Yang Menang Sebelum Bertempur
Cerpen oleh: A.Kohar Ibrahim
http://16j42.multiply.com/journal
Yang Menang Sebelum Bertempur
Cerpen
Oleh: A. Kohar Ibrahim
SUDAH menjadi kebiasaannya menerima tamu seperti menerima anggota keluarga
sendiri. Dengan keramah-tamahan yang sewajarnya. Tapi untuk wawancara itu dia
mengenakan seragam hijau. Padahal dia sudah tidak berdinas lagi.
"Silakan duduk, dik. Sebelah sini atau sana," ujarnya ramah. Terdengar
desingan pluit. "Maaf, sebentar. Airnya sudah mendidih. Isteri saya masih di
kamar mandi. Babu lagi belanja." Dan dia senyum ringan, beranjak melangkah ke
ruang lain. Ke dapur. Jalannya pincang.
Kamar kerjanya tidak begitu mewah, tapi teratur rapih. Dinding temboknya
berhiaskan beberapa gambar. Di atas sebuah dipan yang kududuki terpampang
pemandangan alam karya pelukis Dulloh. Di belakang mejatulis tergantung poster
dari kain batik Garuda Bhinneka Tunggal Ika, diapit potret besar Presiden RI
pertama dan kedua. Dan di sebelah Presiden kedua itu potret dia sendiri:
berpakaian seragam dengan bersenjata lengkap di samping kendaraan berlapis
waja. Di bawahnya tertulis "1 Oktober 1965. Lapangan Merdeka. Djakarta".
Nama aslinya Goenawan. Tapi lelaki berperawakan sedang, berkulit sawo-matang,
berwajah mirip pelawak Bagio itu senang sekali dipanggil Pak Ceplas. Sekalipun
belum punya anak. Sekalipun sudah beristeri selama dua dasa warsa. Berusia 45
tahun.
"Jadi adik bermaksud menulis karangan memperingati Peristiwa 1 Oktober?
Dengan kisah-kisah beberapa pelakunya?" tanyanya setelah kembali dari dapur,
duduk di kursi empuk dekat meja-tulisnya. Dan seperti biasanya, kepada siapapun
dia menegaskan alasannya kenapa dia suka dipanggil Bapak. "Bukan gila
penghargaan. Dipanggil Bapak Ceplas, atau Pak Ceplas-Ceplos itu artinya tukang
ngomong apa adanya. Tanpa diplomasi-diplomasian. Kapan dan di mana saja." Dan
sambil melirik buku catatan sang wartawan dia meneruskan: "Ini ciri penting,
dik. Ini fakta. Tulis tuh..."
Ditanya, dia lancar memberi contoh atau yang baginya merupakan fakta. Seperti
penentangannya atas aksi pemboikotan film-film Amerika di zaman Orde Lama,
kerna dia penggemar film Cowboy. Tertuama yang dibintangi John Wayne. Dia
menentang aksi-aksi sepihak kaum tani, kerna sendainya tuntutan BTI atas
pelaksanaan Undang-undang Landreform secara konsekwen dijalankan, mertuanya
akan kehilangan berbidang-bidang sawah-ladang. Dia tak suka PKI, kerna bapaknya
tewas ketika bertugas menumpas pasukan komunis dalam Peristiwa Madiun 1948.
Maka dari itulah tumbuh ketidakpuasannya terhadap kebijkasanaan Presiden
sukarno.
Selagi aktip sebagai prajurit dia juga tidak merasa puas. "Sebagai lelaki,
kita mesti membuktikan kejantanan kita," ujarnya, seperti ditujukan pada
dirinya sendiri. Kepuasannya agak terpenuhi oleh kegiatannya sebagai usahawan.
Dia punya perusahaan impor-ekspor perabot rumahtangga, terutama impor
barang-barang plastik dari negeri Sakura. "Untung atau rugi, betul-betul saya
rasakan. Berusaha dan bersaing, itu seperti bertempur," katanya meyakinkan.
"Sebagai tentara tidak puas?" wartawan itu penasaran. Seketika pandangnya
asyik ke potret besar yang tergantung di tembok. Pak Ceplas segera mengerti.
"Ah, itu!" ujarnya sembari senyum ringan. "Foto bersejarah. Hasil jepretan
wartawan Amerika. Mister Ronny. Kartunamanya juga masih saya simpan baik-baik."
Sang wartawan kian tertarik. Dari bagian dokumentasi telah diketahuinya
potret itu. Suatu snapshot yang begitu berhasil. Demikian kesannya. Dengan
komentar: "tentara memporak-porandakan pemberontak", "penggempur benteng
komunis" dan sebaginya lagi. Tiap koran dalam dan luar negeri menyiarkan potret
itu dengan macam-macam komentar yang pada pokoknya membeberkan keheroikan.
Tetapi ketika ditanya bagaimana perasaan dan pikirannya, di saat-saat yang
genting itu, Pak Ceplas malah ketawa.
"Wah, foto itu memang punya riwayatnya sendiri."
"Kami mau tahu lebih jauh," ujar wartawan. "Faktanya, Pak?"
"Faktanya?"
"Ya, faktanya."
"Faktanya saya disuruh berpose," katanya ringan dan polos. Dan dia ketawa
lagi. "Wah, sungguh tak terlupakan saat itu. Saya disuruh berpose sedemikian
rupa - seperti serdadu in action. Wah, dia memang lihai. Si Idungmancung itu!"
Lalu dia mengangkat alis dan bahunya. Senyum tersipu. Diakuinya, potret itu
amat membantunya dalam usaha. Yang menyebabkan dia dikenal sebagai prajurit
berjasa, di bawah pimpinan Kolonel Dedi. Kolonel yang kemudian cepat mencuat
pangkatnya dari perwira menengah menjadi Brigadir Jenderal. Orang yang
berprawakan tegap berkumis lebat itu adalah pemuja Jenderal Romel dan Franco.
Tapi, seperti halnya ketika bertugas di Kalimantan dalam rangka melawan proyek
Malaysia, di Jakarta pada awal Oktober itupun mereka hanya bersiap-siap belaka.
Itulah yang membikinnya kecewa. "Di tempat-tempat strategis memang ada
barikade-barikade," katanya menjelaskan. "Kendaraan berlapis waja, truk-truk
penuh prajuirt siap tempur berseliweran di jalan-jalan raya. Kami
berusaha menciptakan suasana perang. Tapi tak bertempur."
"Tidak bertempur?" wartawan itu sungguh penasaran. Seketika teringat, di
akhir tahun 1965 itu dia masih duduk di bangku kuliah di Bandung. Baru tahun
berikutnya dia bermukim di Jakarta. Giat dalam aksi-aksi pemuda pelajar
mengutuk Orde Lama. Dia bukan cuma turut berteriak-teriak di jalan-jalan raya,
tapi juga menuliskannya di koran-koran. Terutama sekali di koran yang
membawakan suara pemuda. Itulah sebabnya dia kemudian menjadi wartawan Harian
Kita. Ketika dia mengulang tanya, betulkah pada hari yang bersejarah itu
mereka tidak melakukan pertempuran, Pak Ceplas malah balik bertanya:
"Bertempur dengan siapa sih? Hari itu yang ada cuma pengumuman tentang Dewan
Revolusi lewat RRI. Presiden Sukarno dan Ketua PKI Aidit beserta bapak-bapak
pemimpin negara lainnya berada di Halim. Bersama Letkol Untung. Menlu Subandrio
dan Wakil Ketua PKI Nyoto beserta beberapa Menteri lainnya berada di Medan.
Menteri Chairul Saleh beserta pembesar lainnya sedang mengunjungi RRT. Ibarat
rumah kosong tanpa orangtua, kita main perang-perangan di sekitar Istana
Negara."
Dia menebarkan pandang ke potretnya, lalu ke potret Presiden RI yang pertama
dan yang kedua. Dan dia ingat, banyaknya pasukan tentara yang datang dari
daerah-daerah itu bukan untuk bertempur, melainkan untuk merayakan Hari
Angkatan Perang tanggal 5 Oktober. Setelah tercenung sejenak, ditatapnya wajah
sang wartawan muda di dekatnya itu. Seperti ada berkas-berkas awan mendung
meliputi wajahnya, nada ucapannya agak berubah: "Ah, main perang-perangan,
hasilnya bukan main-main..."
"Banyak korban jatuh, ya Pak?"
"Iya. Banyak korban jatuh. Setelah 1 Oktober itu. Setelah tersiar khabar enam
Jenderal gugur. Bukan di medan tempur, tapi di temukan di sumur. Di Lubang
Buaya," ujarnya datar. "Fakta-faktanya, dik," terusnya, "baik yang kalah maupun
yang menang itu tanpa melalui pertempuran. Saya cedera lantaran jatuh
terpeleset sendiri. Dari atas truk!"
Hening mencengkam seketika. Seperti disumbat perban berlapis-lapis, wartawan
itu kehilangan suaranya. Tak mengajukan pertanyaan lagi. Karena tujuan utamanya
untuk menulis kisah pahlawan tempur di awal Oktober yang bersejarah itu. Selain
akan mempopulerkan lebih lanjut sang pahlawan, efeknya tentu bagi kepopuleran
dirinya pula. Apa boleh buat. Betapapun juga rencana tulisannya tak boleh
buyar. Diperhatikannya lagi potret bersejarah yang terpampang di tembok. Pak
Ceplas segera paham. Bangkit dari duduknya. Membuka laci meja-tulis. Berkata
dengan penuh kesungguhan:
"Foto yang itu tak boleh diganggu. Saya masih punya yang kecilan. Ini ambil."
"Wah, bagus sekali, Pak," ujar wartawan agak terhibur. Rautmukanya
berseri-seri. Paling tidak, potret itu akan memperkuat tulisannya. Tetapi
kegembiraannya dihambarkan oleh pesan Pak Ceplas, ketika menyudahi wawancara
itu.
"Kalau dimuat, komentarnya jangan sensasionil, ya?"
"Oke," jawab wartawan pendek. Bangkit dan menyiapkan tustelnya. "Foto
terbaru, Pak?"
"Silakan," sambut Pak Ceplas girang. "Sebelah sini atau sana?"
"Ya, tetap di bawah lambang itu."
Dan diapun berpose di bawah poster Garuda Bhinneka Tunggal Ika.
DUA hari kemudian, hasil-hasil wawancara disiarkan di bawah judul "1 Oktober
1965: Tentara menghancurleburkan G.30.S/PKI". Siang hari itu juga sang wartawan
menerima telpon dari Pak Ceplas yang menyatakan kekecewaannya. Karena baik
artikel maupun komentar atas potretnya tidak seperti yang dia harapkan. Lalu
dia minta bicara langsung dengan pemimpin redaksi Harian Kita itu,
menyemprotnya dengan kata-kata:
"Wartawan yang baik mesti memperhatikan fakta-fakta. Yang hitam bilang hitam
yang putih putih. Faktanya gamblang: kita menang sebelum bertempur!"
Seketika suaranya terputus. (1980) ***
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail