Mungkin sudah belasan tahun atau puluhan tahun kita menjadi insan
muslim. Namun dengan bilangan waktu yang sedemikian banyaknya tersebut,
apakah kita sudah berIslam dengan urutan dan tata cara yang benar ?
Jika jawabannya adalah belum, maka sungguh ironis hal tersebut.
Berapakah waktu yang telah kita sediakan untuk merenungi perjalanan
yang telah kita lalui sebagai seorang insan muslim ? Jawabannya
terserah pada diri kita masing-masing.

Alhamdulillah, jika kita sekarang mulai sadar. Lihatlah benar-benar
pada diri kita masing-masing ! Apakah kita memang telah telah berIslam
dengan cara yang benar, memulainya dengan cara yang benar ? Atau kita
cuma ikut-ikutan dengan adat kebiasaan orang tua, teman, atau
masyarakat sekitar tanpa tahu hakikatnya ? Sehingga ujung ajaran Islam
kita tidak tahu, pangkalnya pun tak kenal.

Lalu sebenarnya bagaimana cara berIslam yang benar ? Lebih khususnya
bagaimana cara memulai berIslam yang benar itu ?

Sebenarnya, pertanyaan ini sangat relevan untuk dikemukakan terhadap
diri kita. Alhamdulillah, Islam kini telah menyebar di mana-mana.
Seruan untuk menegakkan sholat selalu berkumandang di mana-mana.
Perintah untuk berinfaq disampaikan di setiap pengajian. Kewajiban
berbakti pada orang tua selalu disampaikan di TPA-TPA.  Perintah
ini-itu tersebar di mana-mana.  Sangat mungkin sekali seseorang yang
baru melangkah ke jalan Islam akan bingung melihat begitu banyaknya,
lengkapnya, dan sempurnanya ajaran Islam. Ia tidak tahu mana yang harus
ia lakukan lebih dulu. Naik hajikah ? Atau membayar zakat maal yang
belum ia bayar dulu ? Atau mewakafkan tanah untuk masjid ? Mungkin
sekali ia bertanya, " Saya bingung dengan banyaknya perintah dalam
Islam. Apa yang harus saya lakukan pertama kali untuk menegakkan ajaran
Islam pada diri saya ?"

Itulah masalahnya. Bagaimana mengawali berIslam yang benar itu ? Inilah
jawabannya : Masalah yang sangat mendasar dan yang pertama kali harus
dilakukan untuk menapaki Islam dengan cara yang benar adalah: Mencari
ilmu tentang Islam itu sendiri, secara ringkas adalah : belajar Islam
dulu sebelum mengamalkannya.

Saking pentingnya ilmu tentang Islam itu, maka Rasululloh shallallaahu
'alaihi wa sallam mewajibkannya pada setiap muslim dalam sebuah hadits
yang artinya: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR: Ibnu
Majah, sanadnya hasan).

Karena pentingnya ilmu Islam tersebut dan keharusan menjadikan ilmu itu
sebagai awal dari segalanya, maka Imam Bukhory menulis satu bab
tersendiri tentang hal tersebut, yaitu : " Bab : Ilmu itu didahulukan
sebelum berucap dan berbuat". Beliau berdalil dengan firman Alloh
subhaanahu wa ta'alaa, yang artinya: "Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa
sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak  untuk disembah kecuali
Alloh... (QS: Muhammad: 19).

Secara akal sehat, memang benar pernyataan Imam Bukhory tersebut. Lihat
saja, bagaimana mungkin seseorang bisa menegakkan sholat dengan benar
padahal ia belum belajar bagaimana tata cara sholat yang benar
tersebut. Bagaimana dia bisa berwudhu dengan benar sedangkan ia tidak
pernah mau belajar bagaimana tata cara wudhu yang benar ? Bukankah
orang yang mau belajar itu pasti lebih tahu dan lebih benar tata
caranya daripada orang yang tidak pernah  belajar? Maka suatu hal yang
tidak akan pernah terbantahkan lagi bahwa menuntut ilmu agama dan
mempelajarinya itu merupakan awal penegakan Islam, sebelum beramal dan
berdakwah.

Pengertian keharusan mendahulukan ilmu sebelum beramal dan berdakwah
tidaklah mewajibkan setiap muslim untuk menjadi seorang ulama yang
faqih (paham) dalam semua masalah agama lebih dulu baru beramal dan
berdakwah, namun yang dimaksudkan adalah: sebelum kita mengamalkan
suatu amalan agama atau meyakini suatu keyakinan dalam agama, kita
harus mengetahui bahwa amalan atau keyakinan tersebut ada dasarnya
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pengetahuan kita terhadap dasar amalan
atau keyakinan tersebut sudah mencukupi bagi kita untuk mengamalkan
amalan atau keyakinan tersebut, namun jika kita bisa menghafalkannya
itu lebih baik.

Namun ironisnya, sangat sedikit sekali orang yang memperhatikan masalah
ini (mendahulukan berilmu sebelum beramal dan berdakwah). Bahkan
sedikit sekali para da'i yang menekankan masalah ini kepada umat.
Mereka menyampaikan perintah sholat, puasa, kewajiban ishlah (perbaikan
keadaan umat), ekonomi Islam, politik Islam, bahkan sampai bagaimana
mendirikan negara Islam, tapi hanya segelintir orang yang menyampaikan
bahwa ilmu itu harus diraih lebih dulu sebelum beramal dan berdakwah.

Akibat dari hal itu  adalah makin merebaknya penyimpangan -penyimpangan
dalam amaliyah Islam dan dakwah Islam. Karena umat tidak pernah
memperhatikan pentingnya ilmu sebelum beramal, maka yang terjadi adalah
mereka bersemangat dan berlomba-lomba untuk beramal tapi tanpa didasari
ilmu. Sehingga banyak sekali amalan-amalan yang tidak pernah ada
sumbernya dari Al-Qur'an dan As-Sunnah namun dipraktekkan oleh
mayoritas umat Islam. Padahal Alloh subhaanahu wa ta'alaa berfirman,
yang artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya." (QS: Al-Israa': 36).

Dalam ayat ini tersiratlah pemahaman bahwa Alloh subhaanahu wa ta'alaa
telah melarang kita untuk mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui
keadaannya. Bukankah beramal tanpa mengetahui benar atau tidaknya
amalan tersebut termasuk dalam larangan Alloh tadi ?

Yang lebih parah lagi ialah munculnya da'i-da'i yang tidak mempunyai
ilmu yang cukup untuk berdakwah. Mereka sudah ngalor-ngidul
ngetan-ngulon berdakwah, baik di TPA, pengajian remaja, pengajian
bapak-bapak, ibu-ibu, khotbah Jum'at, dan lain-lain, tapi ketika
ditanya, " Apa saja rukun 2 kalimat syahadat? " ia jawab " Tidak tahu,
mas.." Padahal 2 kalimat syahadat itu merupakan awal dari segala awal
permasalahan agama. Semua amalan dan keyakinan agama pada dasarnya
berpijak pada 2 kalimat tersebut. Jika awal dan dasar agama saja tidak
paham, bagaimana dapat menegakkan Islam dengan benar? Bagaimana umat
akan menjadi baik jika da'i yang membimbing umat saja tidak memahami
Islam? Lalu apa yang ia dakwahkan? Jangan sampai terjadi seorang da'i
tidak mau belajar Islam dengan benar sehingga malah membuat pemahaman
sendiri tentang Islam kemudian ia dakwahkan padahal pemahaman yang ia
buat malah menyimpang dari pemahaman yang benar. Na'uudzu billaahi min
dzaalik!

Maka marilah kita bersadar diri! Bersegeralah untuk memulai Islam
dengan cara yang benar, mulailah dengan mencari tahu tentang Islam,
mulailah dengan membaca ilmu-ilmu agama, mencari dasar-dasar amalan
yang jelas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Hadirilah majelis-majelis
pengajian, simaklah firman Allah, sabda Rasul dan perkataan ulama, dan
pahamilah maknanya serta introspeksi diri, apakah apa yang telah kita
amalkan dan yakini selama ini benar-benar ada dasarnya dalam Al-Qur'an
dan As-Sunnah. Marilah kita raih ilmu, untuk selanjutnya kita amalkan
dan dakwahkan! Wallaahu a'lam.

(Sumber Rujukan: Tiga Landasan Utama, Syaikh Muhammad At-Tamimy)
www.mediamuslim.info


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info)
Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan 
email ke [email protected]

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke