Jangan mengharapkan bung saut ke jalan yang benar...
dia sudah benar dijalannya...
kalau melihat " sikap" sastranya...jelas dia hendak meniadakan "arti
kata"..menaifkan kata...
itu hak dia...artinya sekalipun dia mengeluarkan kata kata apapun...itu tidak
ada apa apanya...seperti ruang hampa...
karena itu dia selalau hendak "mengeksklusifkan" kata kata sebagai bagian
pribadi dan tidak usaha di publik an...kalau kita berpedoman pd hal tsb maka
pahamlah kita akan siapa itu saut...
karenanya percuma kita berdebat dengan saut selama kita berparadigma,bahwa
kata kata punya nilai,punya maksud,punya dan lain lain...karena jelas berbeda
dengan komitmen saut atas kata kata itu sendiri...
karena itu yang paling baik adalah kita tidak pernah "menilai" akan kata kata
dari saut...maka disitulah nilai dari sastra saut...
Boleh saja,kalian katakan itu kan orang gila...boleh saja...karena memang
"kata kata" yang keluar dari saut tidak bedanya dengan kentut atau bunyi suara
dari ketiak...
"tidak punya arti apa apa..karena memang saut telah membunuh arti kata kata
tsb"...
karenanya,jangan terperangah dengan kata katanya yang bertuliskan MU atau NYA
ataupun Tuhan yang diucapkan dengan kata katanya...tidak sama dengan Tuhan
dalam konsepsi kata kata yang kita anut...atau kita pahami selama ini....
dengan pemahaman begitu maka kita akan sadar sastra yang dianut oleh saut...
itu pendapat saya.
emde
Pulo wonokromo
surabaya
Geger Indonesiary <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
apa yang dilakukan saut terhadap masyarakat Hindu bali adalah
sesuatu yang tak elok.
namun perdebatan antara saut dan KUK juga bukan berarti tidak penting.
biarlah para (ngakunya) sastrawan ini menyelesaikan masalah mereka sendiri,
karena sudah jelas, sastrawan indonesia (kecuali Alm. Pram dan Romo mangun)
belum bisa bercerita ttg kondisi sosial ekonomi dan politik bangsa indonesia
saat ini, karena masih sibuk dengan eksistensinya masing-masing. boro boro
jujur menuliskan realita masyarakat, realita mereka sendiri saja belom kelar
ampe sekarang. menghubung-hubungkan KUk dengan kaum kaum marxisme ataupun
penganut sosialisme indonesia sebanarnya tak relevan. karena tak ada hubungan
nya sama sekali, kalo pun ada ecek-ecek nya itu! menurut saya sebagai org awam
penikmat sastra kadang kala.
masyarakat hindu bali adalah masyarakat yg paling sabar di indonesia.
bom bali 1 dan 2 yg menghancurkan kota mereka, mereka terima dengan lapang
dada dan bangkit kembali tanpa ada tudingan kepada kelompok lain. sangat tenang.
melihat semua ini, sajak saut emang keterlaluan.
tapi teruslah kalian berantam..saut dan KUk. gpp, wong gak penting koq..
aan_mm <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Maaf moderator, saya ikut nimbrung.
Menurut hemat saya, jika segala seuatu yang tabu diumumkan pada
publik (diuarkan), lalu tidak akan bernada porno lagi, apakah bukan
akan membuka celah orang-orang bermental usil untuk mengungkapkan
semua alat vital/simbol-simbol kemaluan manusia secara vulgar? Ya,
seperti yang dilakukan Bung Saut Situmorang dengan sajak-sajak
"Jembut"nya itu yang saya kira sangat memalukan. Apalagi bung Saut
membawa-bawa nama "NYA", "DIA" yang interprestasinya adalah TUHAN?
Sajak-sajak Bung Saut, saya kira, bukan saja melecehkan keyakinan
suatu agama, namun semua agama dengan kalimat-kalimat sajaknya itu.
Miris sekali.
Dan, sebelumnya saya juga ada postingkan sajak saya berjudul "SAUT
YANG TAK BERJEMBUT" adalah semata sikap protes saya pada sajak-sajak
Bung Saut. Sebagai orang Timur, saya berdoa Bung Saut kembali ke
jalan yang benar...
Tabik,
Muhammad Subhan
Bukittinggi
---------------------------------
Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV. Watch previews, get listings,
and more!
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.