(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm)
Sekitar G30S, Suharto, PKI dan TNI-AD
Berikut di bawah ini adalah lanjutan dari serangkaian tulisan Sdr Harsutejo
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan peristiwa G30S. Dalam tulisan
ini secara berturut-turut ia mengungkap kembali soal-soal yang berkaitan
dengan G30S, istilah Gestapu dan Gestok, Lubang Buaya, Gerwani, Letkol
Untung, Kolonel Abdul Latief, Brigjen Suparjo dll.
Serangkaian tulisan ini bisa merupakan bantuan kepada banyak orang untuk
memperoleh informasi atau pandangan mengenai berbagai hal yang berkaitan
dengan peristiwa tersebut, yang berbeda dengan versi rejim militer Orde
Baru.
Tulisan bersambung ini juga disajikan berturut-turut dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm).
TOKOH G30S, BRIGJEN SUPARJO (8)
Dirancang
Untuk Gagal
Oleh: Harsutejo
Ia berasal dari Divisi Siliwangi, pasukan Suparjo lah yang telah berhasil
menangkap gembong DI Kartosuwiryo dan mengakhiri pemberontakan DI di Jawa
Barat. Kemudian ia ditugaskan ke Kostrad, lalu menjabat sebagai Panglima
Kopur II Kostrad di bawah Jenderal Suharto. Tokoh ini juga cukup dekat
dengan Suharto. Hampir dapat dipastikan bahwa tokoh ini pun, seperti kedua
tokoh sebelumnya yakni Letkol Untung dan Kolonel Latief, seseorang yang
memiliki kesetiaan tinggi kepada Presiden Sukarno.
Suparjo merupakan anggota kelompok yang biasa disebut kelompok Kolonel
Suwarto (Seskoad Bandung), yang di dalamnya terdapat Alamsyah, Amir Makhmud,
Basuki Rakhmad, Andi Yusuf, Yan Walandow. Yang terakhir ini seorang kolonel
yang ikut pemberontakan Permesta, kemudian menjadi pengusaha. Ia mempunyai
hubungan lama dengan CIA dan menjadi petugas Suharto dalam mencari dana dari
luar negeri. Ia pun anggota trio Suharto-Syam-Latief cs [Untung, Suparjo].
Begitu tulis AM Hanafi. Ketika Mayjen Suharto melakukan perjalanan ke
Kalimantan sebagai Wakil Panglima Kolaga, ia menyempatkan diri menemui anak
buahnya, Brigjen Suparjo. Sebagai komandan pasukan tempur dalam hubungannya
dengan konfrontasi terhadap Malaysia, Suparjo sangat risau terhadap korupsi
para pembesar militer AD dalam pengiriman suplai ke garis depan. Kenyataan
itu sangat mengurangi kekuatan dan semangat pasukannya bahkan membuat
frustasi. Malahan dia tidak memiliki pasukannya sendiri yang dapat
digerakkan dengan efektif.
Peran apa pula yang dimainkan olehnya selain yang telah diumumkan oleh
Mahmillub? Adakah ketiga tokoh militer ini secara sendiri-sendiri atau pun
bersama (serta sejumlah yang lain) telah masuk ke dalam perangkap yang
dipasang Syam atas skenario Suwarto-Suharto-CIA? Ia disebutkan sebagai
memiliki hubungan erat dengan tokoh yang selalu berada di mana-mana, Syam
Kamaruzaman. Sejauh mana apa yang disebut sebagai hubungan erat itu tidak
ada penjelasan lebih jauh. Perlu ditambahkan Brigjen Suparjo pernah
mendapatkan pendidikan militer di Amerika yakni di Fort Bragg dan Okinawa.
Tentulah pemilihannya selain berdasar kriteria di dalam negeri yakni pihak
AD, juga telah melalui seleksi ketat baku yang dikendalikan oleh CIA. Sampai
di mana tangan dinas rahasia CIA bermain dalam hubungan ini?
Di depan Mahmilub jenderal ini telah menantang agar bukan cuma G30S yang
diadili, tetapi juga Dewan Jenderal (DJ). Untuk itu ia siap membuktikan
keberadaan DJ, kegiatan mereka masa prolog yang menjurus pada peristiwa G30S
dan masa yang sama serta bahan-bahan setelah kejadian. Tentu saja permintaan
semacam itu hanya menjadi suara di padang pasir tanpa gaung dalam situasi
pengadilan penuh rekayasa serta tekanan politik dan penindasan fisik masif
rezim Orba. Sedang permintaan sederhana yang amat wajar dari Sudisman di
Mahmilub untuk menghadirkan Suparjo sebagai saksi tidak dipenuhi.
Ia pribadi yang disukai bawahannya, seorang militer yang setia kepada BK.
Ketika ditahan di RTM Budi Utomo, Jakarta, dalam keadaan diisolasi ia
mendapat simpati banyak orang, dari petugas maupun tahanan lain. Ia tidak
mau diistimewakan meskipun ia seorang jenderal. Ia membagikan kiriman yang
diterimanya kepada tahanan lain. Sikap dan tingkah lakunya pada hari-hari
terakhirnya di RTM sangat mengesankan, jantan, bermutu jenderal, sopan dan
ramah terhadap siapa pun. Demikian yang dicatat oleh Oei Tjoe Tat. Salah
seorang putra Jenderal Suparjo mengisahkan detik-detik terakhir sebelum dia
dieksekusi pada 16 Mei 1970. Ketika bertemu keluarganya, dia meminta mereka
menggenggam dan menghancurkan sebuah apel, lalu dia memberikan ke
masing-masing anaknya apel yang telah digigitnya untuk dihancurkan. Kalau
kalian terdiri dari kepingan-kepingan kecil, akan gampang dihancurkan. Tapi
jika kamu bersatu, mungkin akan hancur, tapi diperlukan kekuatan
besar........ Pada saat terakhir, Saya lihat ayah berjalan menuju tempat
eksekusi. Dia mengenakan baju olahraga putih yang menurut dia bisa sekaligus
untuk kafan. Ayah tenang berjalan menuju lapangan sambil menyanyikan lagu
Indonesia Raya Demikianyang ditulis Tempo 9 Oktober 2005.
Menurut ulasan David Johnson dari perjalanan karier ketiga tokoh G30S, maka
hubungan mereka bukan karena mereka tergolong perwira progresif, tetapi
karena keterpautan ketiganya dengan Jenderal Suharto. Selanjutnya penetrasi
intelijen AD dan CIA terhadap AU dan Yon Cakrabirawa sangat masuk akal
seperti halnya penetrasi terhadap PKI. Menurut penulis yang sama, ketiga
tokoh ini merupakan aktor komplotan yang cerdik dari rancangan CIA-Suharto.
Jika demikian halnya, CIA juga akan melancarkan operasi perlindungan dan
pemberian identitas baru bagi mereka untuk kemudian dimukimkan di luar
Indonesia, suatu prosedur standar CIA. Akan tetapi risiko besar akan
kebocoran menjadi lebih cocok jika mereka dilenyapkan setelah dimanfaatkan
David Johnson yang menulis makalahnya pada 1976 untuk keperluan penyelidikan
yang dilakukan oleh Komite Church pada Kongres AS seputar peran AS dalam
pembunuhan massal di Indonesia 1965/1966, luput mengamati peran cukup
penting sang agen yang sangat berpengalaman yang bernama Syam Kamaruzaman.
Sebagai diulas oleh Letkol (Pnb) Heru Atmodjo, jika G30S itu suatu gerakan
militer yang serius, [bukan sekedar dirancang untuk gagal, hs], seharusnya
dipimpin seorang jenderal seperti Brigjen Suparjo yang secara intelektual
maupun pengalaman lapangan memadai. Salah satu kupasan mutakhir sejarah G30S
ialah buku John Roosa (2007) yang menganalisis apa yang disebut sebagai
dokumen Suparjo yang juga dijuluki sebagai jenderal merah. [sayang
penulis belum berhasil mendapatkan buku ini]. Dalam buku Jenderal Nasution
(1988), dokumen ini telah diulasnya secara singkat, antara lain sbb: (1)
Tidak ada diskusi maupun rancangan Syam dkk menghadapi kegagalan gerakan,
semuanya beres, pasti menang; (2) Setelah gagal, mereka bingung, tidak ada
perintah jelas, pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa pun; (3)
Pasukan tidak mendapat makanan, bahkan ada yang minta ke Kostrad. Pasukan
meninggalkan RRI tanpa ada instruksi; (4) Rapat memutuskan menghentikan
perlawanan, masing-masing bubar, pulang, sambil menunggu situasi.
Dari butir pertama, Jenderal Suparjo memposisikan dirinya berada di luar
Syam dkk. Hal ini sesuai dengan kenyataan ia tidak ikut serta dalam
serangkaian pertemuan persiapan yang dilakukan Syam dkk. Dari butir ini dan
selanjutnya menjurus dan memperkuat kesimpulan, G30S dirancang untuk gagal.
(Petikan dari Harsutejo, Sejarah Gelap G30S, revisi).
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.35/1039 - Release Date: 29/09/2007
21:46