http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/27/opini/3869855.htm
Antara Kelemahan dan Kelebihan Sabam Siagian Tampaknya harian Kompas akhir-akhir ini bergumul dengan persoalan bagaimana menilai kepemimpinan Presiden Soekarno (1945-1968) dan Presiden Soeharto (1968-1998) secara pas dan seimbang. Melalui dua tajuk rencana, "Harga Diri Bangsa" (Kompas, 22/9) dan "Dua Sisi Mata Uang" (Kompas, 24/9) agaknya sungguh dirisaukan bahwa kalangan luar negeri (antara lain Bank Dunia dan PBB) mengklasifikasikan Presiden Soeharto sebagai koruptor besar. "Mari kita selesaikan masalah Soeharto dan pemimpin lainnya oleh kita sendiri. Sejelek-jeleknya pemimpin kita, ia bagian dari sejarah bangsa ini", kata Tajuk Rencana Kompas, Sabtu (22/9). Sungguh suatu ajakan yang patut dipuji. Namun, itu mencerminkan posisi moral yang belum komplet cakupannya. Tajuk kedua bersifat lebih kontemplatif. Ia berpendapat secara hati-hati, Soeharto yang begitu lama berkuasa "di samping kelemahan, ia juga mempunyai kelebihan". Penulis tajuk kedua itu sungguh khawatir apa yang akan terjadi dengan "martabat dan posisi bangsa kita kini" kalau "kita telan mentah-mentah begitu saja" semua kritik, celaan, dan klasifikasi negatif terhadap Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Ia bahkan sungguh prihatin bahwa bangsa Indonesia menjadi bangsa dan negara yang semakin minder, semakin cenderung saling tidak percaya dan menyalahkan di antara sesama warga. Kebetulan tata letak halaman Opini Kompas (Senin, 24/9) menempatkan secara berdampingan tajuk "Dua Sisi Mata Uang" dan artikel Rocky Gerung, "MA Vs Keadilan Global". Pengajar filsafat FIB UI ini bicara, sekarang, pada abad ke-21, berkembang hal penting, yakni konsep global justice, keadilan global yang melampaui semua klaim nasionalisme (umpamanya, "Sejelek-jeleknya pemimpin kita... Tajuk "Harga Diri Bangsa" (Kompas, 22/9). Sisa neofeodalisme Paling sedikit ada tiga catatan yang patut dikemukakan terkait dua tajuk rencana itu. Pertama, mungkin tanpa disadari, sisa-sisa neofeodalisme masih memengaruhi penulisan tajuk-tajuk itu. Dalil budaya politik yang melandasinya adalah bahwa pemimpin negara dan bangsa tidak patut dikritik dan dicerca, apalagi oleh pihak luar. Lebih parah lagi kalau itu datang dari negara-negara Barat. Sikap inilah yang menurut observasi Rocky Gerung dalam artikel itu seperti "dianggap konspirasi neoliberal dari lembaga-lembaga keuangan dunia". Padahal, Republik Indonesia ini diproklamasikan dan dipertahankan atas dasar semangat republiken, kebersamaan, atau istilah pada tahun-tahun awal RI, semangat kiblik. Kita nilai pemimpin itu secara kritis dan fair. Tahun-tahun kepemimpinan Bung Karno yang mampu menyentak rasa nasionalisme rakyat Indonesia, juga di daerah pendudukan militer Belanda (1946-1962, Irian Barat) dan mengatasi berbagai krisis, maka kita puji dan kagumi dia. Namun, apakah kita harus tutup-tutupi nodanya sebagai pemimpin negara dan bangsa yang karena ketularan megalomania tingkat gawat, secara naif merangkul Partai Komunis Indonesia, melakukan intrik terhadap Angkatan Darat sebagai Panglima Tertinggi sehingga terjadi Tragedi 1 Oktober 1965. Kita tidak ungkapkan keterlibatannya meskipun interogasi Tim Pemeriksa Pusat memiliki data cukup lengkap. Akhirnya, seorang pakar asing, Victor M Fic, dalam buku Anatomy of The Jakarta Coup: October 1, 1965 (Jakarta, 2006) yang secara sistematis membeberkan kesepakatan antara Presiden Soekarno dan DN Aidit, pemimpin PKI, untuk melakukan kup bersama. Namun, masing-masing ingin saling memanfaatkan. Kepemimpinan Presiden Soekarno pada tahap akhir telah mewariskan ekonomi yang berantakan dengan tingkat inflasi hampir 600 persen. Dan sejumlah teman seperjuangannya pada awal revolusi dijebloskan ke tahanan, antara lain mantan PM Sutan Syahrir. Tidak dapat disangkal, kepemimpinan Presiden Soeharto serba mantap pada awal tahun-tahun yang disebut sebagai Orde Baru (1968 dan seterusnya). Inflasi dapat ditekan, infrastruktur dipulihkan dan dibangun, telekomunikasi dikembangkan, pertanian diremajakan, dan seterusnya. Rezeki minyak sampai dua kali (1974 dan 1979) telah mendongkrak ekonomi nasional. Namun, kue ekonomi yang lebih besar menjadi godaan bagi Soeharto sekeluarga. Ternyata Soeharto gagal melakukan koreksi dan pembaruan politik sehingga terjadilah apa yang disebut oleh Prof Samuel Huntington dari Universitas Harvard sebagai political decay, perapuhan politik. Dalam kondisi perapuhan politik itulah, sistem suksesi yang efektif menjadi mandek, dan praktik KKN di keluarga Soeharto semarak. Kita tidak mampu melakukan penyidikan hukum secara tuntas, bahkan seperti berkembang suatu sikap agar kasus dugaan korupsi Soeharto dilupakan saja. Harus merasa minder? Sebagai catatan kedua, kalau sekarang, dalam rangka penerapan rasa keadilan global, Soeharto digolongkan di antara sejumlah penguasa di dunia yang telah terlibat dalam praktik korupsi skala besar, apakah kita sebagai bangsa harus merasa martabat kita dihujat? Kita tundukkan kepala karena belum mampu memantapkan sistem pengawasan dan checking negara yang secara efektif dapat mengekang keserakahan presidennya. Tetapi, sebagai bangsa tidak ada alasan mengapa kita harus minder? Begitu banyak prestasi telah dicapai masyarakat selama masa pemerintahan dua presiden itu di berbagai bidang yang mampu menopang harga diri sebagai bangsa. Elemen tragedi Sebagai catatan ketiga, dua tajuk itu tidak mencerminkan elemen tragedi pada kepemimpinan dua presiden Soekarno dan Soeharto. Mereka pada awalnya cemerlang sebagai pemimpin, tetapi kemudian terjerumus dalam jurang dekadensi. Sebuah bangsa yang berani secara terbuka mencatat elemen tragedi dalam sejarah modern yang dijalaninya menunjukkan suatu tingkat kematangan. Demikianlah, Indonesia cukup menderita karena dipimpin dua "Soe", Soekarno dan Soeharto. Agaknya "Soe" ketiga sebagai Presiden RI dapat terhindar dari jurang dekadensi karena Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia di mana sistem demokrasi dengan lembaga-lembaga pengawasannya dan media pers yang bebas sudah lebih efektif dibanding zaman Soekarno dan Soeharto. Sabam Siagian, Redaktur Senior The Jakarta Post
