Tyas Soemarto 
TIDAK AKAN ADA KEKUASAAN YANG ABADI 
Minggu, 30 September 2007 pukul 14:35:46 WIB 
   Ini adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Tidak akan ada kekuasaan yang 
berlangsung seterusnya di muka bumi ini. Bila bukan rakyat, maka waktulah yang 
akan mengakhirinya secara alamiah. Jadi akhirilah tanpa cacat.

Sebutlah tokoh-tokoh dengan kekuasaan absolut yang bahkan menguasai separuh 
dunia, seperti Firaun, Jenghiz Khan hingga tokoh-tokoh sejarah modern seperti 
Adolf Hitler, semuanya tergulung dan kemudian lenyap. Baik oleh gelombang 
peradaban, maupun oleh waktu.

Padahal saat berkuasa, mereka merasa diri tak terlawankan, bahkan menyamai 
kekuatan tertinggi yang mereka percaya. Mereka bahkan mencoba melanggengkan 
kekuasaan tersebut, misalnya dengan Firaun yang membuat mumi dirinya.

Dalam dunia sepakbola profesional, selalu ada orang-orang seperti Firaun. 
Meniru sikapnya yang merasa paling benar dan tidak terbantahkan. Diego Maradona 
pada masa jayanya merupakan satu contoh. Ia menganggap dirinya adalah 
representasi dari sepakbola Argentina ataupun Napoli, klubnya di Italia. Ia 
tega untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya, termasuk rekannya 
semasa di junior, Ramon Diaz.

Maradona yang pada masa jayanya membawa Argentina menjadi juara dunia 1986 
serta masuk final Piala Dunia 1990, mencoba menerapkan ucapan Raja Prancis. 
Louis XIV, "L'etat c'est moi." (Negara adalah saya atau dibaca: Argentina 
adalah saya!").

Bagaimanapun manusia adalah makhluk ciptaan yang fana. Keistimewaan Maradona 
yang begitu fenomenal segera tersapu oleh merosotnya fisik yang tergerus jaman 
dan usia. Bintang-bintang baru bermunculan sebagai alternatif si El Pibe Del 
Oro, si anak ajaib.. Maradona tidak mampu lagi membawa Argentina dan Napoli ke 
kejayaan seperti masa lalu.

Merosotnya popularitas Maradona diperparah dengan post power syndrome yang 
menghinggapinya. Maradona mencari-cari lagi kejayaannya lewat hal-hal semu 
seperti obat bius dan alkohol maupun petualangan-petualangan seksnya. Namun 
sekali lagi, usia tidak bisa dibohongi, garis akhir telah membentang di 
hadapannya.

Contoh yang lebih baru adalah fenomena Jose Mourinho. Selama beberapa tahun, 
Jose Mourinho adalah kekuasaan tertinggi di tubuh klub Liga Premier, Chelsea. 
Ia mempunyai kekuasaan penuh dalam menentukan pembelian pemain, susunan pemain 
maupun skema permainan. Dan ia menjaganya dengan menghasilkan prestasi yang 
tentunya menyenangkan pemilik klub, Roman Abramovich.

Namun toh akhirnya terbukti kekuasaan itu hanyalah mandat. Pemberinya adalah 
rakyat atau pemilik modal. Mourinho tidak dapat lagi mempertahankan kekuasaan 
yang dimilikinya dan harus mengembalikan mandat tersebut ke klub untuk 
digantikan Avram Grant.

Membantah L'etat C'est Moi
Masalah sekarang adalah bagaimana membantah kebenaran ungkapan L'etat C'est Moi 
tersebut. Meski aneh, banyak orang yang mempercayai ungkapan ini sebagai hal 
yang benar.

Saat Louis XIV (1638-1715) mengungkap hal itu, ia selalu ingin memberi kesan 
bagaimana jadinya bangsa atau negara ini tanpa saya? Tidak heran karena ia 
berkuasa di Prancis selama 72 tahun! 

Sama dengan pertanyaan apa jadinya bangsa dan negara Indonesia tanpa Soekarno, 
saat ia mundur pada 1967. Atau apa jadinya India tanpa Nehru saat wafat 
1960-an. Bahkan, apa jadinya Indonesia tanpa Soeharto saat lengser setelah 
berkuasa selama 32 tahun?

Toh Prancis sekarang telah menjadi salah satu negara adidaya di dunia. India 
juga menjadi satu negara yang ditakuti di Asia. Sementara Indonesia, -meski 
babak belur- masih survive sebagai negara kesatuan.

Suatu institusi yang sehat harus mampu melanjutkan programnya tanpa bergantung 
kepada individu. Apakah individu itu bijaksana, kekeluargaan, dan sangat 
dicintai dan dihormati oleh anggotanya. Apalagi kalau individu tersebut adalah 
orang yang kekanak-kanakan dan sering bertindak hanya untuk memuaskan keinginan 
pribadinya.

Sepakbola Argentina memang tidak pernah meraih prestasi puncak seperti saat 
Mardona masih di dalamnya. Namun mereka kan pernah meraihnya tanpa Maradona 
pada 1978? Dengan Maradona pun mereka juga pernah gagal mengulangi prestasi 
juara pada 1990 dan 1994? Meski begitu, Argentina tetaplah kekuatan utama dunia 
sepakbola dan selalu masuk peringkat dunia versi FIFA.

Sepakbola Argentina tidak pernah mati tanpa Maradona. Pasca Maradona ada 
Gabriel Batistuta, Ariel Orgtega, Diego Simeone maupun Juan Veron. Sekarang 
bahkan muncul nama-nama muda seperti Lionel Messi yang membuat orang akan 
bertanya, "Siapa itu Diego Maradona?"

Avram Grant memang menghadapi masa sulit menangani Chelsea yang ditinggalkan 
Jose Mourinho. Di sana terdapat All Jose's Men seperti Didier Drogba atau pun 
Michael Essien. Ia harus menghilangkan kesan sebagai bayang-bayang Mourinho 
untuk kemudian menghasilkan The Blues yang kembali ditakuti.. Waktu dan 
kemampuan jualah yang akan membuktikannya.

Bulan suci Ramadhan ini adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk menyadari 
fitrah bahwa kita adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Sebesar apa 
pun kekuasaan yang kita miliki. Kekuasaan yang abadi hanyalah milik Tuhan. 
Kalau pun masih ada pimpinan yang terperangkap sindroma Louis XIV dan tidak 
ingin kehilangan kekuasaannya, inilah saatnya untuk introspeksi.

Kekuasaan adalah amanah dan pada saatnya nanti akan ditarik dari tangan kita. 
Akan lebih baik bila kita pada saatnya nanti melepas kekuasaan tersebut tanpa 
cacat daripada dianggap kerap berlaku dzalim.

Buat Rekan-rekan Redaksi BOLA & Pembaca Bolanews:
SELAMAT BERPUASA DAN IDUL FITRI!

[EMAIL PROTECTED] 
Tyas Soemarto



Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke