Soalnya orang kita masih bangga 'dijajah' bangsa asing. Buktinya mereka lebih 
ramah dengan WNA ketimbang kita saudaranya karena WNA umumnya memberikan Tips 
yg baik pada mereka.. jadi Demi uang mereka rela menjilat.
   
  salam....
  

Henny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Mbak Suryani,
   
  Mbak hal ini bisa terjadi dimana saja.....nggak di Bali, di Jakarta, di Luar 
Negri dimana saja apalagi di Singapore wah orgnya kasar-2......Namanya juga 
Bali, kadang aneh......pernah di Bali waktu check ini saya dimintai 
Passport...lha masa iya aku bawa passport...dan KTP tdk dibawa hanya bawa SIM. 
Alasannya ibu bukan org Indonesia dan harganya lain....gimana ini.....ditanah 
air sendiri nggak dianggap.....
   
  Aku geram juga ....aku bilang kamu memalukan dan karena kamu adalah org 
Indonesia dan aku tak mau karena ulahmu merusak citra bangsa yang terpuruk ini 
lebih buruk....hal ini tidak aku diamkan dan aku menuntut hak ku dan harus 
dapat.....dengan suara lantang tentunya....akhirnya SIM diterima....dan mereka 
minta maaf ...yah sdhlah namanya sdh minta maaf......aku nggak dendam koq aku 
masih nginap disitu lagi. Sang SATPAM didepan berbisik...bu baik itu digitukan 
dia itu memang begitu sekarang baru kena batunya.....
   
  Tapi soal makan direstoran atau dimana saja aku nggak ada masalah....ya benar 
sebab aku selalu memberikan tip dimana saja walaupun di Jakarta di bar, di 
restorant dimana saja dan terkadang tipnya selalu melebihi 10% bila billnya 
kecil bisa mencapai 40-60% dari billnya...kalau ada live music kalau mainnya 
bagus dan lagunya yg aku suka aku juga tak segan memberikan tip......yah 
namanya kesenangan itukan relative...tapikan ada respect.
   
  Di Bali aku sempat ditanya sama empunya restorant...are you American.....? 
What.....kagetkan.....lalu katanya soalnya hanya org Amerika yang senang 
memberi tip....kalau org kita wah....org bule dari negara lainnya wah...kadang 
uangnya nggak cukup.......
   
  Yah tip itu penting sih buat tambahan...........kalau aku membayar dengan 
credit card selalu aku selipkan uang tunai buat tip....namanya membuat org 
senang. Oleh karena itu kalau lama nggak nongol...pasti dicari aduh mbak kemana 
aja sih...lama nggak nongol......kalau pesan minuman pasti kita juga diberi 
yang terbaik oleh bar tender.....kan tip....Gitu lho......
   
  Biasakanlah memberikan tip.....
   
  Salam 
   
  HH
   
   
   
   
   
    ----- Original Message ----- 
  From: Sloka Institute 
  To: Media Bali ; [email protected] 
  Sent: Thursday, September 27, 2007 12:18 AM
  Subject: [mediacare] Pelayanan Buruk Resto di Bali
  

    Service Buruk Membuat Rasa Terpuruk

Oleh Luh De Suriyani

Buka puasa dengan ayam betutu? Sebenarnya ini bukan
pilihan saya, tapi suami yang doyan pedas. Beberapa
hari ini ia terus menunjukkan nafsunya untuk mencoba
ayam kampung berkuah super pedas ini. Karena itu saya
dengan setengah rela hati mengiyakan ajakannya untuk
buka puasa di warung makan Be Tutu Gilimanuk di Jalan
Merdeka, Renon, Denpasar Jumat pekan lalu.

Sesampai di warung makan, seorang petugas menyambut
dengan menyodorkan kertas menu. Saya persilakan
pramusaji itu meninggalkan saya sebentar karena saya
mau menyimak menu dulu. Eh, nona pramusaji ini abai
saja, dan terus nyanggongin saya. Oke deh, barangkali
dia lagi capek duduk dan ingin berdiri di samping
pembelinya. 

Setelah memesan, tiga menit kemudian satu set menu
sudah terhampar di meja. Cepat sekali, melebihi
makanan cepat saji. Karena ayamnya sudah matang dalam
panci tinggal dipindah ke piring-piring kecil saja.

Waktu buka puasa tinggal 10 menit lagi, sementara
Bani, anak saya, dan ayahnya tengah jalan-jalan
sekitar tempat makan. Tiba-tiba nona pramusaji tadi
menegur saya, “Aduh, ibu puasa ya? Pasti ibu lama ya
makannya, pindah ke meja sana saja.” Saya bengong.
Sungguh saya kaget dengan tegurannya yang datang
tiba-tiba sementara saya tengah khusyuk melihat jam
dinding.

“Pindah ke mana?” tanya saya.

“Itu di meja sana saja,” jawabnya sambil sigap
mengambil set menu untuk dipindahkan ke meja sebelah.
Setelah itu tinggallah saya yang menerka-nerka apa
yang terjadi hingga saya harus pindah. Si nona tidak
memberikan penjelasan sama sekali soal itu.

Hasil terkaan saya adalah ada sekelompok orang yang
telah reservasi tempat. Saya lihat petugas sibuk
mempersiapkan mangkuk cuci tangan di meja-meja yang
disusun memanjang.

Hampir 30 menit setelah mulai makan, satu persatu
kelompok pemesan itu berdatangan. Sejumlah pembeli
individual lainnya juga makin membuat ramai rumah
makan, sementara pegawainya terlihat siaga mengamankan
meja-meja tertentu agar tak diduduki pembeli lain.
Sulit juga karena tidak ada tanda bahwa meja itu sudah
dipesan, kalau ada kan pembeli lain tak mungkin
mendudukinya.

Belajar dari pengalaman di rumah makan Ayam Betutu
Gilmanuk di Jl Merdeka Renon itu, saya jadi ingat
kembali. Secara umum, saya lihat sejumlah ganjalan
promosi wisata kuliner Bali adalah soal servis,
perlakuan diskriminasi, cita rasa yang berbeda dengan
aslinya, dan pilihan makanan lokal yang terbatas (jika
ingin makan di warung besar atau restoran).

Ada pengalaman teman-teman saya ketika makan di
Restoran Ulam Nusa Dua. Ini sih memang pengalaman
sudah lama banget. Kalau tidak salah pada tahun 2003
lalu.

Teman-teman wartawan berbagai media nasional, yang
sebagian besar berpakaian santai dengan celana jins
dan kaos oblong itu, mengalami diskrimasi saat makan
di sana. Ketika mereka datang, pelayannya bermuka
manyun. Pelayanannya juga biasa saja. Senyum saja
tidak.

Eh, pas datang tamu asing, semua pelayan girang bukan
kepalang. Turis-turis itu langsung disambut dengan
senyum, dipijitin, diajak ngobrol. Waaah, semua teman
itu langsung pada ngedumel, "Masa pada bule
berbaik-baik hati pada kami senyum pun tidak!"

Pengalaman seperti itu mungkin pernah Anda alami juga.
Tapi hal itu jangan membatasi Anda untuk mencoba
makanan lokal Bali. Saya sarankan untuk datang ke
pasar tradisional (misalnya untuk Denpasar: Pasar
Badung, Pasar Satria, Pasar Kreneng) jika ingin
mencicipi aneka masakan lokal Bali dengan cita rasa
yang lebih tradisional.

Di pasar, makanan lebih beragam, harganya sungguh pas
dengan pelayanan standar ala pasar. Selain itu Anda
bisa langsung bertanya soal resep dan cara memasak
makanan itu dari penjualnya. Jika tak berkenan makan
berunsur daging babi, tak sulit karena makanan lokal
Bali di pasar tradisional juga banyak yang hanya
berlauk ayam. Anda tinggal bertanya pada penjualnya,
mudah sekali. [b]

Sumber http://www.balebengong.net

Sloka Institute
Jl Drupadi II No 3 Denpasar 80235
Telp +62 361 7989495

Sloka Institute adalah lembaga pengembangan media, jurnalisme, dan informasi 
berbasis di Denpasar. Lembaga ini didirikan untuk mendukung perjuangan hak 
publik atas informasi. Karena informasi adalah hak tiap orang, termasuk untuk 
menyebarluaskannya pada publik.

__________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play 
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/ 


  

                         

       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke