Mohon maaf, kalau tidak salah tulisan tersebiut adalah "resonansi republika" yang ditulis oleh Ahmad Tohari, bukan Ahmad Sobari.
Terima kasih, Wassalam, _________________________________________________________________________ > Salam, > > Semoga tulisan ini bisa mnambah warna dalam diskusi di forum ini > > Republika, Senin, 12 Februari 2007 > > Kita Memberhalakan Agama? > > > Saya sempat mengkhawatirkan nasib Muhajir, seorang teman di Jakarta > yang lama tidak ada kontak. Jangan-jangan dia jadi korban banjir yang > membenamkan Jakarti akhir-akhir ini. Alhamdulillah, ternyata dia > baik-baik saja. Bahkan kemarin dia kirim SMS dan sama sekali tidak > cerita soal banjir. Dalam SMS-nya Muhajir cerita: "Ada seorang pendeta > kencing di dekat patung Budha. Ketika murid-murid mempermasalahkannya, > si pendeta menjawab, 'memang saya harus kencing di mana?' Di musim > dingin, pendeta kehabisan kayu api. Maka dia jadikan patung kayu itu > sebagai bahan bakar. Ketika para murid mempermasalahkannya, si pendeta > bilang, 'patung yang bisa terbakar bukan Budha." > > "Apa tanggapan kamu?" tanya Muhajir. > "Saya suka cerita ini. Menurut saya, si pendeta sedang melakukan semacam > dekonstruksi terhadap simbolisme agama." > "Bagus, jadi kamu suka cerita saya?" Sambung Muhajir. "Saya juga suka, > maka cerita itu saya sampaikan ke kamu." > > "Ya, terima kasih." > > "Jangan cuma terima kasih. Cerita itu saya sampaikan dengan maksud > agar kamu mau mengulasnya. Sebab di tengah kaum muslim pun yang namanya > simbolisme hampir-hampir menghijabi makna agama. Karena terjebak dalam > simbolisme maka banyak di antara kita telah menjadikan agama sebagai > berhala. Akhirnya, kita tidak mampu menghayati ruh agama yang berada di > balik simbol-simbolnya." > > > Saya tersenyum dan harus berfikir dulu sebelum membalas SMS Muhajir. > Ah, pikiran ikhwan ini harus dikritisi dulu. Kalau tidak, dia bisa > kebablasan. "Kamu jangan terlalu galak terhadap simbolisme. Karena, > bagaimana juga simbol dalam kehidupan beragama itu penting. Simbol > berupa bangunan masjid, ritus-ritus, lembaga, penampilan, bahkan nama > tetap diperlukan, antara lain untuk membangun identitas. Soal nama saja > misalnya; kamu mau bila cucu kamu diberi nama George Walter Bush?" > > > Karena hanya lewat SMS saya tidak tahu begaimana reaksi pada wajah > Muhajir. Tapi saya bisa bayangkan dia tersenyum. > > "Iya sih, dan saya bukan sedang mengatakan simbolisme sama sekali > tidak penting. Cuma, kita melihat saudara-saudara kita kaum muslim > sering berperilaku berlebihan dalam membela simbol-simbol keagamaan. > Karena simbolisme, kita juga sering tersesat dalam perasaan yang salah. > Misalnya, karena telah menjalankan rukun Islam secara lahir, dan telah > menjunjung simbol-simbol agama, maka kita merasa telah sampai kepada > tujuan akhir." "Memang tujjuan akhir keberagamaan kita apa?" tanya > saya. > > > "Kamu jangan meledek! Bukankah kamu yang dulu bilang tujuan akhir > keberagamaan kita adalah budi luhur alias akhlak karimah? Dan katamu > dulu, ridha ilahi - itulah tujuan terakhir keberagamaan kita - mustahil > tercapai di luar akhlak karimah." > > > "Ya, lalu?" > "Begini. Sekarang ini kita rasakan, dan kita lihat > gejalanya, simbolisme dalam keberagamaan kita sudah terlalu kental. > Kita giat membangun dan menyuburkan simbol-simbol tetapi kurang > perhatian terhadap penghayatan makna. Maka gejala yang muncul adalah > pembangunan fisik keagamaan yang menjamur, pelaksanaan ritual yang kian > subur, bahkan politik berbasis agaama yang kian heboh, namun..." > > > SMS Muhajir putus. Wah, mungkin karena kalimatnya sudah terlalu > panjang. Atau pulsanya habis? Karena tak sabar menunggu maka saya kejar > dia. Kebetulan pulsa saya masih penuh. > > "Namun, apa? Kamu jangan bikin orang penasaran." > "He-he, kamu > terpancing," jawab Muhajir setelah saya tiga "menit menunggu. "Begini. > Pembangunan dan penyuburan simbol kurang diimbangi dengan kesadaran > pengamalan makna keberagamaan. Apa itu? Ya budi luhur atau ahlak mulia > itu. Padahal tanpa akhlak mulia kita tidak mungkin bisa memenuhi amanat > besar yang sedang kita emban." > > > "Yakni amanat untuk membuktikan di dunia bahwa Islam benar-benar > merupakan rahmat atau cinta yang dilimpahkan Allah kepada seluruh alam. > Dan bila kita tidak berhasil membuktikan hal itu, artinya, dalam > beragama kita hanya terjebak dalam simbol dan melupakan makna. Atau > kita hanya sibuk mengurus jalan tapi mengabaikan tujuan. Dan > konsekuensi atas kegagalan ini akan mendatangkan kesulitan bagi kita di > dunia maupun akhirat. " > > > Wah, boleh juga pikiran ikhwan Muhajir ini. Saya jadi bingung > bagaimana menanggapinya dengan SMS. Namun sesungguhnya pikiran Muhajir > ini bukan barang baru. Sejak lama para cendekia muslim sudah sering > mengingatkan hal yang sama, bahwa simbolisme dan simbolisasi yang > berlebihan justru bisa mendangkalkan makna agama. Namun peringatan itu > seakan tidak mempan. Pemberhalaan terhadap agama seperti yang dikatakan > Muhajir masih tetap subur. Maka muncullah gejala di mana-mana; salam > (perdamaian), rahmat (kasih sayang), kejujuran, kedermawanan, dan > nilai-nilai akhlak karimah lain justru masih gersang di tengah > masyarakat yang mayoritas muslim ini. > > > Banyaknya orang yang melakukan kewajiban shalat belum mengurangi > tindak keji dan mungkar. Setiap tahun ratusan ribu orang pergi haji, > namun nilai-nilai kedermawanan tetap tidak berkembang. Sebaliknya, > nilai-nilai keakuan malah kian menguat. > > > "He, kok kamu tidak membalas SMS saya? Kamu kan belum mengulas cerita > tentang pendeta itu?" > > "Saya tak akan mengulas cerita itu karena kamu telah melakukannya > sendiri dengan lebih baik. Ya, simbolisme dalam kehidupan agama memang > tak bisa dihindarkan. Namun saya setuju, simbolisme itu jangan sampai > terlalu jauh menjadi pemberhalaan terhadap agama. Karena kita hanya > beribadah kepada Allah, bukan apa pun selain-Nya." > (Ahmad Tohari ) > > Sukron > -f- > > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Never miss an email again! > Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. > http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/ > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu "Media Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected] ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah menggambarkan www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian satu-per-satu. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi http://groups.google.com/group/mediamusliminfo Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
