www.bantenlink.com
  edisi : 02 Oktober 2007
  
  Presiden                       Minta Banten Beri Rasa Aman Pada Investor
  
                                                        Serang —                
           Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono minta Pemerintah               
            Provinsi (Pemprov) Banten memberikan rasa aman terhadap             
              investor yang akan menanamkan modalnya di Provinsi                
           Banten. Tanpa rasa aman itu, Banten tak akan banyak                  
         dilirik oleh para investor.
  
  
  
  Oleh :                      Mdika / Hambali
  
                          Dalam sambutanya, Presiden                       
menyatakan, tujuan menjaga iklim investasi agar bisa                       
menggali semua potensi yang ada di Provinsi Banten. Sebab,                      
 kalau daerah Banten tidak nyaman maka invetor tidak akan                       
datang ke Banten. 
                                                “Tidak mungkin investor datang  
                     bila sedikit-sedikit aksi, sedikit-sedikit bakar-bakaran,  
                     investor juga akan memilih pergi ke daerah lain yang       
                menawarkan kondisi yang lebih aman,” kata Susilo Bambang        
               Yudhoyono pada acara launching penulisan Mushaf Al-Quran Al      
                 Bantani yang sekaligus merupakan rangkaian safari ramadhan     
                  Presiden RI di Aula Setda Pemprov Banten, Senin (1/10).
                                                Presiden membenarkan jika       
                Gubernur Banten, Atut Chosiyah memintanya untuk memberikan      
                 kesempatan kepada Provinsi Banten untuk menggali potensi       
                seluas-luasnya dengan cara mendatangkan investor ke sini.       
                Dia meyakinkan, daerah Banten akan menjadi wilayah yang maju    
                   dan sejahtera. Asalkan, semua elemen masyarakat bersatu padu 
                      membangun secara bersama-sama. “Provinsi Banten 
potensinya                       sangat tinggi, baik dalam pertanian, industri 
dan jasa.                       Apabila dioptimalkan oleh semua pihak, saya 
yakin Banten                       akan maju,” katanya.
                                                Apalagi, katanya, Provinsi      
                 Banten sebagai pintu gerbang yang menghubungkan kota-kota      
                 besar seperti DKI Jakarta dan juga kota-kota besar lainya di   
                    Sumatera, akan mudah bagi Provinsi Banten untuk             
          mengambangkan daerahnya. “Saya terus mendorong agar investor          
             masuk ke Banten,” terangnya.
                                                Selain itu, Presiden juga       
                meminta, kalau ada maslaah yang terjadi di masyarakat lebih     
                  baik diselesaikan dengan cara damai bukan dengan kekerasan.   
                    Karena kata dia,  kekerasan bukan karakter bangsa Indoesia. 
                      “Kekerasan bukan karakter islam dan bangsa Indonesia,”    
                   katanya. 
                                                Sementara itu, Gubernur Banten, 
                      Atut Chosiyah menyatakan, meminta kepada presiden         
              menindaklanjuti perkembangan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang      
                 rencanya akan dibangun oleh Provinsi Banten dan Lampung.       
                “Saya sangat senang, Bapak Presiden, menanyakan perkembangan    
                   JSS,” kata Atut.
                                                Menurutnya, JSS itu sendiri 
akan                       menghubungkan antara Pulau Jawa dan Sumatera, dengan 
panjang                       29 Km itu diprediksi akan menghabiskan biaya 
sekitar Rp 90                       triliun. Kata Atut, Rencananya, dalam bulan 
ini kesepakatan                       pembangunan JSS akan ditandatangi, antara 
dua provinsi                       Banten dan Lampung serta pihak investor. 
“Pembangunan JSS                       sendiri semoga diperhatikan serius oleh 
Presiden, karena                       pembangunan JSS bisa untuk pemerataan 
pembangunan,” terang                       Atut.
                                                Atut juga mengatakan, Provinsi  
                     Banten saat ini memiliki rencana membangun Kawasan Ekonomi 
                      Khusus (KEK) yang ada di Kawasan Bojonegoro, Kabupaten    
                   Serang dan Pembuatan Waduk Karian di Kabupaten Lebak,        
               Banten.  “Kami juga terus menggali sumber daya alam,             
          diantaranya pertambangan dan pertanian,” ujarnya.
                                                Di akhir                       
acara SBY menyerahkan secara simbolis pengerjaan Mushaf                       
Al-Quran, Al-Bantani, selama tiga tahun, oleh Majlis Ulama                      
 Indonesia Banten yang yang disaksikan oleh ratusan ibu-ibu                     
  dari majelis taklim se-Provinsi Banten yang hadir para acara                  
     itu. (nr)
  
  
  
  Membangun                       Jembatan Selat Sunda Di Daerah Rawan Gempa
  
                                                        Serang —                
           Wacana pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) yang                   
        diusung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Lampung                
           dengan biaya Rp 90 triliun sesungguhnya membuat gamang               
            pemerhati lingkungan dan gempa. Sebab jembatan itu                  
         berada di perairan yang memiliki potensi besar                         
  terjadinya gempa, terutama masih aktifnya anak Gunung                         
  Krakatau.
  
  
  
  Oleh :                      Rahman
  
                          “Tidakkah para ahli pembangunan                       
jembatan itu memperhitungkan titik-titik dan potensi gempa                      
 yang memiliki kemungkinan besar untuk terjadi. Meski                       
dikatakan rancangan jembatan itu dibuat tahan terhadap                       
gempa, saya tidak terlalu yakin,” kata Np Rahadian, Direktur                    
   Eksekutif LSM Rekonvasi Bhumi dan Suhada, Direktur Eksekutif                 
      Aliansi Lembaga Independen Peduli Publik (Alipp) yang                     
  dihubungi SH, secara terpisah, Senin (1/10).
                                                Rahadian menegaskan, status     
                  waspada (level I) anak Gunung Krakatau hingga sekarang tidak  
                     pernah dicabut, bermakna gunung ini masih aktif. Yang 
lebih                       mengkhawatirkan adalah akhir-akhir ini sering 
terjadi gempa                       yang berpusat di Ujungkulon, tak jauh dari 
perairan Selat                       Sunda. Kekuatan gempa berkisar 5-6 skala 
richter (SR).                       “Gempa ini bisa memicu aktivitas magma anak 
Gunung                       Krakatau,” ujarnya.
                                                Dia juga mengingatkan, Selat    
                   Sunda berada di atas zona subduksi lempeng Indo-Australia    
                   dan Eurasia serta zona transisi subduksi miring yang         
              memanjang di sebelah barat Pulau Sumatera dengan subduksi         
              tegak di sebelah selatan Pulau Jawa. Gempa yang terjadi di        
               Selat Sunda bisa dipicu pelepasan energi dari penunjaman         
              lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan              
         kecepatan 6 centimeter per tahun di bawah Selat Sunda atau             
          dari aktivitas patahan yang masih sangat aktif sampai                 
      sekarang.
                                                Misalnya guncangan keras gempa  
                     berkekuatan 6,2 Skala Richter yang terjadi Rabu 
(19/7-2007)                       dirasakan hingga Jakarta. Pusat gempa di 
Selat Sunda,                       tepatnya Pulau Panaitan di selatan Ujung 
Kulon pada                       koordinat 6,54 derajat Lintang Selatan dan 
105,2 derajat                       Bujur Timur di kedalaman 48 kilometer, 
namun getarannya                       terasa di Jakarta hingga 3 MMI. “Gempa 
sebenarnya sering                       terjadi di sana, hanya tak banyak 
dieskpose media,” ujarnya.
                                                Mengutip pendapat Dany Hilman   
                    Natawijaya, pakar gempa dari LIPI, katanya, perairan Selat  
                     Sunda termasuk kawasan seismic gap. Kawasan seismic gap    
                   merupakan daerah dengan zona rawan seismik, tetapi sudah     
                  lama tidak terjadi gempa kuat. Berdasarkan pengalaman         
              sejarah dan teori gempa, gempa dahsyat akan terjadi di            
           kawasan seismic gap.
                                                Daerah ini biasanya berada di   
                    antara dua titik lokasi kejadian gempa besar yang pernah    
                   terjadi atau memang berada di suatu kawasan yang benar-benar 
                      sepi gempa dalam waktu yang relatif lama. Daerah yang 
sepi                       gempa seperti ini secara tektonik justru merupakan 
zona                       rawan. “Dan harap diingat, gempa dahsyat sudah lama 
tidak                       terjadi di Selat Sunda sejak meletusnya Gunung 
Krakatau                       tahun 1888,” ujarnya. 
                                                 
                                                Nota Kesepahaman                
      
                                                Meski kritik soal itu gencar,   
                    Pemprov Banten dan Lampung tetap akan melangsungkan         
              penandatanganan nota kesepahaman kedua Pemprov itu dengan         
              Tommy Winata, pemilik PT Artha Graha di sebuah kapal pesiar       
                yang renacananya akan berlangsung, Rabu (3/10). Padahal         
              Menteri Perhubungan RI, Jusman Syafii Djamal minta agar nota      
                 kesepahaman itu ditunda.
                                                “Saya senang Bapak Presiden     
                  menanyakan soal JSS,” kata Atut Chosiyah, Gubernur Banten     
                  seusai menerima kunjungan Presiden RI, Susilo Bambang         
              Yudhoyono, Senin (1/10). Dia membenarkan, nota kesepahaman        
               itu tetap akan dilangsungkan sesuai dengan rencana.
                                                Atut mengemukakan, Jembantan    
                   Selat Sunda nantinya memiliki panjang 29 Km dengan lebar     
                  lebih 60 meter, terdiri dari 6 jalur mobil, 1 jalur kereta    
                   api dan 2 jalur sepeda motor. Jembatan ini melintas 3 pulau  
                     masing-masing Pulau Prajurit, Sanghiyang dan Pulau Ular.   
                    Jembatan ini dirancang tahan terhadap gempa, terutama gempa 
                      yang menimbulkan tsunami. “Jadi kekhawatiran soal daerah  
                     gempa itu sudah diantisipasi dengan rancangan yang kuat,”  
                     katanya, seraya menambahkan biaya dihabiskan diperkirakan  
                     mencapai Rp 90 triliun.
                                                Namun Mantan Calon Wakil        
               Presiden (Cawapres) Siswono Yudo Husodo menilai proyek           
            pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan           
            antara Pulau Sumatera dan Jawa dengan bernilai 10 miliar US$        
               atau setara dengan Rp 90 trilun dinilai terlalu mahal.
                                                Pasalnya, menurut               
        hitung-hitungan  proyek JSS yang telah digagas sejak tahun              
         1963 tersebut hanya akan menelan biaya tidak lebih dari Rp             
          40 triliun. “Berdasarkan hitung-hitungan saya, JSS hanya              
         akan  membutuhkan biasa Rp 39-40 triliun saja,” kata                   
    Siswono, Minggu (16/9)  lewat telpon genggamnya.
                                                Dia menjelaskan, jembatan yang  
                     telah digagas pada saat dirinya menjadi mahasiswa itu 
adalah                       program yang sangat baik untuk peningkatan 
perekonomian dan                       proyek percontohan setelah Jembatan 
Surabaya dan Madura                       (Suramadu). “Kita harus dukung 
gagasan besar itu, karena                       dampaknya sangat signifikan 
jika JSS jadi direalisasikan,”                       katanya.
                                                Sedangkan Heru Wasesa Dharsono, 
                      anggota tim pra studi Jembatan Selat Sunda tahun 
1994-1997                       dalam jembatanselatsunda.blogspot.com menulis, 
ide pembuatan                       jembatan ini berasal dari Prof Sedyatmo 
sejak tahun 1960-an.                       Pada tahun 1986, pemerintah dan 
swasta mengkaji proyek                       Trinusa Bimasakti, yaitu membuat 
jembatan di Selat Sunda.                       Sayangnya, proyek ini kandas di 
tengah jalan karena                       Indonesia dilanda krisis ekonomi 
sejak tahun 1997.                       
                                                Kini ide                       
pembangunan Jembatan Selat Sunda yang kemudian dikenal                       
dengan nama JSS kembali diusung Pemprov Banten dan Lampung                      
 dan menggandeng Tommy Winata, konglemarat yang memiliki PT                     
  Artha Graha. Namun pertanyaan yang tak kunjung terjawab                       
adalah benarkah jembatan ini dirancang mampu mengantisipasi                     
  gempa yang kuat dan tsunami?.                      (nr)
  
  
  Klik disini untuk Arsip Berita
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke