Semoga hal itu membuat engkau rajin bersedekah, dan jumlahnya ditingkatkan.



Pada tanggal 28/06/07, dhienhie sutrisno <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>  Membaca mail ini mengingatkan ana pada kejadian yang mengajarkan kita
> untuk semakin percaya kepada kebesaran Allah.
> Suatu pagi saat hendak ke kantor...ana bingung....karena waktu hendak
> pergi cuma punya duit Rp. 5.000 saja. Mau minta suami, suami pun dalam
> kondisi yang hampir sama. Akhirnya dengan bismillah ana berangkat bonceng
> suami.
> Ditengah jalan hujan turun. lumayan gede. saat itu ana berdo'a dalam hati
> "Ya..Allah Engkau turunkan hujan, yang dengan hujan itu maka Kau suburkan
> bumi...maka berilah hamba-Mu ini rejeki yang halal dan baik."
> Tidak lama ana  liat pemulung..sudah tua...kedinginan pula. Saat itu ana
> pengen banget shodaqoh..tapi duit tinggal semata wayang, ana yakin
> syaithon..pasti sedang berbisik-bisik di hati ana..dan Ana harus memenangkan
> pertempuran dengan syaithon....
> Ana shodaqoh kan semua uang yg tersisa....
> Sampai di kantor hampir jam makan siang..
> Tiba-tiba ana bertemu mantan Boss yang pernah ana urus kenaikan
> pangkatnya..
> Tau-tau dia kasih ana sejumlah uang yang jumlahnya 100x lipat dari uang yg
> ana beri ke pemulung tadi pagi...
>
> Subhanallah.......................................................................................
>
> Dari Sahl bin a'ad Radhiyallahu 'anhu bahawasanya Rasulullah Shallallahu
> 'alaihi wasallam bersabda.
>
> "Ertinya : Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa ketika waktu adzan dan
> doa ketika waktu hujan". (Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi
> 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' No. 3078).
>
> Imam An-Nawawi berkata bahawa penyebab doa pada waktu hujan tidak ditolak
> atau jarang ditolak ialah kerana pada saat itu sedang turun rahmat khususnya
> curahan hujan pertama di awal musim. (Fathul Qadir 3/340).
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Johan Indra Kelana <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, June 27, 2007 12:59:20 PM
> Subject: [mediamusliminfo] Re: Assalamualaikum
>
>
>
>  *Matematika Gaji dan Logika Sedekah *
>
> *22 Jun 07 17:14 WIB*
>
> *Oleh A. Muttaqin*
>
> Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang
> biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang
> menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah
> perbincangan kami mengalir lancar.
>
> Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram
> sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi,
> saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu.
> Melainkan dari pria ini.
>
> Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena
> penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang
> saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan.
> Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang
> dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali
> perbincangan yang kami bangun.
>
> Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi
> dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan
> sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir
> tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya
> pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan
> Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat
> nilai di balik materi.
>
> Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai
> seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki
> tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering
> pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi
> berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa
> mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah
> yang diterimanya.
>
> "Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi
> non matematis dan di luar angka-angka logis."
>
> "Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"
>
> "Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit.
> Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya
> nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan
> berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."
>
> "Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana
> mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa
> berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
>
> "Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar
> dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang
> sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita
> berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"
>
> "Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.
>
> "Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan
> seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."
>
> Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada
> jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang
> seribu rupiah? Dari mana sisanya?
>
> "Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah
> diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
>
> "Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah
> tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang
> seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa'
> keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita.
> Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat
> malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi
> penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi.
> Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."
>
> Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya.
> Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup
> di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah
> menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan
> orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya
> sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi
> dan berbagi.
>
> Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola
> hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin
> menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi
> kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya,
> dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya.
> Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah
> akan menggantinya berlipat-lipat.
>
> "Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis
> dengan dimensi sedekah itu?".
>
> "Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi
> sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan
> gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan
> lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan
> syukur". Saya semakin tertegun
>
> Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan.
> Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan
> saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada.
> Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme
> kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah
> lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui
> pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain
> yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.
>
> ***
>
> Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu
> saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya.
> Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy.
> Allah mengingatkan saya kembali:
>
> *"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
> hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
> tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
> (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)
> lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)*
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> Got a little couch potato?
> Check out fun summer activities for 
> kids.<http://us.rd.yahoo.com/evt=48248/*http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz>
> >
>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke