Lumbung Kematian Itu Bernama “Orang Papua”
   Integrasi Papua kedalam Indonesia bukanlah persoalan baru bagi Bangsa 
Indonesia. Sepak terjang nasib orang Papua dalam tantangan bagaimana rakyat 
memperjuangkan kebutuhan sebuah kedaulatan semesta. Walaupun tuntutan orang 
Papua cenderung dipandang oleh kalangan elit Indonesia yang terdokrin dari dua 
keputusan hukum sebagai alasan Papua bagian dari Indonesia. Diantaranya yang 
selama ini kita semua tahu klaim integrasi Papua kedalam Indonesia 1 Mei 1963 
dan PEPERA tahun 1969. dalih-dalih inilah membuat keberpihakan terhadap 
perjuangan rakyat semakin di reda dengan senjata separatis. Tak dapat dihalau 
Peradaban penjajahan di dunia telah mereduksi keberpihakan klas ketertindasan 
semakin meningkat dibelahan dunia.  
   Dunia sekarang bersidang untuk menetapkan keputusan terbaik bagi dunia 
“Sidang Umum PBB” sedang dilangsungkan. Berbagai masalah di belahan dunia 
menjadi perhatian Negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Disatu sisi 
sejauh mata memandang, rentetan kejadian terus terjadi di Papua. Keracunan, 
Teror, Intimidasi dan kematian misterius tak dipungkiri telah nyata terjadi.  
  Situasi Terkini Tanah Papua
  Majelis Rakyat Papua ( MRP ) menyatakan selang bulan agustus disaat perayaan 
ulang tahun Indonesia yang ke 62, lima puluh delapan orang Papua meninggal 
tanpa sebab. Kajian sementara pejabat resmi Indonesia ini bahwa ada upaya 
sistematis yang dilakukan kelompok tertentu untuk menciptakan konflik dengan 
berbagai cara. Namun sayangnya MRP tak bisa berbuat apa-apa walaupun mereka 
adalah pejabat publik tetapi selalu di garis luar yang tak punya gigi untuk 
menggigit Indonesia.  
   Intervensi internasional terhadap masalah Papua sebelum agustus-07 punya 
dalih untuk Indonesia serius tangani Papua. Maka untuk menjalin keyakinan akan 
perubahan di Papua pemerintah keluarkan PERPRES No. V tentang percepatan 
pembangunan kawasan tertinggal, termasuk penanganan otsus yang tidak berdaya 
“gagal” dilaksanakan selama tujuh tahun terkhir. Penerapan Perpres didukung 
dengan dana 18 trilyun. Apakah akan tuntas masalah Papua dengan keseriusan 
Indonesia sekarang???
  Spektrum Kebijakan Politik di Papua Bagian Barat.
 “Otsus-Pemekaran dalam Investasi-militerisasi”
   Negara-negara makmur punya cara tersendiri untuk menangani masalah yang 
terjadi di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang saat ini menguasai 
Papua. Tidak ada cara lain, selain mengintervensi secara politik dan memberi 
hibah pinjaman uang. Timor Leste adalah Negara terkini yang menjadi lahan 
pinjaman internasional selain Indonesia yang sudah menampung dan hidup diatas 
hutang luar negeri.  
   Tanah Papua dalam resensi globalisasi tidak bisa lari dari kenyataan 
globalisasi. Cara yang paling gampang cengkraman itu ada adalah segudang 
kebutuhan terus disediakan bagi kenyamanan investasi seperti pemekaran wilayah 
administrative, pembunuhan karakter tradisi orang Papua yang kuat, kebutuhan 
represi dan terror terhadap penduduk setempat. Pemekaran wilayah di Papua baik 
propinsi maupun kabupaten mendesak dilakukan demi menjawab kebutuhan modal 
internasional dan nasional. Elit politik lokal harus kalah dalam menghadapi 
kenyatan ini, sehingga intelektual Papua hanya dibutuhkan legitimasi untuk 
mendorong tercapainya keinginan kelompok modal dan rakyat terus dianeksasi 
dalam retorika kemakmuran dan kesejahteraan. Rentang kendali dengan dalih 
sejahtera, ketertinggalan namun nyatanya sama-tetap miskin dan terus 
tertinggal.  
  Nah, ada apa dengan peluncuran satelit Rusia di Biak tahun 2010 mendatang?. 
Negara-negara teknologi maju akan mengedepankan kemandirian teknologi dalam 
berbagai kebijakan politik luar negeri mereka. Negara-negara terkorup dan 
banyak utangnya menjadi sasaran adalah Indonesia. Amerika dan Rusia maupun 
Eropa dan Jepang akar perjuangan bagi kemandirian teknologi”soft&hardward”. 
Masyarakat Papua adalah penduduk tradisional yang belum berada dalam tataran 
teknologisasi modern. Dalam mempertahankan hidup pun, orang Papua masih mengadu 
kealam. Kita masih dimanja alam. Segala sesuatu beralih ke ketersediaan alam 
semata. Nah, bagaimanapun juga, pasar teknologi modern harus ada di Papua. Apa 
yang terjadi?..lonjakan budaya pasti ada. Kenapa Otsus gagal di Papua? Ini 
masalah serius dan menjadi evaluasi bahkan penghentian bagi siapapun yang 
berdialektika otsus berhasil. Alasannya sangat jelas, jembatan bagi 
kelangsungan pasar globalisasi ada di Papua adalah Otsus. Ditengah struktur
 sosial orang Papua yang kental dengan tradisional sejati. Masyarakat adat yang 
menjunjung tinggi kedaulatan adat dan budaya yang kuat. Bagi globalisasi inilah 
tantangan mutakhir karena mereka tak dapat hidup dengan modernisasi ditengah 
lingkungan yang berwatak tradisi. UU No. 21/2001 hanyalah alat bahkan jembatan 
globalisasi.  
  Peranan Investasi dalam gejolak politik dan kemanusiaan di Papua
   Ini dia pemicu porak-poranda Tanah Papua. Di era Susilo Bambang Yudhoyono 
sudah ada 18 perusahaan yang ditandatangani kontrak karya kerja. Papua belum 
selesai soal Freeport dan BP kemudian caltex yang jelas tidak menunjukan dampak 
positif apapun disana. Freeport punya wewenang di wilayah pegunungan tengah, BP 
punya wewenang di wilayah kepala burung sedangkan caltex punya wewenang 
diwilayah Biak. Maroke  akan dibangun perusahaan perkapalan ternama di Asia 
investasi jepang dan korea. Ribuan hektar hutan Papua saat ini diincar oleh 
pengusaha terkaya asal Belanda yang menginvestasi perkebunan kelapa sawit.
   Mengapa analisis ini penting?...ya, spectrum kebijakan politik diPapua bila 
di tilik adalah benar peran yang dimainkan sang modal merubah fenomena sosial 
maupun politik di Tanah ini. Bagaimana cacatnya Proses penentuan pendapat 
rakyat tahun 1969 terjadi akibat dua tahun sebelumnya tahun 1967 intervensi 
Freeport datang ke Papua dan lahirnya UU.No 11 tahun 1967 tentang investasi 
asing. Dampak kemanusiaan pun nyata sejak keberadaan multicoorporat. Kasus mil 
62-63 di mile Freeport selain 7 orang dipenjara-Ardi Tsugumol meninggal dalam 
tahanan Mabes Polri. Belum lagi masalah penembakan di wilayah konsensi Freeport 
yang sampai sekarang tak mampu diungkapkan oleh Negara. Sampai sekarang 
negosiasi penyelesaian masalah Freeport dari 1 persen menjadi 3 persen untuk 
penduduk sipil Papua, 4 persen naik menjadi 6 persen untuk Jakarta. Tahun 2006 
pendapatan total Indonesia dari Freeport rata-rata 40 trilyun. Sejumlah problem 
sosial dan politik yang terjadi semenjak FI ada tidak
 dinegosiasikan. Musti ada sikap terbuka dari semua pihak dalam pola 
penyelesaian Freeport. Tekanan politik orang Papua punya peran untuk mendorong 
perhatian serius soal-soal kedaulatan.
  Fenomena Biomiliterisme & Tindakan Terror Sekarang Strategi dan Bertujuan 
untuk apa…???
   Kehadiran Anggota Kongres AS juli 07 di Jakarta membuktikan kegagalan Otsus 
di Papua. Semestinya selain rakyat Papua diberikan kesempatan referendum 
setelah otsus berjalan selama 25 tahun (2001-2025). Solusi yang pantas adalah 
Indonesia membuka ruang referendum sejak otsus dinilai gagal. Jika konsekwen, 
Rakyat Papua sudah menentukan suara bulat dalam mekanisme referendum ditahun 
2007 ini pasca kegagalan otsus. Namun realitas berubah dengan penerapan terror, 
penculikan, peracunan dan pembunuhan. Ada apa..!
  Papua tidak lagi ditangani dengan cara-cara bersenjata sebab Indonesia 
memahami benar embargo senjata dari Amerika akibat kekerasan senjata aparat di 
Papua. Militer Indonesia dibatasi hak mereka untuk menggunakan senjata 
menyelesaikan masalah Papua. Nah, keterpurukan sekarang akibat kekuatan bedil 
sejata zaman lalu mulai nampak kasus-kasus para jenderal terbongkar bisnis liar 
mereka. Laporan NYT-New York Times,27/12/05 semua kemauan baik fasilitas maupun 
keuangan mulai dari letnan sampai jenderal mampu disediakan oleh Freeport.  
   Tetapi kekuatan bersenjata tidak selamanya diam jika dikemudian hari pasca 
penandatanganan peluncuran satelit di Biak, bantuan persenjataan Rusia 
dibutuhkan bagi tentara RI. Pendropan peralatan militer rusia bagi RI ini fase 
terkini yang menghawatirkan. Sebab kegigihan Rusia memperjuangkan masalah 
kemanusian HAM lemah dibanding Amerika, Eropa dst yang cukup kuat tekanan HAM.  
   Indonesia tidak berdaya dalam tekanan internasional itu pasti. Reformasi 
1998, tuntutan Papua dan Aceh Merdeka bahkan berhasilnya Timor leste mewujudkan 
Negara sendiri. Fenomena politik dalam transisi demokrasi di Indonesia tak 
terhindarkan dari sorotan internasional. Berhasilnya Otonomi Daerah, Otsus 
untuk Papua merupakan konsensi internasional juga.  
   Apa yang dilakukan jika Otsus Papua gagal, Perundingan RI-GAM bentrok di 
tengah jalan. Pilihan Indonesia adalah statute Negara kesatuan tidak memberi 
jaminan kesatuan Negara. Maka peranan internasional sekarang adalah disatu sisi 
menegaskan keberpihakan dalam penyelesaian konflik namun semakin tidak 
konsisten dukungan bagi  perjuangan wilayah-wilayah merdeka. Indonesia pasca 
2009 tak akan bergigi lagi jika Negara persatuan yang rapuh, maka win-win 
solusi dalam menjawab masalah ini adalah…Papua dan Aceh Negara sendiri ataukah 
tetap dalam Indonesia dengan perkuat Otsus yang lebih baik lagi yaitu federal. 
Inilah satu-satunya solusi terkini dan akan datang dalam menjawab kegagalan 
otsus di Papua dan konflik di Aceh.  
  Kolaborasi Konflik Di Papua Menjelang Jeda Pemilu 2009
   Menjelang pemilu di negeri Indonesia konflik merupakan budaya rekonstruksi 
elit. Indonesia dalam tataran kehidupan bernegara yang plural terbagi dalam 
berbagai kelompok dan golongan. Dari Mayoritas, minoritas, dominasi Agama dan 
Sipil-Militer. Kubu nasionalis dan kubu agamis. Fenomena golongan hari ini 
cukup andil dalam prospek kebijakan nasional. Lahirnya kubu oposisi, kubu 
Agamis liberal hingga agamis reaksioner. Kancah perpolitikan Jakarta yang 
semakin didominasi kembalinya tentara kedalam ruang-ruang politik semakin 
menjurus pada kekuasaan otoriter dikemudian hari. Pemilu mendatang, tentara dan 
sipil dipertaruhkan dalam pesta rakyat. Wilayah-wilayah yang rawan konflik 
tidak luput dari warna konflik menjelang pemilu.
   Peristiwa yang terjadi di Papua sekarang adalah tidak terlepas dari 
kolaborasi menuju kesuksesan pemilu. Elit politik Jakarta patut di duga 
keberpihakan mereka dalam mempraktekan konflik di Papua. Sudah pasti Papua 
dibagi-bagi dalam kepentingan investasi internasional dan nasional, gerakan 
politik praktis pun tidak diam dalam membagi lahan. PDIP dan Golkar dua 
kekuatan politik rill yang dominan di nasional. Juga mayoritas baik Agamis 
maupun golongan Militer dua spectrum politik yang tak luput dari peranan mereka 
terhadap Papua.  
  Hutan Papua “solusi” Bagi Pemanasan Bumi
 -Masyarakat adat Punya tempat yang Sempurna-
   Indonesia sekarang kepala besar karena punya wilayah territorial yang sedang 
dipandang dunia untuk mampu menjawab bahaya pemanasan bumi. Adalah Papua. Dalam 
bulan Desember 2007, akan diselenggarakan pertemuan Negara-negara dunia. 
Negara-negara modern dalam kasad mata terkini tertuju ke Indonesia sebagai 
Negara berkembang yang punya kemerdekaan adat dan budaya. Papua jadi titik 
tolak mata dunia tertuju. Maka tidak heran dalam kampanye GLOW-kelompok baru 
yang bangkit dan mengkampanyekan pentingnya masyarakat adat dipertahankan. GLOW 
memandang masyarakat Papua dan Dayak punya peranan Adat yang cukup signifikan 
dalam menjaga hutan dan lingkungannya. Maka tidak heran kawan-kawan Papua dan 
Dayak dilibatkan dalam perjuangan bersama masayarakat adat.  
   Capaian internasional dalam menjawab pemanasan bumi dimana dalam resolusi 
PBB tahun ini hendak dikeluarkan sebuah petisi resmi tentang pentingnya 
perlindungan terhadap Hak-hak masyarakat adat di seluruh dunia. Dalam pandangan 
PBB, Negara-negara asia dan Negara berkembang masih banyak didominasi 
masyarakat adat. Dimana kemampuan masyarakat adat sudah terbukti tidak merusak 
hutan. Ketika resolusi PBB hendak dibawa dalam siding PBB tahun ini, tidak 
mulus keberpihakannya terhadap masyarakat adat akibat ketidak setujuan beberapa 
Negara seperti Amerika, Inggris dan Eropa. Alasan ketidak setujuannya adalah 
kebijakan perlindungan dan pemgakuan terhadap hak-hak masyarakat adat tidak 
sesuai dengan konstitusi Negara sendiri.  
  Namun perjuangan masyarakat adat punya tempat yang sempurna ditengah kampanye 
pemanasan bumi saat ini. Orang di dunia manapun mereka akui bahwa manusia 
tradisional mampu melindungi lingkungan alam mereka. Tetapi tantangan terkini 
adalah masayarakat Adat di belahan dunia diperhadapkan dua kepentingan 
Globalisasi antaranya Soft&hardward bagi Negara-negara berteknologi maju dan 
ekspansi bagi Negara-negara ekplorasi hasil-hasil bumi bertemu dalam satu 
kebutuhan bersama yaitu adanya jaminan pasar bagi pemasaran dan jual beli 
barang-barang modern.  
  Kurangnya Perhatian Negara???
  Indonesia menurut data badan kesehatan dunia tahun 2005, berada pada urutan 
ke lima perlindungan kesehatan taraf internasional. Salah satu alasannya adalah 
Indonesia menjadi pusat aktivitas saham berbagai Negara-negara maju. Deteksi 
kelayakan obat-obatan dan makanan tidak terjangkau dan banyak illegal 
obat-obatan yang membahayakan kelangsungan hidup. Pusat aktivitas gempa bumi 
cenderung membuat para korban bencana tidak diurus kesehatannya “terlantar”. 
Selain wilayah yang luas dan penanganan yang terpusat, distribusi kebutuhan 
hidup berupa makanan pabrikan cenderung tidak terkontrol mengakibatkan banyak 
bahan makanan yang telah kadaluarsa masih terus dipasarkan.  
   Wilayah Papua yang sudah puluhan tahun berada dalam Indonesia tidak ada 
perubahan nyata. Pelosok-pelosok Papua sangat terisolasi. Maka, diperkirakan 
perbelanjaan bahan pabrikan untuk dijual ataupun di konsumsi membutuhkan waktu 
yang lama untuk bisa mendapatkan yang baru atau sesuai dengan standar WHO. 
Penyebaran produk di wilayah terisolasi sering berjalan dengan rotase pasukan 
enam bulan sekali. Alasannya adalah militer masih punya andil untuk menangani 
transportasi seluruh Papua, walaupun ada juga penerbangan misi keagamaan di 
pelosok Papua. Bukan hanya di pelosok saja yang kadaluarsa tetapi daerah 
perkotaan pun sama nasibnya. Rakyat Indonesia masih suka menyimpan uang 
daripada menggantikan produk lama dengan produk baru. Nasib rakyat yang kian 
tak terurus menjerumuskan siapapun untuk terus memasarkan barang-barang diluar 
standar kesehatan guna mendapat uang semata.  
   Orang Papua bila di hitung, periode Sebelum tahun 60an, selain kehilangan 
satu suku di Arfak-Manokwari dan mewabahnya penyakit raja singa yang diderita 
suku wilayah selatan sejak kontak para pendatang mulai memasuki wilayah 
tersebut. Ratusan orang meninggal akibat wabah penyakit raja singa. Periode 
tahun 60an integrasi Papua dilakukan dengan berbagai operasi militer, operasi 
bratayudha, kasuari, serangan fajar. Ratusan orang Papua meninggal. Periode 
tahun 70an hingga DOM diberlakukan dan korbanpun tak di indahkan.  
   Periode sekarang pun orang Papua mengalami nasib yang sama dengan 
tahun-tahun sebelumnya. HIV AIDS?, Keracunan? Penembakan? Ini semua ada di 
Papua. Sudah pasti lumbung kematian itu bernama “orang Papua”
 ***
 


***Ikuti Info di Situs Resmi Papua***
=====================================================================


www.kabarpapua.com
www.papuapost.com
www.melanesianews.org/spm
www.papuanews.com
www.papuaindependent.com
       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

Kirim email ke