http://www.sinarharapan.co.id/berita/0710/01/opi01.html


G30S/PKI dan Teori Kebisuan Spiral

Oleh
Tjipta Lesmana



Setap orang umumnya mempunyai pendapat tentang persoalan atau masalah yang ada 
di sekitarnya. Pendapat tersebut bersumber pada (a) hasil interaksi sosialnya 
dengan orang lain, khususnya dengan peer group, dan (b) terpaan media massa. 


Dari kedua sumber ini, pada era modern yang ditandai oleh arus informasi yang 
begitu massif, pengaruh media massa lebih kuat daripada interaksi sosial dalam 
pembentukan opini kita. Pengaruh media massa begitu kuat, sehingga masyarakat 
modern, de facto, menjadikan media massa sebagai sumber utama informasi dan 
opini. 


Elizabeth Noelle Neumann, seorang sosiolog Jerman, melakukan penelitian 
intensif dan bertahun-tahun tentang korelasi antara terpaan media massa dan 
pembentukan opini publik. Hasilnya berupa sebuah teori yang kini dipakai oleh 
para teoretisi dan praktisi komunikasi massa di seluruh dunia. Teori itu 
bernama Spiral of Silence, teori kebisuan spiral.


Teori kebisuan spiral mengajarkan kita bahwa dalam masalah-masalah penting atau 
kontroversial, opini publik cenderung pecah menjadi dua, tiga, atau empat blok. 
Dalam proses pembentukan opini publik, dengan cepat dan mudah, kita akan 
menyaksikan munculnya opini mayoritas dan opini minoritas. Mereka yang berada 
dalam kubu minoritas cenderung "merapatkan barisannya" ke tepi, karena khawatir 
dihukum, entah dalam bentuk perasaan malu, dikucilkan, atau diancam secara 
fisik. 


Akibatnya, mereka menahan diri untuk tidak bersuara (membisu). Sebaliknya, 
mereka yang berada dalam kubu mayoritas biasanya bersuara keras, dan tampil ke 
depan secara mencolok. Makin keras suara mereka didengungkan kepada publik, 
tingkat kebenaran opininya seakan semakin tinggi. 


Makin tinggi kebenaran yang dikesankan oleh suara mayoritas, kelompok minoritas 
pun makin khawatir, bahkan makin takut, sehingga mereka semakin mundur ke 
belakang sehingga terbentuk kebisuan spiral. Lambat-laun, suara opini minoritas 
nyaris sirna. Yang muncul adalah kebenaran tunggal.

Bukan Berarti Mati


Tapi, hasil penelitian Neumann juga membuktikan bahwa itu bukan berarti 
pendapat minoritas telah mati. Secara aktif dan rahasia, orang-orang di kubu 
minoritas sebenarnya terus "bergerilya" untuk melancarkan komunikasinya, 
berusaha meyakinkan orang-orang sekitar tentang kebenaran opini mereka. 


Mereka yang berada dalam kubu mayoritas pun menjadi sasaran "gerilya 
komunikasi" tersebut, sepanjang mereka dinilai bisa diajak berdialog. Tidak 
mustahil, gerilya komunikasi ini lambat-laun membuahkan hasil, yaitu makin 
banyak orang yang menyeberang ke kubu minoritas. Pada suatu saat tidak mustahil 
terjadi keseimbangan opini, bahkan yang minoritas menjadi mayoritas, dan yang 
semula mayoritas justru menyusut menjadi minoritas.


Naik dan jatuhnya rezim Orde Baru merupakan salah satu contoh kasus paling 
bagus tentang kebenaran teori kebisuaan spiral. Selama Orde Baru, dominant 
opinion itu amat gamblang: bahwa pemerintahan Soeharto yang bertumpukan 
demokrasi Pancasila betul-betul demokratis, mekanisme kepemimpinan nasional 
lima tahunan adalah contoh dari demokrasi yang dimaksud, bahwa pers Indonesia 
bebas (Pancasila), bahwa rakyat bebas menyatakan pendapatnya, bahwa pembangunan 
ekonomi berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat dan lain sebagainya. 


Pendapat minoritas di luar itu praktis habis "dibunuh" dan mereka yang kokoh 
dengan pendapat minoritas pun akhirnya takut menyuarakannya; atau tidak lagi 
ada media yang berani menyuarakannya. Toh, pada akhirnya, sejarah berbalik. 
Pada akhirnya, opini mayoritas berhasil dihancurkan, dan opini minoritas 
bangkit sehingga menjadi opini mayoritas.


Selama Pak Harto berkuasa, kebenaran cerita tentang Gerakan 30 September/PKI 
cuma satu, yakni tragedi itu merupakan kudeta bersenjata Partai Komunis 
Indonesia (PKI) yang dibantu oleh sejumlah perwira ABRI yang sudah lama 
disusupi oleh kader-kader PKI. Tujuannya jelas, menumbangkan kekuasaan Soekarno 
untuk kemudian mendirikan pemerintahan komunis di Indonesia.

Opini Rontok
Kira-kira tiga atau empat tahun setelah G30S/PKI pecah, sejumlah ilmuwan di 
Cornell University, Amerika, sebenarnya, mempublikasikan hasil penelitian 
mereka. Menurut mereka, G30S/PKI merupakan konspirasi banyak faktor, internal, 
maupun eksternal. 


Yang paling utama adalah keterlibatan Amerika untuk menghancurkan rezim 
Soekarno yang dinilai sangat antibarat, khususnya anti-Amerika. Melalui operasi 
clandestine CIA, Washington diam-diam memberikan bantuan dana maupun logistik 
kepada perwira-perwira probarat. 


Tatkala jenderal-jenderal pro-Amerika ini tewas dibantai oleh perwira-perwira 
muda pada 1 Oktober 1995 dini hari, dan ketika Mayjen Soeharto dengan cepat 
tampil untuk menghancurkan G30S/PKI, Amerika pun dengan cepat memberikan 
dukungannya kepada Soeharto. 


Versi Cornell Papers ini dijegal oleh penguasa Orde Baru, karena ia 
bertentangan dengan dominant opinion yang sudah diset oleh Orde Baru. 


Namun, setelah Orde Baru rontok pada Mei 1998, dengan sendirinya opini dominan 
tadi rontok pula. Dewasa ini, rakyat Indonesia disuguhkan oleh macam-macam 
versi G30S/PKI. Paling sedikit terdapat 6 versi yang bisa kita analisis, yaitu 
G30S/PKI (a) sesungguhnya didalangi oleh Soeharto; (b) hasil konspirasi 
berbagai elemen internal maupun eksternal Indonesia, terkait pula dengan 
suasana perang dingin waktu itu; (c) diarsiteki oleh CIA, (d) sepenuhnya 
masalah internal ABRI, tepatnya perseteruan antara perwira-perwira progresif 
dan reaksioner (baca: pro-kapitalis); (e) didalangi oleh Soekarno dan (f) 
gerakan murni PKI dengan sasaran akhir mengkomuniskan Indonesia. 


Semakin lama proses pembentukan opini tentang G30S/PKI bergulir, semakin 
mengkristal pula opini dominan dalam masyarakat, yaitu Seoharto-lah dalang 
pemberontakan bersenjata itu. Tapi, hingga kini diakui pergulatan untuk 
membentuk satu opini dominan mengenai G30S/PKI masih berlangsung sengit, sebab 
mereka yang konsisten menganut opini dominan pada masa Orde Baru masih besar 
jumlahnya. 


Buktinya, upaya sisa-sisa PKI, atau generasi penerus PKI, untuk bangkit kembali 
di permukaan masih menghadapi hambatan dan tantangan serius. Bagaimana hasil 
akhir dari pergulatan opini ini, sebagian besar tergantung pada sikap penguasa. 
Sebab bukan rahasia lagi, kebenaran selalu ada di tangan yang berkuasa...! 
Aspek ini yang rupanya tidak dilihat oleh Neumann dalam teori kebisuan 
spiralnya.

Penulis adalah seorang kolumnis.

Kirim email ke