Senioritas itu hanya ada di militer. Di film, tidak ada istilah senior atau junior. Yang ada hanya seniman tua atau seniman muda. Itu saja...
Sosoknya sudah tidak asing lagi di kancah perfilman. Begitu juga dengan kontribusi pemikiran dan karya-karyanya terhadap perkembangan lahirnya sineas-sineas muda di Indonesia, harus diacungi jempol. Tapi..., kenapa seorang Bapak yang suka berpenampilan apa adanya, dan kadang terbiasa berbicara blak-blakan di depan media itu ahir-ahir ini terlihat gelisah? Ada apa dengan Alex Komang? Simak penuturannya kepada Reporter Indosinema di sela-sela take shot program "Dunia Sinema Kirana" Astro TV, di Gedung Citra Graha, Jakarta. Kayaknya sudah satu tahun jadi Pengurus Parfi. Bagaimana menurut kaca mata Mas mengenai Parfi? Parfi baik-baik saja. Mungkin hanya perlu lebih fokus. Seperti apapun pengembangan sebuah organisasi, pasti ada yang mulus atau tidak. Ada pasang surutnya. Dan saya rasa, hal itu sudah biasa. Maksudnya lebih fokus? Membesarkan organisasi bukan mutlak hanya pada bentuk organisasi itu sendiri. Tapi cenderung berguna untuk semua anggotanya. Dan yang lebih penting, bermanfaat kepada masyarakat. Ketika kampanye tahun lalu, Jenni Rachman mengumbar janji kalau terpilih menjadi ketua, dia akan menjadikan Parfi tidak lagi sebagai organisasi yang sudah ditinggalkan oleh para sineas-sineas muda. Jadi begini. Soal statement Mbak Jenny, langsung tanya saja ke dia. (tertawa) Mas sebagai timnya di Parfi? Bagi saya, kenapa harus ada dikotomi tua dan muda. Di film, tidak ada istilah senior atau junior. Yang ada hanya seniman tua atau seniman muda. Senioritas itu hanya ada di militer saja. Parfi lebih banyak bergerak di bidang amal. Apakah ini sebagai bukti tidak fokusnya Parfi terhadap dunia perfilman? Saya rasa, siapapun bisa melakukan hal ini. Tidak harus Parfi ataupun organisasi yang lain. (diam. mengingat-ingat sesuatu) Selain bergerak di bidang amal, kebetulan saya dan teman-teman juga pernah langsung ikut terlibat dan melakukan pelantikan anggota baru ke daerah-daerah. Di samping mengadakan pelatihan akting, organisasi, dan beberapa perlombaan. Bagaimana rasanya ketika dulu menjadi anggota Parfi, tapi sekarang menjadi Pengurus Parfi? Jangan ikut di Parfi jika tidak ada gunanya. (berbicara yakin. tegas) Tapi ikutlah di organisasi ini karena ada manfaatnya. Dulu ikut Parfi bukan kemauan saya. Karena dulu ada semacam regulasi bahwa semua pemain film harus bergabung di parfi. Mungkin kepentingannya tidak ada. (diam) Pemaksaan.... Sekarang jadi Pengurus bukan pemaksaan? Jujur secara positioning, saya mau. Dan kebetulan saya punya waktu untuk itu. (diam. seperti ragu mau berbicara) Mungkin jika suatu saat saya repot, secara legowo saya harus menyerahkan jabatan ini ke orang lain. (tersenyum ringan) Secara subyektif. Kekurangan Parfi sebagai organisasi? Pasti ada kekurangan. Kekurangan keluarga, lebih baik diomongin sendiri di dapur. (tertawa. diselingi bercanda) ngomong-ngomong dapur, kamu puasa nggak? Dengar-dengar dari sumber terpercaya, katanya Mas Alex mau mengundurkan diri? Dalam sebuah perjalanan, yang dikawatirkan orang adalah waktu untuk berbakti. Untuk mengabdi. Orang itu kadang nafsunya besar, tapi tenaganya kurang. Karena keterbatasan ini, saya berfikir untuk menyerahkan jabatan ini kepada teman-teman yang lebih punya banyak waktu untuk ke situ (baca : Parfi). Kira-kira tanggal mengundurkan diri kapan? Saya sudah mengajukan, (diam. tersenyum. seperti sengaja membuat penasaran) tapi belum dijawab sampai sekarang. (tersenyum lagi) Oke deh. Semoga urusannya cepat selesai ya, Mas. Terima kasih sudah meluangkan waktunya. Oke sama-sama. Terima kasih juga. Sumber : (http://www.indosinema.com/interview/common/102)
