Yahhh, namanya juga masih perlu diimajinasikan.
Indonesia juga sedang dalam imajinasi kebangsaan
banyak orang. Mau sempit mau luas, enggak ada yang
berhak membatasinya. Maklum, masih diimajinasikan.

horas
bvd

--- teguh timur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Benedict Anderson, Indonesian Nationalism Today and
> in the Future (1999)
> 
> “No one can be a true nationalist who is in capable
> of feeling ‘ashamed’ if her state or government
> commits crimes, including those against her fellow
> citizen. Although she has done nothing individually
> that is bad, as a member of comment project, she
> will feel morally implicated in everything done in
> the project’s name.”
> 
> --Teguh
> 
> 
> mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            
> Andreas Harsono <  [EMAIL PROTECTED]>  wrote:     
>            Dengan hormat,
> 
> Saya penasaran membaca begitu banyak kritik terhadap
>    editorial Kompas "Menjaga Harga 
> Diri Bangsa." Ini saya baca di beberapa    mailing
> list, bukan hanya pantau-komunitas atau 
> ajisaja, tapi juga list    lain.
> 
> Saya pun kirim SMS kepada beberapa kenalan di harian
> Kompas,    termasuk pemimpin 
> redaksi Suryopratomo. Saya tanya siapa sih penulis  
>  editorial ini? Suryopratomo tak 
> menjawab. Kenapa editorial dengan visi   
> "nasionalisme sempit" bisa lolos dari redaksi 
> harian ini?
> 
> Hasilnya,    saya mendapatkan jawaban bahwa
> penulisnya adalah Suryopratomo sendiri.    
> "Kompas 1," ujar seorang reporter. 
> 
> Sebelum naik cetak, editorial    ini sempat
> dipermasalahkan oleh Budiman (BDM). Namun ia 
> lolos saja. Bre    Redana (BRE) juga belakangan
> mengeluh. Suryopratomo yang menulis, 
> namun    getahnya terkena semua orang Kompas. 
> 
> Soal definisi, saya kira istilah    "nasionalisme
> sempit" sudah benar, tapi ada satu lagi yang 
> lebih tepat.    Namanya, "fasisme." Editorial itu
> mencerminkan fasisme Orde Baru dimana    
> "bangsa" dianggap sesuatu yang homogen. Serangan
> dari "pihak asing"    terhadap seorang 
> Soeharto dianggap serangan terhadap    bangsa.
> 
> Ideologi ini dulu sering dibahas oleh Y.B.
> Mangunwijaya dan    belakangan oleh Daniel 
> Dhakidae. Sutan Sjahrir dulunya menulis pertama   
> kali tentang trend ini pada 1945. 
> Mangunwijaya dan Dhakidae notabene    adalah orang
> yang sering menulis di Kompas. 
> Mangunwijaya seorang pengagum    Sjahrir. Ironisnya,
> bagaimana kolom-kolom Dhakidae 
> dan Mangunwijaya    ternyata tak membuat sistem
> redaksi Kompas bisa mencegah editorial    
> fasistis muncul disana?
> 
> --
> Andreas Harsono
> Pantau    Jakarta
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  mediacare
> http://www.mediacare.biz
> 
>   
> 
> 
> Teguh Santosa
> 
> http://teguhtimur.wordpress.com
> www.teguhsantosa.com
>        
> ---------------------------------
> Tonight's top picks. What will you watch tonight?
> Preview the hottest shows on Yahoo! TV.    



       
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play 
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/  

Kirim email ke