Senang membaca ini setelah hingar bingar gempuran beberapa kalangan terhadap Komunitas Utan Kayu, dan nostalgia membaca lagi sedikit sekait interaksi Lekra-Manikebu tempo doeloe!
Bagaimana tentang Sitor Situmorang dan lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) nya? Apakabar Ibu Rondang Erlina Marpaung di Sweden, deklamator canggih puisi di RRI Djakarta tahun 1950an? Salam, Bismo DG ----- Original Message ----- From: HKSIS To: HKSIS-Group Sent: Thursday, September 27, 2007 4:04 AM Subject: [nasional-list] Para Seniman dan Sastrawan Lekra, Kehidupan Mereka Sekarang (1) http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=305552 Kamis, 27 Sept 2007, Para Seniman dan Sastrawan Lekra, Kehidupan Mereka Sekarang (1) Di Sela Melukis, Biasakan Bersepeda 1,5 Jam Sehari Pelukis Djoko Pekik dijuluki sebagai "Pelukis Rp 1 Miliar". Meski hidup berkecukupan, seniman bertubuh kurus yang rambutnya dikuncir itu memilih tinggal di desa. Karya lukisnya yang bertema kritik sosial masih terus diburu para kolektor. MIFTAHUDIN, Jogja KALAU di kota orang-orang kaya memasang tulisan "Awas Ada Anjing Galak" di pagar rumah agar tamu yang tidak diundang keder, Djoko Pekik punya "sentuhan" yang lain. Memasuki kompleks rumahnya yang asri, di tepian jalan tamu menemukan pengumuman yang agak aneh. "Awas, Banyak Binatang Kecil! Hati-hati!". Kepada Radar Jogja (Grup Jawa Pos) yang berkunjung ke rumahnya Selasa (25/9) lalu, Djoko Pekik mengaku punya alasan untuk memasang peringatan itu. Dia takut pemakai jalan "melindas" binatang-binatang peliharaan yang dibiarkan berkeliaran di sekitar rumah. Terutama kucing-kucing kesayangannya. "Kucing-kucing ini kebanyakan dulu dibuang orang, lalu saya bawa kemari," kata pria berkacamata dengan kumis dan jenggot putih yang dibiarkan memanjang itu. Djoko Pekik, pelukis yang selama tujuh tahun -sejak 8 November 1965 sampai 1972- meringkuk di penjara sebagai tapol (tahanan politik) itu, sekarang memang sudah memetik hasil kerja keras melukisnya. Kediamannya, termasuk bangunan galeri lukisnya, terhampar di atas tanah seluas 3 hektare di pinggir Kali Bedog di Dusun Sembungan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, daerah Istimewa Jogjakarta. Mantan seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dulu dianggap dekat dengan PKI itu kini mengisi hari-harinya dengan tetap aktif melukis. Di rumah yang dipenuhi pohon-pohon itu, dia tinggal bersama istri, Ch Tini Purwaningsih, anak-anak, dan sebelas cucunya. "Saya pasti tidak akan melupakan kejadian itu," kata Djoko saat ditanya tentang pengalamannya di masa pergolakan setelah peristiwa 30 September 1965. Tanpa ada proses pengadilan, Djoko bersama seniman-seniman lain mendekam di penjara Benteng Vrederburg, Jogja. Sebagai seniman yang berorientasi kerakyatan, para aktivis Lekra saat itu memang punya aksi dan jargon-jargon politik yang antiimperialisme, antikolonialisme, antikapitalisme, dan antifeodalisme. Lewat kemampuan melukisnya, Djoko juga ikut menyuarakan kritik-kritik sosial. Seperti Pramudya Ananta Toer di dunia sastra, karya-karya lukis laki-laki kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 70 tahun lalu itu juga dikenal dengan gaya realisme sosialis. Aliran ini tumbuh berkembang di Indonesia pada dekade 50 dan 60-an. "Sebenarnya, saya merasa ndhak punya gaya atau aliran apa-apa soal lukisan saya. Itu orang lain yang menilainya," katanya. Selama dipenjara di benteng yang berlokasi di Jalan Malioboro itu, dia vakum melukis. Namun, dia bersyukur tidak mati karena kelaparan dan siksaan. "Hingga pendengaran yang sedikit terganggu karena sering dipukul dengan popor senjata," ujarnya. Penderitaan selama tujuh tahun di balik jeruji penjara ternyata tidak berhenti setelah keluar dari tahanan pada 1972. "Saya dan keluarga benar-benar merasakan hidup yang sengsara saat itu," katanya sembari mengembuskan asap rokoknya. Statusnya sebagai eks tapol membuat dia dibenci orang. Selain tidak diakui oleh para tetangga (rumah lamanya di Gampingan, Jalan RE Martadinata 37-A, Jogja), dia juga dilarang beraktivitas oleh pemerintah. "Kalau pas bulan puasa seperti ini, tiap hari selalu saja ada yang meneror dengan melemparkan mercon ke rumah saya," tutur bapak delapan anak itu. Menjual lukisan-lukisan hasil karyanya saat itu, kenang Djoko, susahnya setengah mati. Padahal, harganya sudah dibanting sangat murah. Agar anak dan istri tetap makan, dia pun nyambi menerima jahitan dan menjual kain lurik logro. Peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan itu terjadi hingga 1980-an. Setelah mengalami masa "tidur" yang lumayan panjang itu, Djoko mulai bangkit melukis lagi. Dia teguh pada jalurnya yang lama: tema-tema kritik sosial. Pada 1989, Djoko mengawali pameran perdananya. Tak tanggung-tanggung, dia diikutkan dalam pameran di Amerika Serikat. Sukses? Ternyata tidak. Djoko justru diprotes oleh para seniman lukis Indonesia yang lain. Alasannya, kenapa justru pelukis Lekra yang terpilih untuk ikut ambil bagian dalam pameran lukisan yang bergengsi itu. Pada 1990, Djoko mulai diterima oleh penggemar lukisan di tanah air. Dia ikut dalam sebuah pameran di Jakarta. Tapi, lagi-lagi ada batu sandungan. Statusnya sebagai eks tapol membuat TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi saat itu tidak berani memublikasikannya. Baru pada 1996, Djoko memulai gaya khasnya: realisme sosialis. Maka, lahirlah lukisan trilogi dengan tiga buah lukisan dengan objek celeng (babi hutan, Red). Trilogi ini merupakan lukisan yang paling berkesan baginya di antara 300 karyanya. Lukisan berjudul Raja Celeng dibuat pada 1996. Sebuah lukisan sebagai idiom seorang raja atau penguasa yang rakus. Di lukisan itu dia menggambar 100 celeng. "Celeng itu biasa makan apa saja, menabrak apa saja, tak memedulikan sekitarnya. Celeng itu simbol keangkaramurkaan penguasa." Karya berikutnya berjudul Indonesia 1998 Berburu Celeng (1998). Lukisan ini dibuat Djoko saat rezim Orde Baru digoyang. Sebuah lukisan yang menggambarkan bagaimana semua orang beramai-ramai memburu celeng. Bahkan, setelah ditangkap, celeng itu pun dikeler bersama-sama pula. Lukisan itu pertama dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (TBY). Itu pun hanya satu hari: 17 Agustus 1998. "Karena kebetulan gedung itu kosong hanya pas hari itu saja," katanya. Pembukaan pameran itu, kata Djoko, bersamaan dengan malam tirakatan kemerdekaan RI. Ternyata, di luar dugaan, respons masyarakat atas lukisan itu. Lukisan ketiga dia beri judul Matinya Celeng (1999), Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000. Inilah gambaran kisah tragis seekor celeng. Celeng yang matinya terhina. Diburu banyak orang dan bahkan digebuki sampai mati. Menurut Djoko, sampai saat ini, celeng-celeng itu masih ada. Bahkan, jumlahnya makin banyak dan merajalela. "Makin maraknya kasus korupsi adalah buktinya. Juga para pemimpin bangsa yang sudah tidak memperhatikan rakyatnya lagi," katanya bersemangat. Karya-karya Djoko yang lain juga sarat dengan kritis sosial dan menunjukkan realitas yang terjadi di sekitar kita. Misalnya, lukisannya yang berjudul Tukang Becak Main Kartu (1988) atau juga WTS Nagih Janji yang dibuat pada 1966. Sejak masih kanak-kanak, Djoko memang menyukai dunia lukis. Dia benar-benar serius belajar melukis sejak 1957. Djoko kemudian masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini namanya Fakultas Seni Rupa ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Tak puas belajar di situ, dia kemudian aktif di Sanggar Bumi Tarung, salah satu sanggar yang berkembang kala itu. Dia memang tidak seproduktif seniman lukis lain. Untuk merampungkan sebuah karya lukis, dia bisa menghabiskan waktu dua hingga bulan. Namun, lukisan-lukisannya diburu banyak orang lantaran konsisten menyuarakan kritik-kritik sosial. Tapi, justru karena ketidakproduktifannya itulah berlaku hukum ekonomi. Permintaan lebih besar daripada persediaan. Maka, lukisan-lukisan Djoko Pekik makin diburu orang dan harganya terus melambung. Dia mendapat julukan pelukis satu miliar karena lukisannya, Indonesia 1998 Berburu Celeng, terjual seharga Rp 1 miliar dalam satu pameran di Jogja pada 1999. Rumahnya yang asri tetap dibiarkan dalam suasana ndeso. Di tempat yang dilengkapi dua set gamelan itulah, para seniman Jogja biasa berkumpul. Para tamu itu bisa berlatih seni, mengadakan pementasan, atau hanya sekadar ngobrol sambil wedangan (minum kopi). "Saya ini ndhak punya studio khusus untuk melukis. Studio itu seolah-olah seperti kantor saja. Dan saya tidak terbiasa dengan suasana itu," katanya. Melukis dapat dia lakukan di mana saja dan kapan saja. Di pinggir kali, di pantai, atau di gunung. Kakek tersebut masih bisa menghabiskan tiga bungkus rokok setiap hari. Di sela kegiatan melukisnya, dia masih menyempatkan diri pit-pitan (naik sepeda kayuh, Red) setiap pagi. Selama sekitar 1,5 jam Djoko akan berkeliling di daerah sekitar kampung. Tak lupa, kamera senantiasa dibawanya. Dia memang punya kemampuan lebih soal potret-memotret. Yang paling disukainya adalah objek manusia. "Kalau ndhak naik sepeda, biasanya memakai mobil ini," katanya sambil menunjuk sebuah mobil Citroen lawas berwarna kuning bernomor polisi AB 7203 KA. Memasuki kawasan rumahnya itu, kita akan dibawa ke suasana yang benar-benar alami. Rimbunan berbagai jenis pohon membuat suasana sangat asri. Apalagi lokasinya menjorok jauh dari jalan. Yang terdengar hanya suara binatang piaraan, burung, kucing, ayam, gemercik aliran sungai, dan derit rerimbunan pohon bambu. (*) Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Blog: http://mediacare.blogspot.com http://www.mediacare.biz Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
