Minggu lalu tanggal 14 September 2007 Yockie Soerjoprajogo berulangtahun.......
Maaf terlambat mengucapkan HUT nya he he he
Mari kita telusuri perjalanan musiknya.....
Jockie Soerjoprajogo, Sang Arsitek Musik
( Denny Sakrie )
Secara musikal sosok Jockie Soerjoprajogo menyelusup ke berbagai ranah
musik di negeri ini. Tak hanya konotatif dengan musik rock yang gegap gempita,
tapi sosok Jockie pun berbaur di balik musik pop, etnik-folk, dangdut, hingga
pertunjukan ber-setting opera.
''Saya memang selalu dalam kegelisahan. Tetap mencari sesuatu dalam musik.
Berbaur dengan banyak orang mulai dari insan musik, film, hingga theater,''
ungkap Jockie yang baru-baru ini menggelar konsernya di Hard Rock Cafe, Jakarta.
Lelaki kelahiran 14 September 1954 ini tercatat pernah tergabung dalam
berbagai grup rock seperti Bigman Robinson, Double O,Giant Step, Contrapunk,
dan Jaguar, meski pada akhirnya Jockie memang lebih dikenal khalayak ketika
ikut bergabung dalam kelompok musik rock tertua negeri ini God Bless. Corak
permainan keyboardnya dianggap memberika kontribusi dalam karakter musik God
Bless.
Dengan menyisipkan aksentuasi berbau klasik, terutama membaurkan
bunyi-bunyian piano dan Hammond B-3, orang sudah bisa menebak karakter God
Bless, walaupun pada saat itu seperti lazimnya semua grup rock yang berkecambah
di Indonesia lebih banyak memainkan repertoar grup-grup mancanegara seperti
Deep Purple, Yes, Edgar Winter, Spooky Tooth, Kansas dan banyak lagi.
Tatkala God Bless merilis album perdana bertajuk God Bless (Pramaqua,1976),
gaya permainan keyboard Jon Lord (Deep Purple), Rick Wakeman (Yes), maupun Tony
Banks (Genesis) menyelinap dalam pola permaian Jockie Soerjoprajogo. Album God
Bless ini patut dicatat sebagai album rock Indonesia yang tampil utuh. Karena
sebelumnya, tercatat banyak grup rock Indonesia yang telah masuk dunia rekaman,
tapi harus kompromi dengan selera pasar dengan memainkan musik pop, misalnya
Freedom of Rhapsodia, The Rollies, Aka, Rasela, dan masih banyak lagi.
Tetapi yang agak disayangkan album God Bless ini banyak menampilkan
karya-karya tambal sulam. Dalam melodi lagu maupun aransemennya terdengar
banyak kemiripan dengan lagu-lagu milik Genesis, Jethro Tull, Kin Ping Meh,
Gentle Giant, Doobie Brothers, atau King Crimsons. Kemungkinan ini terjadi
karena selama malang melintang di panggung pertunjukan God Bless lebih banyak
memainkan repertoar rock mancanegara.
Sisi positifnya, Jockie meraup pengaruh musik rock mancanegara menjadi
jatidiri permainan musiknya. Penggalan penggalan pengaruh itu lalu berbaur
menjadi warna khas karakter permainan musik Jockie. ''Karena memainkan rock,
sudah pasti kita akan terpengaruh dengan pemusik rock luar. Itu pasti, tak
mungkin kita hindari,'' tutur Jockie Soerjoprajogo.
Gandeng Eros Djarot
Di tahun 1977, sosok Jockie Soerjoprajogo berada di jalur musik pop. Saat
itu Jockie menjadi arranger album Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio
Prambors Rasisonia. Gebrakan Jockie yang menata aransemen lagu seperti Lilin
Lilin Kecil (James F Sundah) dianggap sebagai suntikan darah baru dalam
industri musik pop yang saat tengah dilanda booming lagu-lagu pop dengan akord
sederhana dan tema lirik yang cenderung cengeng dan mendayu-dayu. Di tahun yang
sama Eros Djarot menggamit Jockie untuk menggarap album soundtrack film Badai
Pasti Berlalu bersama dengan sederet nama lainnya seperti Chrisye, Berlian
Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution, dan Fariz RM.
Album ini pun menjadi fenomenal terutama dari sisi tata musik yang menyajikan
akor yang lebih luas serta penulisan lirik yang lebih puitis. Menariknya lagi
di album ini fungsi instrumen keyboard menjadi dominan. Bunyi-bunyian keyboard
ini memang terasa orkestral dan simfonik, sesuatu yang sering kita dengarkan
pada repertoar grup seperti Genesis dan Yes. Gaya aransemen musik seperti ini
lalu berlanjut ketika Jockie Soerjoprajogo menggarap album-album solo Chrisye
seperti Sabda Alam, Percik Pesona, Puspa Indah Taman Hati, Pantulan Cita,
Resesi, Metropolitan, dan Nona yang sering disebut orang sebagai pop kreatif.
Terminologi ini jelas keliru, tapi bisa dianggap sebagai pembeda dengan jenis
musik pop yang dihasilkan Rinto Harahap, Pance Pondaag, atau yang sejenis.
Tahun 1984 merupakan saat terakhir kolaborasi Jockie dan Chrisye. Tetapi
Jockie yang juga cukup produktif merilis sederet album solo, masih tetap
bermain di wilayah pop dengan menggarap album-album dari berbagai penyanyi,
mulai dari Dian Pramana Poetra, Keenan Nasution, Vonny Sumlang, Titi DJ, Andi
Meriam Mattalatta, dan masih banyak lainnya.
Tiga tahun kemudian, Jockie bergabung lagi dengan God Bless. Muncullah album
Semut Hitam (Logiss Record,1987) dengan konsep musik rock yang lebih segar. Di
era ini juga memperlihatkan ketertarikan Jockie kembali menjamah musik rock. Ia
mulai ikut menggarap berbagai album rock sebagai komposer, player, dan music
director pada album album milik Mel Shandy, Ita Purnamasari, Ikang Fawzy,
hingga Nicky Astria.
Gabung dengan Djodi
Tampaknya Jockie cukup betah bergabung bersama God Bless antara lain ikut
mendukung album raksasa, Story of God Bless dan Apa Kabar ?. Di saat bersamaan,
Jockie membagi dirinya dalam proyek Kantata Takwa yang digagas maesenas,
Setiawan Djody. Di komunitas Kantata Takwa ini, Jockie bertemu dengan dimensi
musik yang berbeda. Di sini dia berbaur dengan sosok-sosok seniman mulai dari
WS Rendra hingga Sawung Jabo. Ada dialektika baru dalam karya-karya Jockie
seperti terlihat pada lagu Orang Orang Kalah, Kantata Takwa, Kesaksian, Paman
Doblang, Air Mata, Rajawali, Nocturno, dan Balada Pengangguran. ''Lagu-lagu itu
merupakan hasil kolaborasi dengan Setiawan Djody, Iwan Fals, dan Sawung Djabo,
serta syair-syair yang ditulis WS Rendra,'' ungkap Jockie lagi.
Bersentuhan dengan Setiawan Djody, Iwan Fals, dan WS Rendra menghasilkan
pengendapan-pengendapan baru dalam intuisi bermusik Jockie. Di luar Kantata
Jockie pun ikut mendukung kelompok Swami bahkan membentuk kelompok Suket di
tahun 1992 bersama sederet pemusik asal Surabaya Didit Saksana, Rere, dan
Naniel. Suket memang memiliki persamaan dengan Kantata Takwa maupun Swawi
terutama ketika mengangkat tema-tema yang bersinggungan dengan problematika
sosial. Bahkan di tahun 2003 Jockie bereksperimen menggabungkan musik dan
teater dalam format rock opera yang didukung Iwan Fals, Renny Jayusman hingga
Teater Koma.
Bagaikan seorang arsitek Jockie banyak membangun konstruksi-konstruksi musik
dari berbagai ragam musik. ''Saya terus mencari dan mencari,'' tegas Jockie
Soerjoprajogo yang berada di balik sederet fenomena musik di negeri ini.
© 2005 Hak Cipta oleh Republika Online.