Berdasarkan pengamatan saya, orang yang super sibuk umumnya jarang, bahkan tidak lagi menonton TV. Mereka mengakses internet bisa 10 jam per hari. Sambil menjalani rutinitas kerja, mereka dapat berselancar ke situs-situs yang mereka sukai.
Mengingat responden dari penelitian Edelman Aspac ini adalah kalangan usahawan, tentu saja menonton TV bukanlah termasuk yang favorit. Selain mereka tak ada waktu menonton TV, tak semua stasiun TV menyajikan berita-berita bisnis. Di Indonesia, mungkin hanya Metro TV yang rutin menayangkannya. Lain hal kalau respondennya adalah ibu rumah tangga dan PRT, tentu saja TV adalah sumber informasi paling utama. TV Kalah Pamor Dibanding Internet JAKARTA, SABTU- Penelitian terhadap kalangan usahawan di Asia Pasifik menunjukkan bahwa media internet melampaui televisi sebagai sumber utama yang dipercaya untuk memperoleh berita dan informasi bisnis, sementara dominasi surat kabar sebagai informasi utama hingga kini belum tergoyahkan, demikian hasil temuan Edelman Asia Pasific dan dipublikasikan akhir pekan ini di Jakarta. Presiden Edelman Asia Pasific Alan VanderMolen ketika menjelaskan penelitian tersebut mengatakan, internet kini bukan lagi menjadi alternatif bagi media "mainstream" , tapi sudah menjadi media "mainstream" . Penelitian itu sendiri merupakan kajian tahunan Edelman yang dinamakan Asia Pasific Stakeholder Study dan dilakukan Harris Interactive Inc. Berdasar penelitian yang mencermati pendapat 1.050 pelaku usaha di Jepang, Korea, China, Hong Kong, Taiwan, India, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Australia itu, media internet menduduki urutan kedua setelah surat kabar. Surat kabar tetap menduduki posisi pertama selama dua tahun ini sebagai media yang bisa dipercaya dalam memberikan informasi. Posisi surat kabar meningkat dari 40 persen menjadi 43 persen. Sebaliknya untuk televisi justru terjadi penurunan dari 31 persen pada 2006 menjadi 25 persen pada 2007. Penurunan itu, menurut Alan, terjadi karena persaingan di televisi yang begitu tajam untuk memperoleh porsi iklan. Akibatnya, demi iklan banyak televisi yang kemudian melupakan untuk memberikan penyajian berita yang utuh. Banyak berita yang dibungkus dengan iklan, sementara televisi yang kalah memperoleh iklan pun tak mampu menghasilkan berita bermutu akibat dari tidak mampunya mereka memberi gaji yang cukup kepada para repoternya. Berdasarkan temuan Edelman, internet bukan hanya sebagai sumber informasi kalangan usaha, melainkan telah menjadi sarana dialog dengan para pengambil keputusan di sektor usaha. Ada indikasi bahwa hal yang sama juga berlaku di Indonesia. Untuk menekankan kekuatan dan pengaruh internet, responden dalam survei tersebut mengatakan bahwa mereka akan lebih mengandalkan internet suatu perusahaan daripada sumber informasai lain ketika mencari informasi mengenai perusahaan tersebut. Sumber informasi lain yang dihandalkan selain situs perusahan adalah informasi dari karyawan perusahaan tersebut, surat kabar, blog bisnis dan akhirnya siaran media elektronik. Temuan dari penelitian itu menunjukkan tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan di Asia Pasifik terhadap media meningkat, sebaliknya kepercayaan terhadap pemerintah dan NGO menurun, sedangkan kepercayaan terhadap perusahaan tetap sama. Untuk Indonesia sendiri, para pemangku kepentingan kurang percaya dengan kalangan usaha, tetapi tingkat kepercayaan tinggi terhadap institusi pemerintah dan LSM. (ANT/PEP) Copyright 2006 Kompas Group http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0709/29/174619.htm
