pantas disebut sebagai pendobrak "Lady 
Rocker" ?
  Ikuti tulisan dibawah ini
   
  ______________________________________________________________________
   
  Titik Nadir Rocker Wanita Sylvia Saartje 
  Republika Senin,24 September 2007
  
Oleh Denny Sakrie 



  Siapakah penyanyi rock wanita pertama di Indonesia? Jawaban yang mendekati 
dipastikan adalah Sylvia Saartje. Jauh sebelum booming istilah lady rockers di 
dasawarsa 80-an yang melekat pada sosok, seperti Nicky Astria, Nike Ardilla, 
Mel Shandy, Ita Purnamasari, Yosie Lucky, Ayu Laksmi, Atiek CB, Lady Avisha, 
Cut Irna, dan masih sederet panjang lainnya.
  Nicky Astria dan kawan-kawan patut berterima kasih kepada Sylvia Saartje yang 
bisa dianggap sebagai pembuka jalan bagi mencuatnya penyanyi rock wanita. 
Disayangkan, sosok Sylvia Saartje nyaris tak terdengar lagi kiprahnya. Tak 
sedikit yang tidak mengenal siapa Sylvia Saartje, wanita berdarah Maluku - 
Belanda yang dilahirkan 15 September 1957 di Arnhem, Belanda.
  Namun, bagi penggemar musik rock era 70-an, Sylvia Saartje yang kerap 
dipanggil dengan nama kesayangan Jippie, ini, adalah daya tarik sebuah pentas 
pertunjukan rock yang saat itu didominasi oleh para pemusik lelaki. Bisa 
dibilang, Sylvia Saartje berlenggang sendirian dalam kancah musik rock 
Indonesia.
   
  Nuansa Blues
  
Bayangkan, ketika majalah anak muda terbitan Bandung, Aktuil menggelar 
pertunjukan beraroma keras bertajuk Vacancy Rock pada 1972, Sylvia tercatat 
satu-satunya artis wanita yang berjingkrak-jingkrak meneriakkan lagu-lagu rock. 
Saat itu, ia dianggap pas melantunkan repertoar milik grup legendaris Led 
Zeppelin. Rasanya hanya Sylvia jualah yang pas menghayati nuansa blues milik 
almarhumah Janis Joplin.
  Bahkan, di tahun 1974 dalam sebuah pertunjukan musik rock di kampus 
Universitas Padjadjaran Bandung, Sylvia mendapat sambutan luar biasa ketika 
menyanyikan lagu Pink Floyd dari album Dark Side of The Moon bertajuk 'The 
Great Gig in The Sky'. Penampilan vokalnya nyaris sempurna. Saat itu secara 
tidak langsung penonton langsung membandingkan volal Sylvia dengan Claire Tory, 
artis wanita yang menjadi penyanyi tamu dalam album Pink Floyd.
   
  Dunia Seni
Sylvia Saartje, yang saya temui di Bali beberapa waktu lalu, bercerita panjang 
lebar mengenai kiprahnya di dunia musik. ''Sebetulnya aku tak hanya berkarier 
di musik. Tapi juga di teater, film, fashion, dan juga menari,'' cerita Sylvia 
Saartje yang tahun ini genap berusia separuh abad.
  Bakat menyanyi mulai terlihat sejak kecil tatkala Sylvia Saartje aktif 
tergabung dalam paduan suara gereja. Dalam usia 10 tahun, dia pun telah 
memberanikan diri mengikuti ajang Bintang Kecil di RRI Malang, Jawa Timur. 
Sylvia memang memilih musik sebagai pilihan hidup. Ketika berusia 11 tahun, dia 
mulai diajak bergabung sebagai vokalis band Tornado. ''Saya bergabung dengan 
Tornado dari tahun 1968 hingga 1970,'' ungkapnya. Di tahun 1970, ia mulai 
mengukir prestasi dengan masuk sebagai 10 besar finalis Lomba Bintang Radio 
se-Provinsi Jawa Timur.
  Walaupun berkutat dengan musik pop, namun, nurani Sylvia bergelegak dalam 
pusaran dinamika musik rock. Memasuki dasawarsa 70-an, seniman ini mulai 
terlihat fokus menyanyikan repertoar rock dengan diiringi sederet grup musik 
yang berada di Jawa Timur, mulai dari The Gembell's, Bentoel, Avia's, Elfira, 
Bad Session, Oepet, Arfack Band, dan banyak lagi.
   
  Senia Peran
Di samping memilih jalur musik rock, Sylvia Saartje pun mengembangkan bakat 
seni peran yang dimilikinya. Pada tahun 1972, sutradara Ostian Mogalano 
mengajak Sylvia ikut bermain dalam film laga bertajuk Tangan Besi. ''Saat itu 
aku memang ingin cari pengalaman seni di luar musik. Kebetulan dapat peran 
kecil,'' paparnya.
  Pada dasawarsa 80-an, Sylvia banyak terlibat dalam beberapa film layar lebar, 
di antaranya mendapat peran utama dalam film Gerhana (1985). ''Selain 
berakting, saya juga diminta untuk menulis ilustrasi musiknya bersama Buche 
Patty,'' tambahnya lagi.
   
  Band Wanita
  
Di tahun 1976, wartawan Mashery Mansyur berniat membentuk band rock wanita. 
Lalu menyatulah nama-nama, seperti Sylvia Saartje (vokal), Reza Anggoman 
(keyboards), Rini Asmara (drums), Senny (bass), Lis April (gitar), dan Lenny 
(gitar) dalam sebuah band dengan nama The Orchid. Sayangnya, usia grup ini 
tidak panjang. Setelah dikontrak bermain di beberapa tempat, The Orchid pun 
dinyatakan bubar. ''Walau gagal dalam membentuk band, tapi semangat bermusik 
saya tak pernah pudar,'' ujar Sylvia Saartje.
  Setahun kemudian, Ian Antono, gitaris God Bless, menawarkan solo karier bagi 
Sylvia pada perusahaan rekaman Irama Tara. ''Saya merasa senang luar biasa. 
Apalagi yang mengajak saya adalah Ian Antono, pemusik rock ngetop yang seasal 
dengan saya, yaitu Malang,'' Tuturnya. Saat itu, Ian Antono baru saja sukses 
menggarap album Duo Kribo di perusahaan Irama Tara. Ternyata album bertajuk 
Biarawati berhasil sukses di pasaran. Lagu ini sering diputar di berbagai radio 
swasta di penjuru Nusantara.
  Sayangnya, kerja sama dengan Ian Antono hanya berlangsung di album perdana 
saja. ''Saya sempat frustrasi, karena album-album solo sesudahnya tidak mampu 
menyamai sukses album Biarawati, kata Sylvia Saartje dengan mata menerawang.
  Padahal, album-album solo Sylvia Saartje justru didukung banyak pemusik 
berkualitas, semisal Jopie Item, Christ Kaihatu, Farid Hardja, Country Jack, 
Debby Nasution, dan Totok Tewel. ''Mungkin, karena persenyawaan saya dengan 
gaya musik mereka tidak cocok,'' ujarnya lagi. 
  Sejak tahun 1997, praktis Sylvia Saartje memang belum pernah merilis album 
baru lagi. ''Tapi, saya terus menulis lagu.'' 
  Musik memang telah menyatu dalam pembuluh nadinya.
   
  DISKOGRAFI
  
1. Biarawati - Irama Tara 1978
2. Kuil Tua - Irama Tara 1979
3. Puas - Irama Tara 1981
4. Mentari Kelabu - Irama Tara 1982
5. Ooh! (Irama Tara 1983)
6. Jakarta Blue Jeansku (Irama Tara 1984)
7. Gerhana (Insan Record 1986)
8. Take Me with You (Logiss Record 1994)
9. Berdayung Sampan (SKI 1995)
10. Skali Lagi! (SKI 1996)
   
  FILMOGRAFI
1. Tangan Besi (PT Garuda Film,1972) aktris
2. Barang Antik (PT Kalimantan Film 1983) aktris
3. Gerhana (PT Inem Film 1985) akris/Music Score
4. Kodrat (PT Multi Permai Film 1986) aktris
  (Denny Sakrie ) 


       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 

Kirim email ke